Rabu, 30 November 2011

Laporan Konsultasi Teologi Nasional PGI 2011

Laporan Mengikuti Konsultasi Teologi Nasional PGI
31 Oktober – 4 November 2011 bertempat di Wisma Bahtera Cipayung-Bogor
Oleh Pdt.Dr.Karolina Augustien Kaunang


Pendahuluan
Konsultasi ini diselenggarakan oleh Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Perhimpunan Sekolah-Sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA) dan Sinode Gereja Kristen Indonesia (GKI). Konsultasi Teologi ini adalah yang kelima setelah sebelumnya berturut-turut tahun 1970, 1979, 1982, 1994. Tema Konsultasi : Berteologi dalam Konteks : Meretas Jalan Menuju Perdamaian, Keadilan dan Keutuhan Ciptaan. Tujuannya adalah agar :
Gereja-gereja di Indonesia dan Pendidikan Teologi dapat merefleksikan, mengkaji dan merekonstruksi pemahaman-pemahaman teologis sebagai upaya berteologi dalam konteks terkini.
Terciptanya pemetaan informasi dan pengalaman penlaksanaan fungsi profetis/suara kenabian gereja dalam merespon realitas yang ada, di dalamnya juga termasuk kritik dan oto-kritik terhadap degradasi pelaksanaan fungsi profetis tersebut.
Didalami dan dibangunnya basis naratif teologis dalam konteks pergumulan real gereja, yang sangat dibutuhkan oleh warga jemaat sebagai barometer penyikapan teologis terhadap isu-isu yang berkembang.
Gereja-gereja dan Pendidikan teologi di Indonesia dapat mengkaji ulang dan arah gerakan oikoumene yang kontekstual dalam semangat wawasan kebangsaan anti diskriminasi dan disintegrasi.
Tersusunnya Nota Penggembalaan yang menyapa umat dan dapat menjadi driven force bagi gereja-gereja unutk berperan menuju perubahan sosial masyarakat, yaitu masyarakat yang damai dan berkeadilan sebagai bentuk pewartaan kabar baik di tengah-tengah konteks masyarakat Indonesia.

1. Pelaksanaan Konsultasi
Konsultasi dilaksanakan berdasarkan jadual yang sudah dikirimkan sebelumnya. Materi-materi ceramah * yaitu :
Cluster 1 : Berdamai dengan Allah, Diri Sendiri dan Sesama
Sessi : Manusia yang bertumbuh
Pdt. Dr. Daniel Susanto : Manusia yang Bertumbuh
Pdt. Dr. Debora K. Malik : Tumbuh dalam Hubungan dengan Allah dan Sesama.
Dasar Teologis dan Aplikasinya.
Sessi : Manusia dalam Relasi
Pdt.Dr.Joas Adiprasetya : Tatapan Teologis-Trinitaris atas Makna Pribadi dalam
Relasi dan Komunitas.
Pdt.Dr.Dewi Sri Sinaga : Manusia dalam Relasinya terhadap Allah, Diri Sendiri
dan Sesama (dalam Perspektif Anthropologis Biblis)

Cluster 2 : Menuju Perdamaian dan Keadilan di antara Masyarakat
Sessi : Perdamaian dan Keadilan Inter-agama (Denominasi), dengan nara sumber :
Pdt. Dr. Benyamin F. Intan : Perdamaian dan Keadilan Interagama
Pdt.Prof.Dr. Jan S.Aritonang : Perdamaian dan Kadilan di Lingkungan Intern
Umat Beragama
Sessi : Perdamaian dan Keadilan Lintas Agama (interfaith)
Pdt. Dr. Albertus Patty : Perdamaian dan Keadilan Lintas Agama
Pdt. Dr. Septemy E.Lakawa : Aftermath, Survivors, dan Narasi Perempuan Lokal:
Sebuah Perspektif Alternatif atas Subyek dan Ruang
Berteologi Lintas Agama di Indonesia Saat Ini.
Cluster 3 : Menuju Perdamaian dan Keadilan dengan Pasar
Sessi : Ekonomi Berkeadilan : Tantangan Kultural dan Struktural
Pdt. Samsudin Berlian,M.Th : Menuju Perdamaian dan Keadilan dengan Pasar
Prof.Dr.M.Dawam Rahardjo : Ekonomi Berkeadilan
Pdt. Rudiyanto, M.Th : Ekonomi yang Berkeadilan
Sessi : Studi Kasus Pemberdayaan Rakyat
Sri Bayu Selaadji, SPSi : Studi Kasus dan Refleksi Pemberdayaan Ekonomi Rakyat dalam Perspektif Pelayanan Kesehatan yang Holistik
Pastor Dr. Ignatius Madya Utama,S.J., Keselamatan bagi Orang Miskin : Janji, Harapan dan Tantangan.

Cluster 4 : Revitalisasi Gerakan Oikoumene yang Berwawasan Kebangsaan
Sessi : Revitalisasi Gerekan Oikumene yang Berwawasan Kebangsaan.
1. Pdt.Dr.A.A.Yewangoe (Ketua Umum PGI) : Revitalisasi Gerekan Oikoumene yang Berwawasan Kebangsaan
2. Pdt. Dr. Japarlin Marbun (Sekretaris Umum PGPI) : Revitalisasi Gerekan Oikoumene yang Berwawasan Kebangsaan Perspektif Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI)
3. Pdt. Dr.Nus Reimas : Revitalisasi Gerekan Oikoumene Berwawasan Kebangsaan dalam Prespektif Kaum Injili di Indonesia.
Sessi : Revitalisasi Pendidikan Teologi
Pdt.Dr.Julianus Mojau : Revitalisasi Pendidikan Teologi di Indonesia. Pendidikan Profesi Kegerejaan dan Pendidikan Keilmujan : Dua Jalur yang Salin Melengkapi
Pdt. Ruth Ketsia Wangkai : Revitalisasi Pendidikan Teologi

Metode yang dipakai ialah :
- Penyampaian materi dari nara sumber termasuk materi Pengantar dari Ketua Umum PGI tentang tema Konsultasi, dilanjutkan dengan tanya jawab
- Setiap selesai satu cluster, dilanjutkan dengan pendalaman dan perumusan dalam kelompok-kelompok (7 kelompok). Dalam setiap kelompok hadir nara sumber/tim kerja. Perumusan kelompok langsung ditangani oleh anggota organizing committee. Jadi, tidak ada laporan kelompok.pleno
- Selesai semua cluster, Tim Perumus merangkum semua hasil dan merumuskan Hasil Konsultasi. Rumusan oleh Tim Perumus dibawa dalam pleno dalam sessi terakhir (terlampir)
- Setiap pagi didahului dengan ibadah dengan Penelaahan Alkitab yang kreatif. Ibadah pagi dipimpin oleh para pendeta GKI yang masih sangat muda.
- Setiap malam diakhiri dengan ibadah tanpa renungan/refleksi dan diisi dengan Saat Hening (jemaat melakukan permenungan secara pribadi) sesudah membaca Alkitab yang telah ditentukan. Pemimpin ibadah dari peserta yang dijadualkan oleh Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia PGI.

2. Biaya Perjalanan
Biaya perjalanan untuk tiket Manado-Jakarta-Manado, transport lokal Tomohon-Airport-Tomohon, transport lokal Airport Cengkareng-Cipayung-Cengkareng, airport tax di Manado dan Jakarta, uang harian (6 hari). Untuk mendapatkan biaya ini, Fakultas menerbitkan surat Permohonan Bantuan untuk para donatur (5 exp). Tiga surat disalurkan, namun hanya satu yang mendapat respons (donatur no.4). Dua surat lainnya tidak disalurkan (dikembalikan ke Fakultas). Cara lain yang ditempuh ialah langsung memohon bantuan dana (a.l. lewat FB) kepada empat donatur (donatur no.1,2,3,5).
Perjalanan dapat terlaksana atas bantuan para donatur yaitu:
Diana Lady Rogi, S.Teol Rp. 1.840.400.- (dalam bentuk tiket pp)
Sdr. Alfon Mamoto,MTeol Rp 200.000,-
Bapak Gani Siamarga,SH Rp 300.000,-
Kel. Nelwan-Wowiling Rp 500.000,-
Bpk. Stenly Pangalila,M.Teol Rp 1.000.000,-
-------------------------------
Jumlah Rp 3.840.400
(Tiga juta delapan ratus empat puluh ribu empat ratus rupiah)
Bantuan titik 5 baru diterima Minggu, 20 Nov 2011 dan telah diserahkan ke kas Fakultas pada senin, 21 Nov.2011.

3. Refleksi
- Materi-materi konsultasi hendaknya didiskusikan dalam kelas-kelas mata-mata kuliah yang berkaitan seperti a.l. Pengantar Ilmu Teologi, Hermeneutik, Gereja dan Masyarakat, Teologi Agama-Agama, Ekklesiologi, Teologi Feminis, Misi dalam Masyarakat Majemuk, Teologi Kontekstual.
- Materi dan diskusi dalam cluster 4 yang kemudian terformulasi dalam Rumusan Hasil Konsultasi dengan jelas menghendaki agar dilakukan revisi kurikulum pendidikan teologi yang menjawab pergumulan, tantangan dan keprihatinan konteks masyarakat majemuk Indonesia.
- Materi-materi yang dipresentasikan sangat membantu dalam memahami kenyataan berteologi dalam konteks kini. Saya merasa disentuh dengannya. Secara tidak langsung, saya berefleksi dengan keadaan kita di kampus ini. Gereja sebagai institusi tidak lagi berperan sebagai pembawa keadilan dan perdamaian bagi semua orang. Semua peserta yang saya temui menanyakan tentang keadaan UKIT, mereka berprihatin dengan keadaan kita. Secara khusus, dalam diskusi kelompok 1 cluster 1, saya (ketua kelompok) diminta untuk sharing tentang keadaan UKIT. Hadir dalam kelompok ini Ketua Umum PGI Pdt.Dr.A.A.Yewangoe, Ketua GPI Pdt.Dr.Sem Hakh, Nara sumber Pdt.Prof.Dr.Jan S Aritonang. Semua anggota kelompok menyatakan keprihatinannya.
- Metode diskusi kelompok untuk pendalaman dan perumusan hasil tepat dipakai untuk peserta yang hampir semua aktif dan keterlibatan para nara sumber serta organizing committee yang disebar dalam kelompok-kelompok yang bertindak sebagai pencatat.
- Ibadah-ibadah (Pembukaan, Setiap Pagi, Penutup) dilayani oleh para pendeta GKI yang masih muda. Khotbah dan Penelaahan Alkitab (PA) disajikan secara kreatif dan langsung jelas aplikasinya terutama dalam PA yang menggunakan LCD dengan tampilan film/gambar yang menarik/menyentuh, dan tidak berorientasi mimbar dan pakaian jabatan.
- Para nara sumber ditampilkan secara berimbang : perempuan dan laki-laki dan berasal dari berbagai gereja dan lembaga di luar gereja, bahkan dari seorang pakar ekonomi nasional. Tim Perumus beranggotakan 9 orang (tim kerja dan wakil peserta): 4 laki-laki, 5 perempuan. Dalam hal ini, PGI berupaya untuk konsisten dengan tuntutan kesetaraan dan keadilan jender serta kemajemukan dan demokrasi.
- Secara pribadi saya bersyukur mendapat jadual untuk memimpin ibadah malam tanggal 3 Nov 2011 dan menjadi anggota Tim Perumus Hasil Konsultasi. Meski ibadah tersebut tidak dapat dilaksanakan karena hanya dilaksanakan doa malam oleh seorang peserta yang telah saya minta untuk berdoa dalam ibadah malam tersebut, pada saat bertepatan dengan kerja Tim Perumus.
- Keterlibatan para dosen Fakultas Teologi cukup signifikan. Selain saya (utusan resmi), ada lima orang dosen yang hadir sebagai utusan dari PERSETIA menjadi Organizing Committee yaitu Denni H.R.Pinontoan,M.Teol dan Max Eduard Tontey,M.Teol. dan Pdt.Prof.Dr.W.A.Roeroe (Direktur PPST UKIT), Pdt.Dr. R.A.D.Siwu, MA.PhD (Rektor UKIT), Pdt.Ruth Ketsia Wangkai,M.Th (Ketua BPP PERUATI). Kehadiran kami ini pertanda bahwa SDM lembaga kita turut diperhitungkan di tingkat nasional.

Penutup
Hasil konsultasi (terlampir). Banyak terima kasih kepada Pimpinan Fakultas yang telah mengutus saya.

Tomohon, 22 November 2011











* Bila ada yang ingin mendapatkan materi-materi ini, silahkan hubungi saya untuk fotokopi.

Mengenang Pdt. William Langi, MTh

MENGENANG PENDETA WILLIAM LANGI, MTh *

Saya tidak pernah menjadi mahasiswanya (1976-1981). Tetapi saya mengenalnya dan dekat dengannya. Ia adalah Pendeta, Sabahat, Teman Diskusi, Bapak yang Baik Hati. Ia konsisten dan tegas dalam pemikiran teologi yang dianutnya. Ia tidak segan-segan bahkan blak-blakan mengeritik teologi dan berteologi yang baginya tidak lagi Kristosentris. Berikut ini adalah ceritaku tentang dan bersama beliau. Saya mengenalnya saat studi lanjut S2 SEAGST di Tomohon (1986-1989). Waktu itu beliau adalah Dekan (1984-1990) sekaligus Wakil Ketua Sinode GMIM. Selaku Wakil Ketua Sinode, ia mengunjungi saya yang waktu itu mendapat tugas studi lanjut penuh waktu. Ia memberi tahu agar siap-siap melayani jemaat di dekat Tomohon sambil studi. Waktu itu ia menyebut jemaat yang akan saya layani. Sayapun siap-siap. Tetapi, rencana itu tidak terealiser. Itulah pertemuan pertama. Pertemuan kedua dan seterusnya ialah saat saya menjadi staf dosen tetap mulai September 1989. Waktu itu, kepemimpinan beliau akan berakhir. Ia datang mengunjungi saya di rumah. Ia meminta agar saya bersedia untuk menggantikannya. Ia minta saya memasukan biodata ke bagian administrasi kantor c/q Saartje Potu. Singkat cerita, saya tidak mungkin dimasukan dalam ‘bursa’ itu. Saya dosen muda dan baru ‘kemarin’. Akhirnya, yang menggantikannya ialah Prof.Drs.J.L.Lengkong (1989-1991). Pertemuan makin sering saat kami sama-sama anggota Senat Fakultas tahun 1991-1993 yang diketuai oleh Dekan Pdt.Junius Pontororing, M.Th. dan saya selaku Sekretaris Senat/Pembantu Dekan Bidang Akademik. Waktu itu Fakultas Teologi telah dimekarkan menjadi dua yaitu Fakultas Teologi dan Fakultas PAK. Masa ini adalah masa yang ‘genting’, sebab FTeol ‘berseberangan’ dengan pengurus YPTK. Sebagai salah seorang anggota Senat, beliau sangat kritis terhadap kebijakan Yayasan Perguruan Tinggi Kristen (YPTK) yang ketuanya adalah Dokter Bert Supit. Kekritisan kami ini pada Januari 1993 berbuahkan pemberhentian Dekanat secara tiba-tiba tanpa melalui prosedur oleh Pengurus YPTK. Pdt. J.M.Saruan langsung menggantikan Pdt. Pontororing sebagai Dekan. Meski demikian, percakapan dan diskusi sekitar kebijakan pengurus YPTK terus kami lanjutkan dalam beberapa waktu lamanya walaupun Pdt. Junius Pontororing tidak dapat bersama karena sakit dan kemudian kembali ke haribaan pencipta-Nya.
Bagi saya ia adalah seorang Bapak yang Baik Hati. Ia menjemput saya di stasiun kereta api Brisbane saat saya berweek end dari Gold Coast (2000). Waktu itu beliau berada di Brisbane dengan anaknya Tine (keluarga Sangari-Langi) yang sedang studi Doktoral di Queensland University. Saya menunggu agak lama di stasiun. Ternyata beliau terkunci di lift. Ia menjemput saya bak seorang bapak menjemput anaknya. Ia menjinjing koper saya. Kamipun tiba di rumah kediaman kel. Sangari-Langi. Keesokan harinya, ia antar saya mengelilingi kota Brisbane dengan menggunakan karcis yang dapat dipakai naik tram keliling kota sepanjang hari. Di tempat-tempat tertentu, di tempat bersejarah, di pusat keramaian, di pusat perbelanjaan kami berhenti. Kami ambil foto. Dia menjadi photographer. Dalam kesempatan berweek end berikutnya, kami keliling kampusnya Tine dan melihat ruang kerjanya. Juga ke kampus Trinity College yang adalah bagian dari Griifith University. Kami juga beribadah minggu di Uniting Church in Australia dan di tempat ibadah persekutuan orang Indonesia. Ia mengantar ku ke airport Brisbane saat akan kembali ke Indonesia. Waktu itu (di airport) saya nyeletuk : kong berita apa yang kita mo bawa pa Mofrow ? Diapun segera minta kertas dan menulis surat buat isteri tercinta, ibu Patmah.
Dalam percakapan dengannya tentang teologi dan berteologi, nampak jelas ia tetap konsisten pengikut Karl Barth. Berkaitan dengan buku saya tentang Perempuan dalam Budaya Minahasa, ia katakan : “You punya teologi itu berpusat pada anthropologi, kalau kita berpusat pada Kristus (teologi firman). Apa itu Teologi Feminis dan apa itu Teologi Kontekstual?” (dengan gaya tangan dan mimik serta suara yang khas). Kami saling beradu argumentasi, kebetulan sama-sama minat di studi dogmatik. Meski demikian ia memberiku sebuah buku berjudul “The Competent Woman” karangan Rosalind C Barnett and Grace K Barruch.
Pertemuan kami terakhir ialah dalam dua pertemuan berturut-turut bertempat di rumah dinas anaknya Pdt.Jusak (tahun 2008). Bersama-sama dengan beberapa teman : Lientje, Ann, Jonely, Vera, Pdt. Kumaat dan isteri ibu Ike kami diundangnya. Ia berbagi pergumulannya tentang akar permasalahan yang menimpa UKIT dan pendapatnya tentang pemberhentian kami sebagai pekerja gereja dan pendeta.
Sebelum mengakhiri catatan kenangan ini, dari beliau saya mendengar ungkapan “ gereja-gerejaan”. Ungkapan ini muncul berkaitan dengan banyaknya pendeta yang jalan-jalan ke luar daerah/luar negeri

Akhirnya, mengenang dia sebagai Pendeta, Sahabat, Teman Diskusi dan Bapak yang Baik Hati memperkaya pengalaman dan penghayatan akan arti sebuah keyakinan dan kemanusiaan selama hayat di kandung badan. Makase Mner. Mner kase keberanian pa kita untuk mengambil tanggungjawab meski waktu itu tidak mungkin.



*Dimuat dalam Majalah Triwulan Fakultas Teologi UKIT INSPIRATOR edisi September –November 2011.