MENGENANG PENDETA WILLIAM LANGI, MTh *
Saya tidak pernah menjadi mahasiswanya (1976-1981). Tetapi saya mengenalnya dan dekat dengannya. Ia adalah Pendeta, Sabahat, Teman Diskusi, Bapak yang Baik Hati. Ia konsisten dan tegas dalam pemikiran teologi yang dianutnya. Ia tidak segan-segan bahkan blak-blakan mengeritik teologi dan berteologi yang baginya tidak lagi Kristosentris. Berikut ini adalah ceritaku tentang dan bersama beliau. Saya mengenalnya saat studi lanjut S2 SEAGST di Tomohon (1986-1989). Waktu itu beliau adalah Dekan (1984-1990) sekaligus Wakil Ketua Sinode GMIM. Selaku Wakil Ketua Sinode, ia mengunjungi saya yang waktu itu mendapat tugas studi lanjut penuh waktu. Ia memberi tahu agar siap-siap melayani jemaat di dekat Tomohon sambil studi. Waktu itu ia menyebut jemaat yang akan saya layani. Sayapun siap-siap. Tetapi, rencana itu tidak terealiser. Itulah pertemuan pertama. Pertemuan kedua dan seterusnya ialah saat saya menjadi staf dosen tetap mulai September 1989. Waktu itu, kepemimpinan beliau akan berakhir. Ia datang mengunjungi saya di rumah. Ia meminta agar saya bersedia untuk menggantikannya. Ia minta saya memasukan biodata ke bagian administrasi kantor c/q Saartje Potu. Singkat cerita, saya tidak mungkin dimasukan dalam ‘bursa’ itu. Saya dosen muda dan baru ‘kemarin’. Akhirnya, yang menggantikannya ialah Prof.Drs.J.L.Lengkong (1989-1991). Pertemuan makin sering saat kami sama-sama anggota Senat Fakultas tahun 1991-1993 yang diketuai oleh Dekan Pdt.Junius Pontororing, M.Th. dan saya selaku Sekretaris Senat/Pembantu Dekan Bidang Akademik. Waktu itu Fakultas Teologi telah dimekarkan menjadi dua yaitu Fakultas Teologi dan Fakultas PAK. Masa ini adalah masa yang ‘genting’, sebab FTeol ‘berseberangan’ dengan pengurus YPTK. Sebagai salah seorang anggota Senat, beliau sangat kritis terhadap kebijakan Yayasan Perguruan Tinggi Kristen (YPTK) yang ketuanya adalah Dokter Bert Supit. Kekritisan kami ini pada Januari 1993 berbuahkan pemberhentian Dekanat secara tiba-tiba tanpa melalui prosedur oleh Pengurus YPTK. Pdt. J.M.Saruan langsung menggantikan Pdt. Pontororing sebagai Dekan. Meski demikian, percakapan dan diskusi sekitar kebijakan pengurus YPTK terus kami lanjutkan dalam beberapa waktu lamanya walaupun Pdt. Junius Pontororing tidak dapat bersama karena sakit dan kemudian kembali ke haribaan pencipta-Nya.
Bagi saya ia adalah seorang Bapak yang Baik Hati. Ia menjemput saya di stasiun kereta api Brisbane saat saya berweek end dari Gold Coast (2000). Waktu itu beliau berada di Brisbane dengan anaknya Tine (keluarga Sangari-Langi) yang sedang studi Doktoral di Queensland University. Saya menunggu agak lama di stasiun. Ternyata beliau terkunci di lift. Ia menjemput saya bak seorang bapak menjemput anaknya. Ia menjinjing koper saya. Kamipun tiba di rumah kediaman kel. Sangari-Langi. Keesokan harinya, ia antar saya mengelilingi kota Brisbane dengan menggunakan karcis yang dapat dipakai naik tram keliling kota sepanjang hari. Di tempat-tempat tertentu, di tempat bersejarah, di pusat keramaian, di pusat perbelanjaan kami berhenti. Kami ambil foto. Dia menjadi photographer. Dalam kesempatan berweek end berikutnya, kami keliling kampusnya Tine dan melihat ruang kerjanya. Juga ke kampus Trinity College yang adalah bagian dari Griifith University. Kami juga beribadah minggu di Uniting Church in Australia dan di tempat ibadah persekutuan orang Indonesia. Ia mengantar ku ke airport Brisbane saat akan kembali ke Indonesia. Waktu itu (di airport) saya nyeletuk : kong berita apa yang kita mo bawa pa Mofrow ? Diapun segera minta kertas dan menulis surat buat isteri tercinta, ibu Patmah.
Dalam percakapan dengannya tentang teologi dan berteologi, nampak jelas ia tetap konsisten pengikut Karl Barth. Berkaitan dengan buku saya tentang Perempuan dalam Budaya Minahasa, ia katakan : “You punya teologi itu berpusat pada anthropologi, kalau kita berpusat pada Kristus (teologi firman). Apa itu Teologi Feminis dan apa itu Teologi Kontekstual?” (dengan gaya tangan dan mimik serta suara yang khas). Kami saling beradu argumentasi, kebetulan sama-sama minat di studi dogmatik. Meski demikian ia memberiku sebuah buku berjudul “The Competent Woman” karangan Rosalind C Barnett and Grace K Barruch.
Pertemuan kami terakhir ialah dalam dua pertemuan berturut-turut bertempat di rumah dinas anaknya Pdt.Jusak (tahun 2008). Bersama-sama dengan beberapa teman : Lientje, Ann, Jonely, Vera, Pdt. Kumaat dan isteri ibu Ike kami diundangnya. Ia berbagi pergumulannya tentang akar permasalahan yang menimpa UKIT dan pendapatnya tentang pemberhentian kami sebagai pekerja gereja dan pendeta.
Sebelum mengakhiri catatan kenangan ini, dari beliau saya mendengar ungkapan “ gereja-gerejaan”. Ungkapan ini muncul berkaitan dengan banyaknya pendeta yang jalan-jalan ke luar daerah/luar negeri
Akhirnya, mengenang dia sebagai Pendeta, Sahabat, Teman Diskusi dan Bapak yang Baik Hati memperkaya pengalaman dan penghayatan akan arti sebuah keyakinan dan kemanusiaan selama hayat di kandung badan. Makase Mner. Mner kase keberanian pa kita untuk mengambil tanggungjawab meski waktu itu tidak mungkin.
*Dimuat dalam Majalah Triwulan Fakultas Teologi UKIT INSPIRATOR edisi September –November 2011.
Rabu, 30 November 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar