Selasa, 16 Juni 2009

Laporan Diklat Peneliti DEPAG Jakarta

Laporan Mengikuti Pendidikan dan Pelatihan
Peningkatan Keterampilan Peneliti Bidang Kehidupan Keagamaan
(disingkat diklat peneliti)
Oleh : Pdt.Karolina Augustien Kaunang, M.Th

1. Pelaksana : Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI Jakarta
2. Tempat : Kampus Pusdiklat Departemen Agama. Jln.Ir.H.Juanda, No.37 Ciputat
3. Waktu : 7 sampai 16 Juli 2008
4. Tujuan :
- Menambah keterampilan peneliti dalam menulis laporan hasil penelitian yang
memenuhi standar akademik, dan memiliki kemampuan menganalisis laporan
penelitian yang telah dibuat dengan menggunakan pendekatan dan metodologi
yang jelas.
- Mengasah kemampuan akademik para peneliti dalam menampilkan hasil penelitian
yang layak muat di berbagai jurnal ilmiah, sehingga memiliki nilai kompetitif yang
tinggi dan bisa ditampilkan dalam forum-forum ilmiah.
5. Peserta : 30 orang : 24 laki-laki dan 6 perempuan

NO.
UNIT KERJA
JUMLAH
1
Puslitbang Kehidupan Keagamaan
7 org
2
Balai Litbang Agama Jakarta
2 org
3
Balai Litbang Agama Semarang
2 org
4
Balai Litbang Agama Makassar
2 org
5
STAIN Metro Lampung
1 org
6.
STAIN Kendari
1 org
7
STAIN Samarinda
1 org
8
STAIN Bengkulu
1 org
9
Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar
1 org
10
Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Palangkaraya
1 org
11
Universitas Islam Sumatera Utara (USU)
1 org
12
Universitas Islam Bandung (UNISBA)
1 org
13
Universitas Islam Sultan Agung (UNISULA) Semarang
1 org
14
Universitas Islam Sunan Giri Surabaya
1 org
15
Universitas Islam Negeri (UIN) Banjarmasin
1 org
16
Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar
1 org
17
Universitas Cokroaminoto (Uncok) Yogyakarta
1 org
18
Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) Sulawesi Utara
1 org
19
Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qu’ran (PTIQ) Jakarta
1 org
20
Universitas Sains dan Ilmu Al-Qu’ran (UNSIQ) Jakarta
1 org
21
Universitas Islam Riau
1 org

JUMLAH
30 org

6. Nara Sumber dan mata pelajaran
- Kepala Badan Litbang dan Diklat Depag , Prof.Dr.H.M.Atho Mudzar : Pembukaan, Teori dan Pendekatan dalam Penelitian Sosial Keagamaan (Kasus-Kasus Aliran Keagamaan Kontemporer)
- Kapuslitbang Kehidupan Keagamaan , Prof.Dr.H.Abdurahman Mas’ud : Dari Proses Penyusunan Proposal, Riset sampai Terbit : Pengalaman Pribadi.
- Sekretaris Badan Litbang dan Diklat , Drs.H.Moh.Khafid : UUD Negara RI Tahun 1945 (Amandemen)
- Kapusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan, Drs.H. Asmu’i, S.H.M.Hum : Kebijakan Diklat Tenaga Teknis Keagamaan
- Kepala Bidang Penyelenggaraan Penelitian Puslitbang Keagamaan, Dra. Hj. Kustini, M.Si : Kebijakan Penelitian Kehidupan Keagamaan
- Prof.Dr.H.Muhamad Bambang Pranowo, Staf Ahli Menhan Sosial Budaya : Kontribusi Badan Litbang dan Diklat dalam Perspektif Penyiapan Kebijakan Pembangunan Bidang Agama.
- Dr.H.Muhaimin AG,MA : Model Penulisan Etnografis Hasil Penelitian Sosial Keagamaan (Kasus Adat dan Ibadat di Cirebon)
- Dr. Muhamad Hisyam (LIPI) : Signifikansi Studi : Memposisikan Hasil Studi-studi di antara studi-studi yang sudah dilakukan sebelumnya (Kasus Penghulu di Indonesia)
- Dr. H.Imam Tholkhah,MA : Memfokuskan Tulisan pada Permasalahan Studi yang sudah Ditetapkan Sebelumnya.
- Dr.H.Oman Fathurahman (PPIM-UIN Jakarta) : Konsep dan Metode Menghubungkan Teks dengan Konteks dalam sebuah Tulisan : Pendekatan Filologi (Pengalaman di Jerman)
- Dr.Askal Salim (UIN Syarif Hidayatulah Jakarta) : Islam Politik dan Penerapan Syariah Islam di Indonesia (pengalaman di Australia)
- Prof.Dr. Ahmad Fedyani Saefuddin (Anthropolog UI) : Kiat Menulis Artikel Ilmiah Anthropologi Agama
- Redaksi Studia Islamica PPIM-UIN Syarif Hidayatulah Jakarta : Kiat-kiat Penulisan Artikel Bidang Islamic Studies
- Dr. Fadjar Ibnu Tufail,M.A. (LIPI) : Konflik Antar Kelompok Sosial (Kelompok Agama) : Peta Teori dan Metodologi dalam Perspektif Anthropologis.
- Drs. H.Ahmad Syafi’I Mufid : Isu-isu Mendasar dalam Penulisan Hasil Penelitian

7. Fasilitator, Pembimbing dan Konsultan Penelitian dan Seminar :
1. Drs.H.Ahmad Syafi”I Mufid, M.A
2. Drs.H. Adlin Sila, M.A

8. Program Pembelajaran
Mata pelajaran Diklat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu : Kelompok Dasar,
Kelompok Inti dan Kelompok Penunjang.
- Karena Diklat Peneliti ini bersamaan dengan Diklat Fasilitator Penyuluh Agama Islam Tingkat Mahir Angkatan II dan Diklat Widyaiswara Rumpun Bahasa, maka pembukaan dilaksanakan secara bersama yang dibuka oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat Depag, Prof.Dr.H.M.Atho Mudzhar. Selanjutnya, semua peserta dari ketiga program diklat ini bersama-sama mengikuti mata pelajaran kelompok dasar yang berisi materi-materi kebijakan dan UUD Negara RI 1945 (Amandemen). Ketiga program diklat ini digabung dalam satu kelas bertempat di aula Kampus Diklat. Mata Pelajaran ini mengambil waktu selama dua hari. Semua peserta dari tiga program ini berjumlah 95 orang yang berasal dari berbagai provinsi.
- Mata pelajaran inti meliputi 14 materi yang terdiri dari 12 materi ceramah/sharing, 1 materi bimbingan dan konsultasi penelitian dan 1 materi presentasi makalah/seminar (lihat titik 6 di atas)
- Mata pelajaran penunjang terdiri dari pengarahan program, pre test, observasi lapangan, diskusi, evaluasi program dan post test.
- Observasi Lapangan dilakukan dengan mengadakan kunjungan ke Mesjid Kubah Emas di Depok dan ke Kantor Litbang dan Diklat Departemen Agama bertempat di Gedung Bayt Al-Qur’an Museum Istiqlal Kompleks Taman Mini Indonesia Indah.
- Dalam rangka bimbingan dan konsultasi penulisan makalah, para peserta dibagi dalam tiga kelompok penelitian, yaitu kelompok penelitian murni, kelompok penelitian kaji tindak (Participatory Action Research) dan penelitian kebijakan.
- Selama dua hari yaitu Sabtu dan Minggu, para peserta menurut kelompok penelitian mengadakan percakapan bimbingan dan konsultasi tentang penulisan hasil penelitian yang kemudian diseminarkan pada hari Senin, 14 Juli 2008. Masing-masing peserta mendapat kesempatan untuk bimbingan dan konsultasi sebanyak dua kali.
- Presentasi makalah (seminar) dilaksanakan pada hari Senin, 14 Juli 2008 sepanjang hari
(8 sesi).Setiap peserta mempresentasikan makalahnya.Terjadi diskusi antara
presenter dan peserta lainnya. Kemudian ditanggapi dan dinilai oleh dua
orang Pembimbing/Konsultan.
- Hasil presentasi makalah untuk seluruh peserta diberi catatan-catatan tambahan/perbaikan/penyempurnaan.

9. Evaluasi/Refleksi/Kesan
- Pendaftaran, akomodasi dan konsumsi serta observasi lapangan sangat baik. Meskipun hanya satu orang yang melayani pendaftaran peserta pada saat tiba yang dilanjutkan dengan pengurusan dan penempatan akomodasi, semuanya berjalan lancar. Padahal ada 95 orang peserta dari tiga program diklat berjalan bersamaan.
- Gedung kampus terdiri dari dua bangunan utama. Gedung pertama berlantai 4 yang terdiri dari ruang-ruang kuliah/seminar yang lengkap dengan fasilitas pembelajaran dan free internet/wireless bahkan layaknya ruang-ruang sidang di kantor legislator. Gedung kedua berlantai 5. Lantai pertama adalah ruang aula yang luas dan ruang makan. Lantai 2-4 terdiri dari kamar-kamar dan ruang kerja pantitia. Kamar-kamar setingkat hotel di mana fasilitas kamar berAC yang lengkap dengan kamar mandi/shower/toilet, meja belajar. Khusus di lantai dua selain terdapat kamar-kamar tidur dan juga perpustakaan. Lantai 5 berisi ruang fitness dan ruang terbuka untuk olahraga ringan. Sedangkan di bagian belakang dua gedung besar ini terdapat lapangan tenis/bulu tangkis.
Tentang konsumsi (catering) juga memenuhi standar untuk semua peserta. Pendek kata, dengan kampus yang demikian, membuat para peserta diklat merasa betah dan dapat belajar dengan baik.
- Para Peserta belum berimbang dari segi keterwakilan menurut agama. Tidak ada peserta dari unsur agama Budhha, Katolik dan Kong Hu Cu. Dari Kristen hanya satu orang, dari Hindu dua orang. Berarti 27 peserta beragama Islam. Dari segi asal daerah/provinsi juga belum terwakili seluruhnya, misalnya utusan dari Papua, Ambon dan NTT tidak ada. Dari Sulut hanya satu orang. Demikian juga dengan kepesertaan dari dua progam lainnya yaitu Diklat Penyuluh dan Diklat Bahasa.
- Pembelajaran berjalan dengan baik, lancar dan tertib sesuai dengan Panduan Diklat. Para fasilitator telah melaksanakan tugas mereka sesuai dengan maksud dan tujuan Diklat, meskipun ada beberapa yang pada awal materi menyampaikan seolah-olah mereka tidak tahu apa yang diharapkan peserta dari mereka. Semua materi disampaikan lebih berupa sharing pengalaman penelitian dan penulisan. Sehingga ada kesan dari seorang teman seolah-olah hanya menonjolkan kehebatan masing-masing. Bagi saya : materi-materi yang disampaikan sebagai contoh-contoh yang jelas bagaimana melaksanakan penelitian dan menulis hasil penelitian. Materi-materi yang bersifat teori penelitianpun sangat jelas. Dengan demikian mudah dihubungkan dengan hasil penelitian yang telah dibuat oleh para peserta untuk selanjutnya dikonsultasikan dengan pembimbing penelitian. Metode penelitian PAR bagi saya baru, meskipun sudah sering mengikuti kegiatan-kegiatan Lembaga Swadaya Masyarakat. Sebab ternyata sebelum PAR sudah lebih dulu melakukan penelitian murni (mandiri). Hampir semua materi tersedia dalam CD yang dibagikan kepada para peserta pada acara penutupan. Jadi tidak banyak kertas yang dipakai, dan ringan untuk dibawa pulang, kecuali fotocopy buku dan beli buku baru.
- Satu hal yang menarik dari para fasilitator ialah mereka semua tamatan S3 dari luar negeri bukan dari Timur Tengah tapi dari negara-negara sekuler.
- Para pembimbing/konsultan adalah orang-orang yang tepat, punya banyak pengalaman penelitian di bidang keagamaan termasuk keagamaan kristen. Mereka sangat tahu banyak buku tentang berbagai penelitian dalam berbagai pendekatan. Mereka tidak ‘kikir’ dalam menyampaikan apa yang mereka tahu, mereka berbagi pengetahuan lengkap dengan memperlihatkan buku-buku, sehingga banyak yang tertarik untuk memfotokopinya bahkan mencari bukunya di toko-toko buku terdekat.
- Para peserta dibagikan buku gratis dari salah seorang penceramah dan jurnal Harmoni terbitan Litbang dan Diklat yang telah terakreditasi. Dari jurnal-jurnal ini, saya dapatkan banyak contoh penelitian yang layak muat di jurnal-jurnal terakreditasi. Pendek kata, saya belajar bagaimana orang belajar. Bila saya bandingkan dengan beberapa kali mengikuti entah seminar atau lokakarya tentang Metode Penelitian, maka kali ini materinya lengkap dengan contoh-contoh. Dengan demikian maka salah satu tujuan dari diklat ini yaitu memiliki kemampuan menganalisis laporan penelitian tercapai.
- Kunjungan ke Mesjid Kubah Emas di Depok. Mesjid ini dibangun dan milik seorang ibu bernama Dian al Mahri. Diberi Mesjid Kubah Emas, karena kubah bagian dalam dan luar serta mimbar dilapisi dengan emas. Kunjungan kami bertepatan dengan saat sholat magrib. Di mesjid ini saya berkesempatan masuk diantar oleh dua teman peserta. Sebelum masuk ke dalam mesjid harus melewati dulu pelataran yang sangat luas dengan kaki telanjang. Juga saya harus memakai penutup kepala yang dipinjam di tempat penitipan sandal/sepatu. Inilah pertama kali saya masuk mesjid dan menyaksikan langsung mereka sholat. Dalam kunjungan ini saya mendapat informasi tentang perbedaan sholat oleh kaum NU dan Muhamadiyah. Sholat oleh kaum NU diakhiri dengan membaca ayat-ayat al-qur’an, sedangkan Muhamadiyah sesudah sholat, umat berdiam diri dan merenung (mungkin semacam saat teduh bagi Kristen).
- Dalam kunjungan ke Kantor Litbang dan Diklat di kompleks TMII, kami mengikuti dulu pertemuan dengan semua pejabat di lingkungan Litbang dan Diklat. Dalam pertemuan ini, Kepala Pusat Litbang memberi materi dan penjalasan tentang bagaimana sampai keluar SK 3 menteri berkaitan dengan Aliran Ahmadiyah. Intinya ialah SK ini keluar setelah melakukan penelitian yang matang. Namun, beberapa peserta tetap mengkritisi SK ini dengan pertanyaan apakah hasil penelitian itu sudah mewakili semua umat Islam. Kemudian percakapan berupa usulan/ masukan bagi para pengambil kebijakan dari para peserta. Dalam pertemuan ini, saya memberi beberapa masukan. Pertama, ke depan hendaknya para peserta berasal dari semua agama, seperti Katolik, Buddha dan Kon Hu Cu. Kedua, agar melibatkan UKIT dalam program penelitian di daerah Sulawesi Utara dan meminta data penelitian (judul dan tempat) yang sudah pernah dilakukan di Sulawesi Utara terutama yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan Kristen. Ketiga, agar ada peneliti di litbang dari berbagai agama (sekarang hanya dari Islam). Usulan-usulan peserta disambut baik oleh para pengambil kebijakan ini. Sesudah pertemuan dilanjutkan dengan kunjungan ke ruang-ruang perpustakaan/dokumentasi yaitu di mana semua jenis al-qur’an dan buku-buku serta benda-benda purbakala yang berkaitan dengan sejarah islam di tanah air tersimpan dengan rapih dalam dua ruang yang sangat luas. Kami juga melihat qur’an yang berukuran terbesar sampai terkecil. Menurut informasi, dalam waktu dekat kantor Litbang akan berpindah di gedung yang baru di jalan Thamrin.
- Hampir setiap penyampaian materi, para peserta mengisi formulir evaluasi. Para peserta juga mengisi daftar pertanyaan pre test dan post test. Saya sendiri, waktu menjawab dua pertanyaan pertama dalam pre test sulit untuk menjawabnya, sebab menyangkut buku-buku sumber berkaitan dengan bidang/judul penelitian dan metode penelitian. Dua pertanyaan pertama ini ditanyakan lagi pada post test. Kali ini saya sudah dapat menjawab dengan lebih baik lagi. Sebab sudah jelas arahnya. Ternyata juga, teman-teman mengalami apa yang saya alami. Atas dasar pre test dan post test ini, maka panitia memberi nilai kepada kelompok peserta diklat dari nilai C plus menjadi B plus, artinya ada kemajuan.
- Pada hari Minggu, 13 Juli saya mendapat ijin untuk pergi beribadah (08.00-10.00). Atas bantuan panitia, saya mendapatkan gereja untuk beribadah, yaitu di GKJ Nehemia yang berada di dekat terminal Lebak Bulus (kira-kira 5 km dari kampus), meskipun sebelumnya agak sulit mendapatkannya karena angkot yang ditumpangi harus berputar dulu. Dalam ibadah ini, saya juga mengikuti Perjamuan Kudus. Di siini saya dapat bernyanyi, setelah hampir seminggu tidak pernah bernyanyi bersama.
- Yang patut dipelajari dari diklat ini ialah ada evaluasi bagi semua pihak yaitu, panitia, widyaiswara (tenaga pengajar/pembimbing/konsultan) dan peserta. Para peserta laki-laki sangat disiplin dalam berpakaian baik di dalam kelas maupun di tempat makan (sesuai dengan tata tertib diklat). Sedangkan peserta perempuan tidak masalah dengan pakaian. Yang pasti dari enam peserta perempuan peneliti dan sekian banyak perempuan penyuluh dan bahasa, semuanya memakai baju khas muslimat. Hasil evaluasi ini disampaikan dalam acara penutupan. Menarik sekali waktu pembacaan hasil evaluasi dari masing-masing program diklat ini, masing-masing program saling mendengar hasilnya. Khusus untuk program diklat peneliti ada penilaian bagi setiap peserta. Saya bersyukur dapat masuk kategori 10 besar dari 30 peserta.
- Persahabatan antara peserta dan dengan panitia tercipta dengan baik sekali. Persahabatan ini terlamai saat terutama saat Observasi Lapangan, ada kesempatan santai dan bercengkerama.

10. Signifikasi bagi Fakultas Teologi UKIT

1. Metode Penelitian yang tepat untuk bidang keagamaan bahkan ilmu-ilmu sosial anthropologi ialah kualitatif. Bila memang perlu penelitian kuantitatif hendaknya dideskripsikan dan dilengkapi dengan kualitatif.

2. Setiap metode penelitian dapat didekati dari berbagai disiplin ilmu. Bahkan sekarang ini paradigma ilmu tidak lagi hanya didekati dari satu disiplin ilmu, tapi dari berbagai disiplin ilmu. Misalnya, kita menggunakan metode penelitian kualitatif dengan :
- pendekatan pastoral dan biblika dan …
- pendekatan biblika dan PAK dan …
- pendekatan sejarah dan misiologi dan …
- pendekatan sejarah dan sistematika/dogma dan …
- pendekatan ilmu agama-agama dan sistematika dan …
- pendekatan biblika dan praktika dan …
- pendekatan biblika dan sistematika dan …
- pendekatan agama-agama dan misiologi dan …
- pendekatan sistematika dan misiologi dan …
- pendekatan anthropologi budaya dan sistematika dan …
- pendekatan sejarah dan praktika dan …
- pendekatan ilmu agama-agama dengan misiologi dan …
- dll
Semua pendekatan ini dilakukan dalam rangka berteologi kontekstual.

3. Unit Penelitian dan Penerbitan sudah harus difungsikan agar penerbitan Jurnal Exodus dan Educatio Christi dapat terbit dengan lancar dan berbobot. Hasil penelitian mahasiswa yang terbaik dengan metode penelitian dan pendekatan yang jelas dapat diterbitkan. Untuk itu perlu tim penyunting Jurnal yang a.l. bertugas untuk menilai tulisan yang layak terbit. Upaya ini kita lakukan untuk dapat segera mengurus Akreditasi Jurnal, sekaligus untuk Akreditasi Program Studi.
4. Perlu dijadualkan untuk sharing materi diklat ini bagi para dosen.

Tomohon, 24 Juli 2008
tienkaunang@yahoo.com

Kunjungan ATESEA ke Cina, 2007

Fakultas Teologi UKIT sebagai salah satu sekolah anggota dalam lingkungan Asosiasi Pendidikan Teologi di Asia Tenggara (The Association for Theological Education in South East Asia) yang dikenal dengan singkatan ATESEA, baru-baru ini ( 2 -12 September 2007) turut serta dalam salah satu program ATESEA yaitu kunjungan (belajar dan sharing) dari para perempuan teolog ATESEA ke sekolah-sekolah teologi dan lembaga gerejawi/gereja-gereja serta lembaga swadaya masyarakat di negeri Cina. Program ini didanai oleh World Council of Churches, The Foundation for Theological Education dan ATESEA. Selaku Dekan Fakultas Teologi UKIT saya mengikuti program ini bersama dengan 10 orang peserta lainnya yang berasal dari Filipina, Myanmar, India, Singapur, Thailand dan Hong Kong. Rombongan ini mewakili para perempuan teolog dari 104 sekolah anggota ATESEA di 16 negara yang ada di Asia Tenggara termasuk Australia dan Selandia Baru. Rombongan ini dipimpin oleh mantan Dekan Fakultas Teologi UKIT (1980-1983) yang bertugas sebagai Direktur Eksekutif ATESEA yang berkedudukan di Manila yaitu Pdt. Sientje E.Merentek-Abram, D.Th. dengan koordinator program yaitu Dr. Theresa Carino dari Amity Foundation yang berkedudukan di Hong Kong. Rombongan ini kemudian bergabung dengan peserta yang mewakili Sekolah-Sekolah Teologi di Cina.

Selama 11 hari berada di negeri Cina, delegasi ini mengunjungi empat kota besar yaitu Shanghai, Nanjing, Beijing (Peking) dan Xian (Xianmen).
- Di Shanghai (3-4 September): kami mengunjungi dan bertemu serta sharing dengan pimpinan serta staff China Christian Council dan National Committee of Three-Self Patriotic Movement of the Protestant Churches in China (CCC/TSPM), Local Women’s Fellowship (pendeta perempuan muda mayoritas melayani di jemaat lokal : 60%), East China Theological Seminary, YMCA/YWCA.
- Di Nanjing (5-6): kami mengunjungi dan bertemu serta sharing dengan pimpinan dan staff Jiangsu Bible School, Nanjing Theological Seminary (sekolah teologi yang sangat terkenal dan mendunia, sedang membangun kampus yang luar biasa besar, megah dan komplit dengan dukungan dana yang besar dari pemerintah pusat), Amity Foundation (yang banyak membantu pemberdayaan masyarakat terbelakang dan sekolah-sekolah teologi), Amity Printing Foundation (terutama mencetak Alkitab dalam bahasa Cina dalam berbagai dialeknya serta berbagai bahasa di dunia seperti Rusia dan India).
- Di Beijing(7-8): kami mengunjungi, bertemu dan sharing dengan State Administration for Religious Affairs, Beijing Christian Council, Yanjing Theological Seminary (lokasi kampus berbatasan dengan stadion yang yang sedang dibangun untuk Olimpiade Beijing tahun 2008). Kami berkesempatan ke tempat bersejarah yaitu The Residence of Soong Ching Ling (madam Sun Yat-Sen, 1863-1981, dia seorang yang beragama Kristen, dia dicatat sebagai Perempuan Pertama Cina yang modern), Forbiden City (didirikan tahun 1420, direstore tahun 1700-an, terdapat gambar/foto Sun Yat Sen/dinasti Ming) berhadapan dengan Tugu Tiananmen, ke pusat penjualan keramik terkenal, ke Great Wall (karena waktu terbatas hanya sempat naik sampai pada tahap kedua puncak) dan ke The Qin Shihuang’s Terra-Cotta Warriors and Horses.
- Di Xian (9-11) : mengunjungi, bercakap dan sharing dengan pimpinan dan staff Xian Bible School : presidennya berumur 80 tahun sedangkan staff semuanya berusia muda. Pada hari Minggu, 9 September 2007 mengunjungi Panti Asuhan: sharing dengan pimpinan dan membagi kasih dengan anak-anak. Sesudah itu beribadah di gereja Protestan dengan latar belakang tradisi Baptis Amerika ( 90% jemaat yang hadir adalah kaum perempuan : tua dan muda). Selesai makan siang (yang dijamu oleh Pendeta jemaat yang berumur 84 tahun), kami mengunjungi rural area (yang sangat terbelakang/miskin) : melihat rumah-rumah dalam gua/di bawah tanah, berdinding tanah, proyek air bersih untuk 1200-an penduduk, perkebunan apel, 50% penduduk beragama Kristen yang beribadah di rumah masing-masing/tidak ada gedung gereja, kepala kampung beragama Kristen)
- Kembali ke Shanghai (11 sore) : evaluasi dan persiapan kembali ke negara-masing-masing pada tanggal 12.

Seluruh hari terisi dengan berbagai program dengan rute perjalanan yang panjang baik dengan mobil (Shanghai ke Nanjing) maupun dengan penerbangan domestik (Nanjing ke Beijing dan Xian kembali ke Shanghai) . Kekayaan spiritual yang dinafasi oleh filsafat hidup Cina yaitu harmoni merupakan pengalaman kami yang paling berharga. Beberapa hal sebagai ‘ole-ole’ dari program ini ialah a.l.
- di dalam suatu negara komunis yang mayoritas rakyatnya tidak beragama (unbeliefers), ternyata agama-agama mendapatkan kebebasan berekspresi terutama sejak 20 tahun terakhir ini atau pasca revolusi kebudayaan (tahun 1970-an) . Pemerintah memberi kebebasan kepada rakyatnya untuk tidak beragama atau beragama. Hal ini terungkap dalam pertemuan kami dengan petinggi Cina yang membidangi Agama-Agama. Perhatian pemerintah pusat dan lokal terhadap pembangunan kampus Sekolah Teologi sangat luar biasa.
- Setiap minggu, ada ratusan orang meminta dibaptis dan setiap hari ada 6 gedung gereja baru dibuka. Karena itu, pertumbuhan gereja sangatlah cepat. Pada tahun 2003 dilaporkan ada 18 juta orang Kristen. Pada tahun 2007 terdapat kira-kira 30 juta orang Kristen. Orang Cina menjadi Kristen secara pribadi. Kebanyakan yang menjadi Kristen adalah kaum perempuan (80%). Sebab itu, sangatlah tidak relevan menanyakan berapa keluarga Kristen.
- Gereja Protestan hanya memakai satu nama yaitu Gereja Protestan Cina. Memang ada berbagai latar belakang tradisi gereja yang masuk ke Cina tetapi semuanya melebur diri hanya dengan satu nama saja. Beragamnya latar belakang tradisi gereja tetap dipelihara dan dihargai atau diberi tempat dalam gereja lokal. Sebagai contoh, salah satunya adalah gereja lokal di Xian (1915) yang berlatar belakang tradisi Baptis Amerika. Pelayanan Baptisan dilakukan dengan cara selam. Demikian pula penuturan dari salah seorang pimpinan CCC, Rev.Meylin (di Shanghai) bahwa masing-masing orang diberi ruang untuk beribadah sesuai stylenya. Tidak ada yang saling mengeritik dan saling menyalahkan. Mereka saling menghormati dan saling menerima. Kenyataan ini mengingatkan saya pada kunjungan ke India pada tahun 1998 dimana gereja-gereja Protestan di India Selatan dengan 5 latar belakang tradisi gereja hanya memiliki satu nama saja yaitu Church of South India (CSI).
- Program utama Gereja Protestan dan Sekolah Teologi ialah rekonstruksi pemikiran teologi, regulasi gereja, membuka mata pada teologi baru – membuka wawasan. Untuk itu a.l. melalui Amity Printing Press, Alkitab disebarkan dan diberikan dengan cuma-cuma kepada penduduk sampai pedesaan. Kebanyakan warga menjadi Krsiten karena membaca Alkitab. Mereka ini yang kemudian beribadah di rumah masing-masing atau dalam kelompok-kelompok rumah terutama bagi mereka yang ada di pedasaan.
- Antara dosen senior dan dosen junior berbeda umur 30-40 tahun. Latar belakangnya ialah pada waktu komunis sangat berkuasa banyak pendeta dipenjara, gereja-gereja ditutup dan dibakar. Baru pada tahun 1970-an (sesudah revolusi kebudayaan), gereja-gereja dan sekolah-sekolah teologi dibuka kembali. Paling banyak yang menjadi mahasiswa adalah kaum perempuan. Mereka inilah yang sekarang melayani jemaat-jemaat lokal dan ada yang menjadi dosen. Bahkan di Sekolah Alkitab di Xian terdapat 80% dosen perempuan.
- Umumnya para pendeta berkhotbah sekitar 1 sampai 2 jam. Seorang dosen muda dari Nanjing Theological Seminary yang menjadi anggota rombongan kami, Rev. Meggi berkhotbah di gereja lokal Xian selama 1 jam 50 menit. Menarik pula, ia berkhotbah tanpa teks dan dengan memakai baju seadanya, tanpa pakai toga. Pendeta yang memimpin liturgi adalah pendeta jemaat memakai pakaian jas. Sementara itu, paduan suara yang merdu memakai jubah/semi toga dengan warna dominan putih dengan bis merah dengan iringan musik organ dan musik tradisional. Rombongan kami diberi kesempatan membawakan puji-pujian dan sambutan yang dibawakan oleh Bendahara ATESEA Dr. Zenaida Lumba dari Filipina.
- Kemanapun kami berkunjung selalu disuguhi teh cina dan buah-buahan. Tidak ada kue. Untung ada makan siang dan malam di restoran dengan 17-20 jenis makanan. Makan sedikit demi sedikit dan memakan waktu yang lama, agar dapat menikmati semua jenis makanan yang diselingi dengan teh cina dan minuman lainnya. Di Beijing dan Xian, kami berkesempatan jalan-jalan ke tempat-tempat souvenir yang khas Cina. Kebetulan ketemu dengan seoang pedagang yang dapat berbahasa Indonesia. Kemiripan wajah membuat acara jalan-jalan ini terasa akrab saat berinteraksi dengan pedagang meski dengan bahasa yang terbatas. Tempat menginap di hotel. Tempat makan di restauran, tidak pernah makan di rumah pribadi atau rumah jabatan.

Kunjungan ini adalah kunjungan yang lengkap: gereja dan kelompok perempuan gereja, sekolah teologi, badan ekumenis, lembaga swadaya masyarakat dengan latar belakang kristen, daerah pedusunan/pedesaan, pemerintah, tempat-tempat bersejarah/pariwisata, tempat souvenir, hotel dan restauran. Dengan kata lain, tujuan kunjungan kami tercapai. Belajar tentang Cina langsung di lokasi. Sayang sekali tidak sempat bertemu dengan Bishop H.K.Ting yang sangat terkenal itu yang sekarang berumur 90-an tahun.

Puji Tuhan, saya beroleh kesempatan menyaksikan dan mengalami kehidupan kekristenan dan kemasyarakatan yang sangat kaya dengan tradisi dan filsafat harmoninya. Xie Xie (Terima Kasih) kepada ATESEA. Kapan lagi ke sana ?