MULTI-CULTURAL SOCIETY MINISTRY SEMINAR
UKIT GRADUATE SCHOOL OF THEOLOGY
29 JUNI – 2 AGUSTUS 2004
DI EAST COAST UNITED STATES OF AMERICA
Pendahuluan
Berdasarkan penugasan dari Direktur Program Pascasarjana Teologi UKIT Tomohon, Pdt.Prof.Dr.W.A.Roeroe seperti yang tertera dalam surat undangan dari Ellen M.Whitt (Indonesian Ministry dari First Presbyterian Church) dan Rev. Joyce Antila Phipps (Old First Church) di New Jersey, maka saya bersama dengan beberapa rekan mahasiswa PPSTi UKIT stratum 3 plus seorang dosen, ibu Tilly Roeroe-Tompodung dan tentu saja dengan Pdt. Roeroe berkesempatan mengikuti “Seminar” tentang Pelayanan Kepada Masyarakat Multi-Cultural di Amerika Serikat, yaitu di beberapa negara bagian yang ada di Pantai Bagian Timur. Tempat-tempat itu ialah : New Jersey/NJ dan New York/NY( 29 Juni – 6 Juli, 28 Juli-2 Agustus), New Hampshire/NH dan Massachusetts ( 7-16 Juli) , Maryland/MD, Washington/District of Columbia (DC), Virginia (16-28 Juli).
Adapun pelaksanaan seminar ini telah kami ikuti, alami dan nikmati sebaik-baiknya. Dengan segala kemampuan yang ada termasuk atas ketersediaan dana perjalanan, ketrampilan, kesehatan dan kesiapan meninggalkan keluarga dan pekerjaan di kampus serta jemaat telah turut berpengaruh positif dalam seminar dimaksud.
“Seminar” ini dapat dikelompokkan dalam jenis-jenis kegiatan, yaitu :
Bible study dan mengikuti rapat majelis jemaat
Bertemu dan bercakap/sharing
Melayani/memimpin ibadah jemaat
Mengunjungi tempat-tempat bersejarah/pariwisata
Mengunjungi Sekolah Teologi/Universitas dengan perspustakaannya.
Percakapan dengan para pendeta asal Indonesia
Shopping
1. Bible Study dan Rapat Majelis Jemaat
Bertempat di kantor Jemaat First Presbyterian Church of Metuchen NJ dilaksanakan Penelaahan Alkitab (PA) bersama dengan pimpinan gereja dan pegawai gereja pada 2 Juli. PA ini diberi tema Paul Mission berdasarkan bahan Alkitab Kisah Para Rasul 25,26,27 dan 28. Percakapan dalam PA ini lebih terfokus pada Paulus yang berlayar ke Roma. Tantangan angin ribut/badai (storm) tidak menyurutkan niat Paulus untuk terus berlayar menuju ke Roma. Ia ditemui oleh malaikat Allah yang menyapanya : “jangan takut …” (27:23). Sebagai pendeta dan petugas gereja di masa kini apalagi dengan sarana transportasi yang sangat canggih (apalagi konteks Amerika Serikat), kita mencoba membayangkan ketakutan para penumpang kapal itu. Percakapanpun menjadi lebih hidup manakala Pdt. Leo Masalamate menceritakan pengalamannya sebagai seorang yang berasal dari Sanger Talaud, yang pernah melayani jemaat-jemaat di kepulauan Sangihe dan Talaud. Kapal dan ombak bahkan badai telah menjadi “teman perjalanan” orang-orang yang hidup di daerahnya. Selanjutnya, kami teringat juga dengan cerita Yunus dalam Perjanjian Lama. Misi Paulus sudah dimulai di kapal itu : kesaksiannya bertemu dengan malaikat, iapun memberi mereka makan, ia memberi ketenangan bahwa akan ada keselamatan dari Tuhan.
Pada tanggal 6 Juli, kami mengikuti sebagai observer rapat para pelayan jemaat. Di jemaat ini, anggota jemaat asal Indonesia/berbahasa Indonesia menjadi bagian integral dalam keseluruhan aktivitas jemaat. Karena itu, peserta rapat majelis jemaat terdiri dari orang Amerika dan orang Indonesia. Bahkan seorang alumnus Fakultas Teologi UKIT yang ditahbiskan sebagai Pendeta GMIM yaitu Pdt. Olga Mercy Rumengan (Ny.Assa), diterima sebagai pendeta di jemaat ini yang melayani semua jemaat (berbahasa Inggris dan Indonesia).
Sistem pelayanan gereja ini adalah presbyterial. Pendeta jemaat (secara bergantian) berfungsi sebagai moderator dalam rapat-rapat majelis jemaat. Para penatualah yang berperan utama menentukan apa yang akan dilakukan dalam berjemaat. Para penatua ini telah dibagi dalam beberapa komisi kerja. Misalnya, seksi diakonia, seksi pembinaan, seksi untuk pemuda dan anak-anak. Dalam rapat ini setiap seksi melaporkan apa yang sudah dikerjakannya. Peserta rapat memberi evaluasi/tanggapan. Evaluasi/tanggapan ini sangat singkat/tidak bertele-tele- langsung pada intinya. Lalu moderator mengarahkan percakapan : apakah evaluasi dan usul-usul diterima atau masih harus dipercakapkan lagi. Bila ada dukungan dua orang untuk suatu usulan baru, maka usulan itu dibahas. Menarik sekali, bahwa rapat ini tidak berlangsung lama, tak banyak komentar sekalipun masih ada satu seksi yang tidak membuat laporan tertulis. Cukup dengan berkata : “maaf, kami belum membuat laporan tertulis, dan nanti akan disusulkan”. Peserta yang lainpun, maklum dan rapat berjalan lancar. Tidak ada yang ngotot atau menyalahkan yang lain.
Pada 21 Juli, ibadah dan percakapan dengan Majelis Jemaat Indonesian Christian Fellowship Church di Washington. Anggota jemaat ini bertempat tinggal di Maryland, Virginia dan DC. Kemudian PA di sektor Virginia di
rumah keluarga Pnt. Julio Manik (24 Juli). Di jemaat ini seorang alumnus Fakultas Teologi UKIT/Pendeta GMIM yakni Pdt. Azer Roeroe melayani setelah sebelumnya diterima sebagai Pendeta Prebyterian Church USA. Percakapan di sini lebih pada sharing pengalaman pelayanan dari Indonesia dan pengalaman hidup dan bergereja di dalam masyarakat yang berbudaya majemuk di negara super power. Percakapan begitu hidup, apalagi dengan nuansa budaya Batak, Minahasa, Ambon dan Jawa. Majelis jemaat ini berlatar belakang yang beragam dari segi pendidikan dan pekerjaannya. Ada yang sudah tamat S3 dan atau mendapat pekerjaan di pemerintahan dan swasta. Inilah ciri khas dari jemaat Indonesia yang berada di “pusat dunia” yaitu di Washington DC.
Di wilayah pelayanan jemaat Indonesian Christian Fellowship ini, kami melayani ibadah PA dalam kelompok-kelompok (semacam kolom di GMIM) baik yang dilaksanakan di rumah-rumah maupun di tepi pantai.
2. Bertemu, bercakap/sharing dengan anggota jemaat Indonesia.
Sejak tiba di John F. Kennedy (JFK) airport pada tanggal 29 Juni 2004, sudah dijemput oleh Ibu Jetty Moningka-Mailangkay (dari New Hampshire) dan Pdt. Rita Tangel-Dalos (yang sudah lebih dulu tiba), Pdt. Dolfi Rondo (dari New Jersey) dan beberapa orang lagi dari New Jersey. Kami diantar ke New Jersey sebagai pangkalan pertama dan utama, sebab undangan datang dari First Presbyterian Church dan Old Presbyterian Church di New Jersey. Kami diantar langsung ke rumah keluarga Pdt.Assa-Rumengan. Rumah ini menjadi pangkalan utama. Dari sini kemudian disebar ke lima rumah tempat penginapan. Di tempat penginapan inilah perkenalan pertama dan percakapan teralami. Saya mendapat tempat penginapan di rumah keluarga Assa-Rumengan (NJ), Ibu Catty Assa-Ohy (NH), keluarga Tandayu (di DC/MD). Selanjutnya, sesuai dengan pengaturan Pdt. Olga Mercy Assa Rumengan dan saudara-saudara di New Jersey dan New York, kami bisa bertemu dengan banyak orang Indonesia khususnya dari Minahasa. Pertemuan informal di rumah beberapa keluarga berlangsung dengan penuh keakraban, berbagi informasi dan tantangan/pergumulan terutama dari mereka yang sedang berjuang di tanah perantauan. Pertemuan ini kemudian dilanjutkan di New Hampshire, Maryland, Washington dan Virginia. Pertemuan kekeluargaan dan pecakapan ini berlangsung di rumah-rumah: Kel. Pdt.Assa-Rumengan (NJ), Kel. Kolinug-Rantung (NJ), Kel. Sumilat-Sumual (NJ), Kel. Ruhukay-Anes (NJ), Kel. Runtu-Kairupan (NJ), Kel. Luntungan-Rondo (NJ), Kel. Rantung-Lumangkun (NJ), Ibu Catty Assa-Ohy/Pdt Robby Waworuntu (NH), Kel. Benu-Warouw (NH), Kel. Pakasi-Mowilos (NH), Kel. Golioth-Pitoy (NH), Kel. Mingkid (NH), Kel.Pontoh (NH), Kel.Pdt.Moningka-Mailangkay (NH), Kel.Pdt.Lapian-Kapojos (NH), Kel. Tandayu-Reppi (DC), Kel.Pdt.Roeroe-Pomantow (DC), Kel. Manik (MD), Kel.Pdt.Lewier (MD), Kel. Massie-Kotambunan (DC), Kel.Lapian (MD), Kel.Rarumangkay-Rompas (MD), Kel. Mamahit (DC), Kel.Pdt.Helny Rumagit-Poluan (NJ), Kel. Grace Rory (NJ). Sudah pasti, dalam setiap pertemuan selalu ada menyanyi dan berdoa disertai dengan ramah tamah khas Minahasa/Manado.
Beberapa pokok percakapan yang selalu terungkap ialah :
- kerinduan mereka untuk bertemu dengan keluarga di tanah air. Ada suami/isteri/ anak/orang tua yang terpisah sekian tahun. Memang komunikasi lewat telpon dan email tetap jalan. Kiriman uang (dari Amerika) dan makanan bahkan pakaian (dari Indonesia) lancar.
- Bahasa Inggris sebagai alat komunikasi dengan “bos” di tempat pekerjaan tidak menjadi penghalang berarti. Sebab yang penting mereka dapat bekerja dengan baik dan bahasa dapat dipelajari dari pengalaman berinteraksi.
- Kesehatan tubuh, ketegaran hati dan disiplin sangat penting sebagai modal untuk bekerja dengan baik.
- Pola hidup sederhana mulai dari tempat tinggal, gaya hidup, pola/jenis makanan.
- Mendapatkan uang yang banyak telah mengantar sebagian besar dari mereka untuk bekerja dan bekerja, terus bekerja sampai-sampai ada yang bekerja dalam tiga tempat kerja yang berbeda ( to work in shifts) dalam sehari.
- Berbagai jenis pekerjaan telah menjadi sumber nafkah yang sangat berarti bagi mereka sampai bisa menabung dan mengirim uang ke kampung halamannya untuk keluarganya bahkan untuk membeli tanah dan membangun rumah tinggal. Sebagian besar bekerja di pabrik/industri: pakaian, kosmetik, mobil, komputer, kaca mata; pembantu rumah tangga, baby-sitter, pegawai gereja, kostor, pelayan/tukang cuci di rumah makan, bekerja di laundry/binatu, distributor koran/pelempar koran, petugas kebersihan di kantor/gedung. Ada pula yang membuka usaha sendiri seperti catering bahkan mempunyai usaha rumah makan. Hanya sebagian kecil yang bekerja sebagai pegawai pemerintah dan ada yang berstatus mahasiswa (studi lanjut).
3. Beribadah dan melayani.
Selama 5 minggu, berkesempatan melayani ibadah, yakni:
- Pada hari Minggu, 4 Juli (sore) di jemaat Gereja Protestan Indonesia “Paulus” NJ yang bertempat di The Reformed Churches of Highland Park. Pendeta di jemaat ini adalah Pdt. Helni Rumagit-Poluan,STh (alumnus Fakultas Teologi UKIT).
- Pada hari Sabtu, 10 Juli (sore), memimpin diskusi tentang Perempuan dan Pelayanan Gereja dalam ibadah Kaum Ibu dan Majelis Gereja Maranatha Indonesian Fellowship NH di rumah ibu Mingkid.
- Pada hari Minggu, 11 Juli (pagi) di Maranatha Indonesian Fellowship NH yang bertempat di United Church of Christ Union Congregational Church. Pendeta di jemaat ini adalah Pdt.Sandra Pontoh- Longdong, M.Th (alumnus FTeol UKIT)
- Pada hari Minggu, 18 Juli (siang), sebagai pelayan Firman dalam ibadah Syukur HUT ke 65 dari Ibu Helly Gerungan di Washington.
- Pada hari Minggu, 1 Agustus (sore) di jemaat Gereja Protestan Indonesia New York. Di sini saya melayani Perjamuan Kudus. Seorang anggota sidi jemaat yang terlambat datang, dilayani sesudah ibadah selesai.
- Pada hari Sabtu, 31 Juli, bersama Altje memimpin Ibadah Padang Jemaat GPI Paulus NJ. Ibadah ini sekaligus sebagai acara perpisahan (farewell).
Selain mempimpin/melayani ibadah, juga mengikuti ibadah Minggu dan ramah tamah :
- Pada hari Minggu, 4 Juli (pagi) di jemaat First Presbyterian Church of Metuchen NJ. Sesudah ibadah, berkesempatan mengikuti service for wholeness bertempat di kapel kecil. Ibadah ini lebih bersifat meditasi dan bertemu secara pribadi dengan sang Pendeta untuk mendoakan pergumulan pribadi. Di jemaat ini, Pdt.Olga Mercy Assa-Rumengan, STh menjadi salah seorang Pendeta. Orang-orang Indonesia menjadi bagian integral dalam jemaat ini yang beribadah dalam bahasa Inggris (pagi) dan sore dalam bahasa Indonesia
- Pada hari Minggu, 11 Juli (selesai ibadah di Maranatha) berkesempatan mengikuti acara ramah tamah di jemaat Gereja Protestan Indonesia “Immanuel” di Holy Trinity Lutheran Church Newington NH. Pendeta di sini adalah Pdt. Robby Waworuntu, MA.
- Pada hari Minggu, 18 (pagi), di Indonesian Christian Fellowship Church di Washington. Pendeta Azer Roeroe adalah salah seorang pendeta di jemaat ini.
- Pada hari Minggu, 25 Juli (pagi), di The Warner Memorial Presbyterian Church Washington. Ibadah ini dipimpin bersama oleh Rev. Dr. Chris Looker dan Rev..Dr. W.A.Roeroe. Di sini, saya diundang untuk menyampaikan Salam dari GMIM dan menyampaikan informasi singkat tentang GMIM.
- Pada hari Minggu, 1 Agustus (pagi), di Old First Church New Jersey. Ibadah ini dipimpin oleh Rev. Joyce Antila Phipps dan Rev.Dr.W.A.Roeroe. Rev Joyce Antila Phipps adalah salah seorang dari dua orang pengundang program kami.
Beberapa hal yang dialami dan diamati dalam ibadah-ibadah ini :
- Ibadah di jemaat-jemaat berbahasa Indonesia menggunakan tata ibadah yang hampir sama dengan GMIM dan GPIB. Para pelayan khusus memakai stola seperti GPIB. Di Jemaat Maranatha NJ, nyanyian dalam dua bahasa : Indonesia dan Inggris ; pemimpin ibadah dapat memakai stola dari United Church of Christ.
- Anak-anak bergabung dengan orang tua sampai pada unsur pembacaan Alkitab. Kemudian, mereka pergi ke ruang-ruang yang telah disiapkan untuk pelayanan firman dari guru-guru sekolah minggu dan di situ mereka berkreasi dan berekreasi. Ada anak-anak yang tidak mengerti bahasa Indonesia.
- Ibadah dalam jemaat berbahasa Inggris, menggunakan tata ibadah yang hampir sama dengan gereja-gereja Protestan di Indonesia. Yang paling banyak hadir adalah orang-orang tua. Namun begitu, ibadah sangat hidup: menyanyi dengan menjiwai lagunya apalagi dengan iringan organ; bila ada yang menarik dalam khotbah, jemaat memberi respon bahkan dengan tertawa bila ada yang sedikit lucu.
- Setiap kali selesai ibadah di gedung gereja, dilanjutkan dengan ramah tamah ringan, dan khususnya bagi jemaat Indonesia ada makan dan minum bersama. Perkenalan, percakapan/sharing, syukur hari ulang tahun anggota dilaksanakan dalam acara ini.
4. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah/pariwisata (sight seeing)
- Bersama Pdt.Olga Assa-Rumengan (30 Juni), mengunjungi tempat-tempat bersejarah di New York city. Tempat-tempat yang dikunjungi ialah United Nation, Grand Central Station dan Madison Square Garden. Dalam perjalanan ini, kami melihat dari dekat lokasi gedung kembar yang runtuh pada 11 November 2003. Perjalanan ini menggunakan train dan bus, serta jalan kaki.
- Bersama dengan jemaat GPI Paulus NJ, ke pusat casino yaitu Atlantic City dengan jarak tempuh hampir 3 jam dari tempat ibadah jemaat. Dengan tiupan angin kencang pada malam hari, kami mengelilingi lokasi ini yang berada di tepi pantai. Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (Minggu, 4 Juli), lokasi ini begitu ramai apalagi baru saja selesai dengan acara kembang api. Sayang sekali, kami tidak sempat melihatnya secara langsung, sebab baru tiba di lokasi pada hampir jam 11 malam. Di tempat ini orang yang ingin mendapat duit dengan cara yang gampang berdatangan. Bahkan ada seorang kakek yang duduk di kursi roda karena ketuaannya didampingi oleh seorang yang membawa koper besar berisi uang dan dikawal oleh polisi memasuki casino pada tengah malam. Bermacam-macam jenis permainan judi tersedia. Ada anggota jemaat yang ikut main : sekedar, siapa tahu menang katanya. Kami tiba kembali di rumah pada jam 05.15 (subuh).
- Masih bersama dengan beberapa anggota jemaat Paulus dan jemaat Metuchen, kami ke tempat Patung Liberty (Statue of Liberty) setelah melewati Ellis Island pada pagi hari sampai sore ( 5 Juli). Dengan kendaraan roda empat, kemudian dengan kapal ferry menuju ke pulau tempat patung ini. Masih di pulau ini, hujan lebat turun, kami semua basah kuyup. Beginilah cuaca di sini, tiba-tiba saja hujan turun, padahal panas matahari sangat terik.
- Dengan diantar (driver) Bapak Ronny Assa (suami Pdt.Olga) dan Roy (7 Juli), dari New Jersey ke New Hampshire dengan jarak tempuh 6 jam. Langsung ke rumah Ibu Catty Assa-Ohy (ibu Ronny Assa) sekaligus pastori dari Pdt. Robby Waworuntu.
- Bersama dengan para pendeta dan keluarganya yang berdomisili dan melayani di New Hampshire (9 Juli) mengadakan percakapan/sharing sekitar pelayanan di jemaat: bentuk dan pola, serta pergumulan/tantangan, kemudian makan malam di salah satu buffet di Maine, kemudian menuju ke Maine Beach/Tower Light.
- Bersama dengan kel.Bororing-Roeroe dan Saartje Potu menuju ke Plymouth, Massachusetts (10 Juli), suatu kota di tepi pantai yang kaya akan sejarah. Di tempat inilah para pengembara dengan kapalnya Mayflower dari Inggris menemukan tempat ini. Kapal ini diabadikan di tepi pelabuhan Plymouth sampai sekarang.
- Bersama dengan Ibu Jetty Moningka-Mailangkay dan Ibu Maartje ( 12 Juli), dari New Hampshire menuju ke Boston : University of Massachusetts (hanya keliling kampus sebab perpustakaan sudah tutup); menyusuri China Town. Di China Town ini, sebagian besar pedagang bukan asli Amerika. Di mana-mana sama saja gaya/cara para pedagang dalam menawarkan dagangannya.
- Bersama dengan Pdt.Michael Lapian (pendeta jemaat Indonesian Reformed Church, NH yang sebagian besar anggota jemaatnya berlatar belakang etnis Cina) pada pagi hari (14 Juli), ke Christian Book Store. Banyak buku dan souvenir Kristen yang lumajan mahal harganya apalagi bila dibandingkan dengan rupiah kita.
- Bersama dengan beberapa orang Majelis Gereja Maranatha (14 Juli) makan siang dan tentu saja percakapan di Old American Buffet di Maine, kemudian dilanjutkan jalan-jalan di Best Buy-Mayces (masih di Maine).
- Bersama dengan beberapa anggota jemaat Marturia Presbyterian Church. Rochester NH yaitu Bapak Johny Pangemanan (anak bersaudara), Bapak Max Makal dan kel. Berty Pontoh (14 Juli), kel. Pdt.Herby Moningka-Mailangkay, makan malam di Uno Restaurant. Percakapan dan senda gurau mewarnai makan malam.
- Bersama dengan kel.Pdt. Waworuntu-Rambing (15 Juli), mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Boston dan Massachusetts Institute Technology.
- Atas usaha Pdt.Roeroe pada 16 Juli kami: Pdt.Roeroe, Ibu Roeroe, Altje, Ike dan saya dengan driver Matindas Roeroe ke Mancester airport dan selanjutnya terbang ke Washington/Maryland dengan South West Airways. Dalam perjalanan ini, kami mendapat pemeriksaan ketat di pintu masuk ruang tunggu. Orang Indonesia masuk jalur merah untuk diperiksa dengan teliti : passport, cepatu/alas kaki, telapak kaki, jas/baju panas, tas bawaan, bahkan seluruh tubuh diperiksa dengan alat yang sudah disiapkan. Keadaan seperti ini sempat membuat kami tegang. Koper bagasi tidak dikunci dan aman sampai kami mengambilnya di Washington. Kami dijemput oleh Pdt.Azer Roeroe dan langsung menuju ke rumah penginapan (kel. Tandayu).
- Bersama dengan Pdt.Theo Sitaniapessy dan Pdt. Azer (16 Juli malam), melihat dari dekat Gedung Putih dan Gedung Kongres.
- Bersama dengan kel.Pdt. Azer (17 Juli), ke Colonial Beach Virginia (kira-kira 5 jam perjalanan) untuk Ibadah Penelaahan Alkitab dengan Jemaat sektor Virginia. Dalam perjalanan pulang, kami mengunjungi George Washington Birthplace National Monument.
- Bersama dengan Pdt. Azer (18 Juli sore), mengunjungi National Presbyterian Church of USA – National Centre. Di tempat ini Pdt.Azer diacarakan penerimaannya sebagai Pendeta PC USA. Kemudian ke Gedung Gereja terbesar di DC. Gereja ini didirikan selama 100 tahun (1890-1990). Siapa saja dapat datang beribadah di sini, namun yang mengelolanya adalah Episkopal Church.
- Bersama dengan Azer dan Fintje (19 Juli subuh), ikut melempar koran di depan rumah/pekarangan pelanggan The Washington Post. Banyak mahasiswa Indonesia yang bekerja sebagai “pelempar koran” di waktu subuh. Bahkan ada mahasiswa yang bisa selesai studi S3 sekaligus dapat membeli 3-4 buah rumah dari penghasilannya melempar koran.
- Bersama dengan ibu Jane Ingkiriwang, isteri Pdt.Theo (19 Juli siang-malam), jalan-jalan di downtown dan mengunjungi National Museum of American History. Di sini dipamerkan berbagai alat transportasi dan komunikasi sejak dulu sampai sekarang, sejarah demokrasi, dsb. Kemudian dilanjutkan lagi ke National Museum of Nature History and National Museum of Man. Di sini ada hope diamond yang sangat terkenal, kerangka dinosaurus, dll.
- Mengunjungi Washington National Catedral. Di sini kami masuk ke dalam dan berdoa masing-masing. Kemudian sekali lagi melihat Capitol Building pada siang hari dan mengambil gambar di depannya.
- Dengan bus dan kemudian kereta api bawah tanah (22 Juli), kami mengunjungi gedung World Bank. Di sini kami telah ditunggu oleh Ibu Joyce Rarumangkay-Rompas (staf penting di World Bank/Penatua di jemaat di mana Pdt.Azer melayani). Sebelum masuk ke gedung ini, kami disidik dulu, difoto lalu mendapatkan kartu pengunjung. Kami dijamu oleh Ibu Joyce di restaurant World Bank. Ibu Joyce mengemukakan beberapa hal menurutnya, yaitu :
1. Orang Indonesia di Amerika masih seperti orang Indonesia : waktu molor,
suka rame-rame, makan minum ala Indonesia.
2. Anak-anak sedang berada di antara dua kebudayaan : Indonesia dan
Amerika.
3. Kebanyakan hanya bergaul dengan sesama Indonesia.
4. Terbanyak anak Indonesia tidak lagi berbahasa Indonesia melainkan bahasa
Inggris. Ada kesulitan bagi guru-guru Sekolah Minggu yang hanya dapat
berbahasa Indonesia.
5. Banyak orang yang sulit untuk mengerem keinginan bekerja karena uang.
Uang menjadi prioritas dan keluarga sering terabaikan.
6. Sukuisme sangat terasa dalam jemaat.
7. Khotbah orang Amerika dengan teknik/caranya yang berbeda dari satu
minggu ke minggu yang lain, dan mengantar pendengar untuk berpikir dan
menentukan sendiri apa yang harus ia lakukan sebagai orang beriman.
8. Banyak anak muda yang memilih bergereja di pentakostal kharismatik.
- Menjemput Wailan Roeroe, anak kel. Pdt. Roeroe- Ponamon (27 Juli) di Lucy Brunsley Elementary School. Selanjutnya mengunjungi National Capital Presbitery PC USA. Di sini kami bertemua dengan Rev. Carla Gorell (Stated Clerk atau semacam Sekretaris Umum dari Presbitery ini ). Pokok penting yang kami bicarakan di sini ialah kemungkinan hubungan bilateral dengan GMIM dalam hal teologi, pengalaman misi, dll. Rev. Carla mengatakan bahwa jemaat Indonesia lebih mudah menyesuaikan diri dengan PC USA dibandingkan dengan jemaat etnis lainnya. Mereka bangga bisa menerima Pdt.Azer sebagai pendeta PC USA.
- Dengan driver Pdt. Theo dan Pdt Azer (28 Juli) dalam waktu 7 jam 30 menit tiba di New Jersey. Dalam perjalanan ini, kami transit di Philadephia : mengunjungi Liberty Bell Center/ National Freedom Bell, Information Centre of Freedom Bell, Indonesian Market.
- Berkunjung ke rumah Pnt.Sylvia Lalamentik di New York (29 Juli), kemudian bersama mengunjungi West Point, sekolah militer yang terkenal. Dari sini kami ke Stony Point Centre, pusat pembinaan warga gereja PC di NY. Di sinilah dilaksanakan pertemuan-pertemuan para pendeta atau pemuda atau sekolah minggu atau kaum perempuan. Di tempat ini fasilitasnya lengkap seperti perpustakaan, ruang ibadah, ruang pertemuan, ruang makan, tempat olahraga di tengah-tengah tanah yang luas.
5. Mengunjungi Sekolah Teologi/Universitas dengan Perpustakaannya.
- Bersama dengan Rev.Joyce Phipps dan Ellen Whitt serta Pdt.Olga Rumengan (1 Juli), mengunjungi New Brunswick Theological Seminary NJ. Bercakap dengan dua orang pimpinan. Kemudian ke perpustakaan. Di tempat ini, kami bertemu dengan kepala perpustakaan, seorang ibu yang bergelar Doktor di bidangnya. Ia menjelaskan tentang berbagai Alkitab, mulai dari yang masih berbentuk gulungan (scroll) kitab dari kulit kambing sampai dalam bentuk kitab dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Jepang yang terbit pada September 1881. Kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi Rutgers University.
Kedua sekolah ini adalah milik dari Gereja Presbyterian.
- Bersama dengan Pdt.Olga (2 Juli), mengunjungi Princeton Theological Seminary dan Princeton University. Karena mahasiswa sedang libur, sekolah cepat ditutup, sehinga kami tidak bisa masuk perpustakaan. Kami sempat masuk kapel mengikuti rehearsal/repetisi/latihan paduan suara para mahasiswa yang kebanyakan berasal dari luar Amerika, seperti nampak ada orang Jepang dan Korea.
- Bersama dengan Kel.Pdt.Waworuntu-Rambing (15 Juli), menuju Boston yakni Harvard University dan Harvard Divinity School. Keliling kampus, ambil foto di tugu Harvard sebagai pendiri Universitas yang sangat terkenal itu. Di Harvard Divinity School, kami masuk ke perpustakaan yang sangat modern : ada deretan buku di rak, ada ruang khusus untuk microfilm books, ada ruang khusus untuk buku-buku yang sudah sangat tua, mengecek buku via kompoter (kami mencobanya), dapat buku gratis. Di perpustakaan ini kami menemukan buku/dissertasi dalam bahasa Jerman dari Pdt.Dr.W.A.Roeroe.
- Dengan driver Bapak Albert Warong dan Pdt.Azer (26 Juli), mengunjungi Union Theological Seminary and Presbyterian Christian Education (UTSPCE) di Richmond Virginia. Dengan diantar oleh Mrs. Rhee (asal Korea) dan President UTSPCE, kami mengelilingi kampus : perpustakaan, ruang-ruang kelas dan asrama. Di tempat ini ada program studi untuk para pendeta jemaat yang ingin melanjutkan studi tanpa meninggalkan pekerjaannya sebagai pendeta jemaat. Kunjungan ini diakhiri dengan makan siang dengan Mrs.Rhee di restaurant china.
- Bersama dengan Pdt.Azer Roeroe ( 27 Juli), kami mengunjungi Wesley Theological Seminary di Washington DC. Bertempat di kapel dalam kampus ini, kami mendapat penjelasan tentang keadaan seminary ini oleh salah seorang editor dari buku The New Intrepreters Bible yang diterbitkan di tempat ini yakni Abingdon Press. Ia mengantar kami ke ruang kerjanya dan menghadiahkan dua buku karangannya untuk Perpustakaan Fakultas Teologi UKIT.
- Hanya berlima (karena rekan yang lain punya acara sendiri ): Pdt.Roeroe, Ibu Roeroe, Pdt.Anie Lala, Ibu Ike Kumaat Tangkudung, dan saya (29 Juli), mengunjungi Union Theological Seminary yang berdekatan dengan Jewish Theological Seminary di kota New York. Karena sudah sore baru tiba dan mahasiswa seminary sedang libur, maka kami hanya dapat keliling kampus dan mengambil beberapa informasi penting di bagian resepsionis. Kedua seminary ini berdekatan dengan The Interchurch Centre di The Riverside Church sebagai pusat segala aktivitas gereja USA dan juga kantor Church World Service(CWS).
6. Percakapan dengan para pendeta asal Indonesia
Mereka yang kami temui adalah:
- Pdt. Olga Mercy Assa Rumengan, STh: pendeta di jemaat First Presbyreian Church of Metuchen, NJ , alumnus FTh UKIT
- Pdt. Helny Rumagit Poluan,STh : pendeta di jemaat Gereja Protestan Indonesia (GPI) Paulus, NJ, alumnus FTh UKIT
- Pdt. Dolfi Rondo, STh : mantan pendeta jemaat GPI Paulus, NJ, alumnus STT Jakarta
- Pdt. Johny Mandey : pendeta di jemaat GPI Immanuel, NY, alumnus FTh UKIT
- Pdt. Robby Waworuntu,STh, MA: pendeta GPI Immanuel, Newington NH, alumnus STT Jakarta dan mantan Dosen FTh UKIT
- Pdt. Sandra Pontoh Longdong,MTh: pendeta Maranatha Indonesian Fellowship, Madbury NH, alumnus FTh UKIT
- Pdt. Fera Waworuntu Rambing,STh : mahasiswa S2 perpustakaan yang sedang meneliti/menulis, berkumpul dengan keluarga Pdt.Waworuntu Rambing di NH, staaf Perpustakaan FTh UKIT yang sedang tugas belajar bidang perpustakaan di Jakarta.
- Pdt. Herby Moningka,STh : pendeta Marturia Presbyterian Church, Rochester NH, alumnus FTh UKIT dan mantan dosen FTh UKIT
- Pdt. Michael Lapian, STh : pendeta jemaat Indonesian Reformed Church, Dover NH, alumnus STT di Bandung
- Pdt. Cyntia Kekung, STh : pendeta pelayanan di Marturia Presbyterian Church, Rochester NH, alumnus FTh UKIT
- Pdt. Azer Roeroe, STh : pendeta Indonesian Christian Fellowship Church, Rockville ,MD dan DC, alumnus FTh UKIT, telah diterima secara resmi dan tercatat sebagai pendeta Presyterian Church USA
- Pdt. Theo Sitaniapessy, STh (asal Ambon menikah dengan orang Minahasa/Tonsea); melayani beberapa persekutuan Kristen di beberapa kota, alumnus FTh UKDW
- Pdt. Nico Lewier (asal Ambon menikah dengan orang Sawangan Airmadidi/Minahasa), pendeta pensiun Indonesian Christian Fellowship Church, Rockville, MD dan DC, alumnus Kursus Teologi STT Jakarta.
- Pdt. Ny. Hermanus Rampengan : pendeta senior di Indonesian Presbyterian Church NY, mantan dosen FTh UKIT.
Percakapan dengan para pendeta ini berlangsung dalam pertemuan yang disengaja seperti di New Hampshire khususnya. Kebanyakan percakapan terjadi dalam perjalanan di mana mereka menyetir kendaraan dan dalam ibadah keluarga, dengan majelis gereja dan sesudah ibadah jemaat. Isu yang selalu dikemukakan ialah :
- Pola pelayanan harus diciptakan sendiri agar dapat menjawab pergumulan jemaat yang sebagian besar waktunya bekerja di luar rumah, seperti penggembalaan tradisonal kunjungan ke rumah sulit. Pengembalaan bagi mereka bisa terjadi dimana saja dan kapan saja dapat bertemu, di gereja, di ibadah rumah tangga ataupun saat bertemu di pusat perbelanjaan.
- Berbahasa Inggris (aktif) sangatlah penting untuk berkomunikasi dengan rekan pendeta atau majelis gereja yang berbahasa Inggris. Apalagi menjadi pendeta juga bagi jemaat berbahasa Inggris seperti Pdt.Olga.
- Teologi/khotbah (dari segi isi dan metode) tidak ada masalah, bahkan sama kualitasnya dengan pendeta “bule”. Hal ini mereka rasakan bila ada pertemuan atau sidang-sidang gerejawi.
- Pengorganisasian (laws), tata ibadah dan pakaian liturgis dirancang sendiri oleh masing-masing jemaat/gereja. Tentu saja dengan memperhatikan latar belakang atau payung organisasinya seperti Presbyterial ( Presbyterian Church/PC) , Congregational (United Church of Christ/UCC), dan ada yang dalam banyak hal mengikuti GPIB/GMIM di Indonesia. Kecuali jemaat yang dilayani oleh Pdt.Olga sudah jelas adalah bagian integral dari PC yaitu Presbyterial (bukan presbiterial sinodal).
- Biaya hidup para pendeta termasuk mendapat rumah tinggal/pastori sangat bervariasi, sebab mereka digaji oleh jemaat masing-masing. Ada jemaat yang tidak membolehkan pendeta dan isteri/suami bekerja, ada pula yang membolehkan suami/isteri pendeta bekerja.
- Seseorang pendeta dapat menjadi pendeta di jemaat-jemaat ini berdasarkan panggilan jemaat. Ada yang langsung ditemukan oleh jemaat, ada pula yang harus melamar setelah membaca pengumuman/iklan di surat kabar kemudian mengikuti “ujian”.
- Ada beberapa pendeta atau isteri pendeta, menjadi pendamping/penerjemah bagi anggota jemaat yang oleh karena masalah keimigrasian harus menghadap pengadilan.
- Otonomisasi jemaat-jemaat berbahasa Indonesia dalam memanggil/mencari pendeta sering membuat perpecahan dalam jemaat yang ujungnya mendirikan jemaat baru. Keadaan seperti telah membuat komunikasi di antara para pendeta tidak berjalan baik.
- Memasukkan dalam kurikulum Fakultas Teologi tentang bagaimana pola pelayanan dalam jemaat yang sangat majemuk dalam hal etnis, bahasa, budaya, pendidikan, sosial psikologis dan pekerjaan di perantauan. Sebagai misal : bagaimana penggembalaan, berkhotbah/PA, menata pelayanan.
7. Shopping dan Pemberian
Berbelanja mulai untuk keperluan pribadi selama 5 minggu sampai untuk ole-ole (tidak bisa tidak) menyertai perjalanan hampir setiap hari. Menyusuri pusat perbelanjaan, tempat pariwisata. Pada setiap hari Sabtu pagi ada sale di rumah-rumah pribadi (garace sale/yard sale) sungguh menyenangkan : lebih banyak untuk sekedar “cuci mata”. Yang menarik ialah ternyata para peminat/pembeli pada hari Sabtu pagi (garace/yard sale) berasal dari berbagai orang termasuk orang “bule” juga.
Dengan “modal dollar” pemberian jemaat dan beberapa pribadi/keluarga di sini, dapatlah membeli “ole-ole” untuk dibawa pulang. Bahkan ada beberapa pribadi/keluarga yang memberi kesempatan untuk belanja sendiri tetapi mereka yang membayar. Ada pula yang memberi ole-ole dari apa yang mereka siapkan di rumahnya, kata nya : “ ini memang telah disiapkan untuk para tamu yang akan berkunjung kemari”.
Evaluasi dan Refleksi
Seminar tentang Pelayanan Masyarakat Multi-Budaya di beberapa tempat di Pantai Bagian Timur Amerika Serikat selama lima minggu, telah menambah wawasan dan pengalaman serta pelayanan baik sebagai mahasiswa maupun sebagai dosen dan pendeta, yaitu :
1. Bunyi surat undangan dalam rangka pengurusan visa adalah untuk mengikuti Seminar. Mengacu pada undangan ini, maka segala persiapan kami lakukan untuk itu. Persiapan dimaksud a.l. menyangkut bahasa/komunikasi dan perlengkapan pribadi seperti pakaian, sepatu, dll. Ternyata, seminar ini lebih banyak berlangsung di dalam perjalanan dan dalam bentuk PA/Khotbah , mengikuti jalannya rapat majelis gereja, percakapan informal/sharing dan rekreasi di berbagai tempat : ruangan/kantor jemaat, gedung gereja, rumah-rumah keluarga, di tepi pantai, di tempat bersejarah/pariwisata, pusat-pusat perbelanjaan. Dari pengalaman ini jelaslah bahwa seminar tidak selalu hanya berlangsung di dalam suatu ruangan/gedung lalu mempercakapkan segala konsep/teori yang dipresentasikan oleh para nara sumber yang telah ditentukan. Seminar ini lebih bersifat studi tour. Seminar menjadi hidup, tidak membosankan, biarpun waktunya panjang. Peserta sekaligus sebagai nara sumber dituntut untuk sehat, disiplin waktu, setia mengikuti program bersama (ada juga beberapa peserta tidak mengikuti kebersamanaan dalam keseluruhan program). Nara sumber yang paling penting dalam seminar ini adalah saudara-saudara yang kami jumpai dan yang memfasilitasi program ini.
2. Gereja perlu mempersiapkan orang-orang yang dapat menjadi pendeta bagi jemaat Indonesia yang berada di luar negeri. Kebutuhan jemaat akan kehadiran seorang pendeta luar biasa. Mereka menginginkan seorang pendeta yang pertama-tama “pandai berkhotbah”. Mereka menilai seorang pendeta dari khotbahnya. Bila khotbah seorang pendeta tamu “cocok” , bisa menggoda jemaat untuk meminta agar sang pendeta tamu boleh melayani mereka (apalagi bila sang pendeta di jemaat itu mulai tidak disenangi). Keadaan ini telah membuat jemaat terpecah-pecah dan membentuk jemaat baru.
3. Menjadi pekerja di negeri orang dengan upah yang tinggi (dibandingkan dengan di Indonesia), telah menggoda orang untuk bekerja sampai dua tiga shift sehari. Setiap shift 8 jam, maka 3 shift berarti 24 jam sehari bekerja. Istirahat hanya di kala jam istirahat dan jam makan. Orang menjadi gila kerja. Untunglah bagi suami isteri yang masih punya anak kecil, mereka mengambil jam kerja yang berbeda supaya tetap ada yang mengurus anak.
4. Banyak di antara warga Indonesia yang sambil bekerja, mengurus surat-surat untuk bisa terus tinggal dan bekerja di sana dengan aman. Bagi keluarga muda, mereka sangat merindukan agar bersamaan dengan mereka bekerja/cari uang, anak mereka boleh terus bersekolah. Inilah salah satu keuntungan kata mereka, yakni anak-anaknya bisa sekolah baik dan gratis. Bagi isteri/suami pekerja dan anak-anaknya tidak ikut, maka sering ada pergumulan berat antara akan tinggal lama/cari uang banyak atau pulang kampung. Bila iman tidak kuat, norma moral berkeluarga dapat saja dilanggar. Inilah juga salah satu masalah yang memerlukan pengembalaan pendeta.
5. Anak-anak yang pernah sekolah di Indonesia/Minahasa, lalu melanjutkan studinya di Amerika, dapat mengikuti proses studi dengan baik bahkan ada yang meraih juara di sekolahnya. Bagi anak-anak ini, tingkat intelegensi mereka sama dengan penduduk asli, hanya pada awalnya ada kesulitan berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
6. Sistem Presbyterial di gereja-gereja Amerika betul-betul dipraktekkan seperti dalam rapat-rapat majelis gereja : di mana pendeta hanya bertindak sebagai moderator, mengarahkan percakapan. Juga dalam hal pemanggilan pendeta dan pembiayaan pendeta : ditentukan oleh rapat majelis. Segala sesuatu yang akan terjadi di jemaat, harus melalui rapat majelis, seperti a.l. pergantian pemimpin ibadah minggu harus dirapatkan dulu, tidak boleh hanya kehendak satu dua orang. Betul-betul demokratis. Kenyataan pemanggilan pendeta bermakna positif yaitu agar para pendeta betul-betul berkualifikasi sesuai dengan kebutuhan jemaat dan akan terus melayani dengan maksimal. Ada pula makna negatifnya, yaitu persaingan yang tidak sehat di antara pendeta dan di antara jemaat-jemaat. Jemaatisme dapat tumbuh subur bila aspek negatifnya dominan. Kasus ini terlihat jelas di jemaat-jemaat berbahasa Indonesia. Juga bisa membuat pendeta tidak kritis terhadap majelis gereja dan jemaat.
7. Ternyata ada banyak orang Minahasa dengan berbagai latar belakang denominasi gereja. Banyak anak muda beribadah di gereja pilihannya sendiri, tidak harus ikut orang tua di DC misalnya. Alasan mereka a.l. ialah di sana, dalam ibadah di gereja pilihannya mereka dapat berekspresi dan berkreasi.
8. Budaya Minahasa masih kental di kalangan orang dewasa seperti: “bakumpul, bacirita, makan-minum bersama”, bahkan persekutuan suku cukup berpengaruh dalam berjemaat.
9. Fakultas Teologi UKIT dapat berbangga, karena tamatannya (perempuan dan laki-laki) tidak kalah berkualitas dengan tamatan sekolah teologi lainnya di Indonesia, bahkan dengan mereka pendeta “bule”.
10. Penelaahan Alkitab pertama yang kami ikuti dengan tema Paul Mission telah mengantar Seminar tentang Pelayanan dalam Masyarakat Multi-Budaya dialami, diikuti dan dihayati sebagai kekayaan Kasih Karunia Tuhan Allah di dalam Yesus dan oleh kuat kuasa Roh Kudus. Berbagai aspek kehidupan masyarakat/jemaat Indonesia di Amerika Serikat dapat kami amati bahkan alami bersama. Bukan hanya teori/konsep tetapi praktek/pengalaman hidup. Pengalaman berseminar seperti ini diharapkan dapat melahirkan teori/konsep baru dalam pelayanan gereja di masa kini dan masa yang akan datang, di sini dan di sana dan di mana-mana. Seminar ini sungguh mahal biayanya. Setiap orang menggunakan dana untuk : biaya perjalanan Tomohon-Amerika (pp), biaya perjalanan hampir setiap hari (dengan mobil, train, kapal ferry/kapal pesiar, pesawat dalam negeri), penginapan/rumah jemaat, konsumsi,dll. Ini berkat yang tak terhingga yang Tuhan karuniakan melalui para donatur di Minahasa dan jemaat-jemaat di Amerika Serikat. Tentu saja peran Pdt.Roeroe sangat menentukan dalam mengorganisasikan segala program sehingga berjalan dengan lancar padahal sebagian besar program baru saja diatur di sana dengan segala konsekuensi dana. Ia telah menjadi direktur, guru, bapak, teman dan guide yang tak kenal lelah terutama pada saat harus jalan kaki menyusuri satu tempat ke tempat lain sambil menjelaskan dan mengambil gambar.
Selasa, 05 Mei 2009
SS ke-73 GMIM, Belajar dari Pengalaman di UCA
SIDANG SINODE KE-73 GMIM
Belajar dari pengalaman ekumenis
Tinggal beberapa jam lagi, Sidang Sinode ke-73 Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) akan berlangsung di Bukit Inspirasi Tomohon, yakni 14 -19 Maret 2005. Kita sudah melewati berbagai tahapan pemilihan di jemaat, wilayah dan kategorial BIPRA. Ada banyak yang berhasil melaksanakannya dengan baik. Tetapi masih ada pula yang harus diselesaikan di Sidang Sinode nanti. Kenyataan ini menunjukkan bahwa dalam beberapa hal, kita mengalami kesulitan dengan pelaksaan Tata Gereja 1999. GMIM sedang bergumul dengan eksistensinya yang pada tahun lalu baru saja merayakan dengan akbar 70 tahun bersinode.
Pergumulan GMIM ini pasti sedang kita doakan, agar kita mendapat jalan untuk dapat menyelesaikan pergumulan tersebut. Kita juga sedang mendoakan pelaksaan SS ke-73 nanti. Inilah sikap gerejawi kita, yaitu berdoa. Berdoa mohon hikmat dari Tuhan. Seminar, lokakarya, pertemuan, sosialisasi untuk tegaknya tata gereja dan untuk mencari pemimpin atau lebih tepat pelayan dalam SS nanti hanya akan berhasil bila kita berdoa : biarlah kehendak-Mu, Tuhan, yang jadi , bukan kehendak kami. Amin. Di minggu sengsara ini, kita mengingat akan Yesus bersama para murid di taman Gertsemani (Markus 14:32-42). Di sini Yesus berdoa untuk pergumulannya yang berat, Ia merasa takut dan gentar, hatinya sedih seperti mau mati rasanya. Yesus sampai tiga kali berdoa untuk hal yang sama. Sementara itu para muridnya sedang tertidur dan beristirahat sampai tiba saatnya Anak Manusia diserahkan ke tangan orang berdosa. Hampir setiap SS bertepatan dengan minggu sengsara Yesus. Kiranya , di persidangan nanti, doa akan menjadi tindakan yang utama.
Patutlah kita belajar dari persidangan gereja-gereja mitra kita yang menempatkan doa sebagai jalan utama untuk mengambil keputusan. Berikut ini mekanisme persidangan dalam Sidang Raya dari Uniting Church in Australia, Juli 2003. Tidak untuk ditiru mentah-mentah, tetapi paling kurang sebagai perenungan bersama sesuai konteks kita termasuk SDM kita yang akan bersidang sinode nanti.
- Setiap hari dimulai dengan Ibadah Penelaahan Alkitab yang secara khusus membahas Tema dan doa serta pujian menjadi bagian integral dari pemahaman PA tersebut. Sungguh Ibadah/PA yang dipersiapkan dengan matang.
- Doa sangat berperan dalam acara persidangan ini. Setiap sesi dibuka dan ditutup dengan doa oleh Ketua Sinode. Bila dalam sesi tertentu ada beberapa pokok yang tidak mencapai konsensus (mufakat), Ketua Sinode memimpin doa. Dan selanjutnya bila belum, para peserta menurut kelompok tempat duduk berdoa. Ketua Sinode berkata : silahkan berbicara dan berdoa di kelompok masing-masing. Baru kemudian diambil konsensus bersama (pleno). Puji Tuhan, pada akhirnya mereka berhasil mencapai konsensus.
- Suasana sidang sangat tertib dan damai. Penghargaan kepada pimpinan sidang sangat tinggi. Para peserta sudah duduk di tempat masing-masing baru sang Ketua Sinode menuju ke tempat memimpin sidang. Peserta berdiri, dan Ketua langsung memimpin doa (singkat).
- Pengambilan keputusan /konsensus dilakukan dengan cara mengangkat kartu berwarna merah bila setuju dan kartu warna biru bila tidak setuju. Yang menarik di sini ialah, biarpun hanya satu dua orang yang mengangkat kartu biru (tidak setuju), diberi kesempatan untuk mengutarakan alasannya. Sesudah itu, pleno diberi kesempatan untuk menanggapi alasannya dengan cara mengangkat kartu warna merah bila setuju dan kartu warna biru bila tidak setuju . Bila ada yang setuju dengan alasan mengapa seseorang tidak setuju, maka dibuka satu babak untuk mendiskusikan alasan ini. Pada umumnya mencapai konsensus. Dan bila memang sulit untuk mencapai konsensus, maka doa adalah jalan untuk mencapai konsensus. Cara seperti ini mengharuskan setiap peserta tahu mengapa ia setuju atau tidak setuju tentang suatu pokok yang sedang dibicarakan. Tidak ada yang ngotot-ngototan untuk memaksakan kehendaknya.
- Penggunaan waktu bicara diatur melalui time light. Pada saat seseorang mulai bicara, lampu warna hijau menyala, kemudian warna kuning untuk mengingatkan waktu hampir habis, dan bila warna merah menyala, maka pembicara sudah harus berhenti (waktu bicara hanya 3 menit). Memang ada juga satu dua orang yang minta perpanjangan waktu bicara. Ketua menanyakan kepada peserta lainnya, bila disetujui-diberi kesempatan hanya satu menit (lampu kuning menyala).
Demikian sedikit sharing untuk pelaksanaan SS ke-73. Sebab a.l. untuk itulah maksudnya kita bermitra dan mengikuti berbagai event ekumenis yang telah mengeluarkan banyak dana. Kiranya Tuhan Yesus terus memberkati gereja-Nya ini.
Tomohon, 8 Maret 2005.
Belajar dari pengalaman ekumenis
Tinggal beberapa jam lagi, Sidang Sinode ke-73 Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) akan berlangsung di Bukit Inspirasi Tomohon, yakni 14 -19 Maret 2005. Kita sudah melewati berbagai tahapan pemilihan di jemaat, wilayah dan kategorial BIPRA. Ada banyak yang berhasil melaksanakannya dengan baik. Tetapi masih ada pula yang harus diselesaikan di Sidang Sinode nanti. Kenyataan ini menunjukkan bahwa dalam beberapa hal, kita mengalami kesulitan dengan pelaksaan Tata Gereja 1999. GMIM sedang bergumul dengan eksistensinya yang pada tahun lalu baru saja merayakan dengan akbar 70 tahun bersinode.
Pergumulan GMIM ini pasti sedang kita doakan, agar kita mendapat jalan untuk dapat menyelesaikan pergumulan tersebut. Kita juga sedang mendoakan pelaksaan SS ke-73 nanti. Inilah sikap gerejawi kita, yaitu berdoa. Berdoa mohon hikmat dari Tuhan. Seminar, lokakarya, pertemuan, sosialisasi untuk tegaknya tata gereja dan untuk mencari pemimpin atau lebih tepat pelayan dalam SS nanti hanya akan berhasil bila kita berdoa : biarlah kehendak-Mu, Tuhan, yang jadi , bukan kehendak kami. Amin. Di minggu sengsara ini, kita mengingat akan Yesus bersama para murid di taman Gertsemani (Markus 14:32-42). Di sini Yesus berdoa untuk pergumulannya yang berat, Ia merasa takut dan gentar, hatinya sedih seperti mau mati rasanya. Yesus sampai tiga kali berdoa untuk hal yang sama. Sementara itu para muridnya sedang tertidur dan beristirahat sampai tiba saatnya Anak Manusia diserahkan ke tangan orang berdosa. Hampir setiap SS bertepatan dengan minggu sengsara Yesus. Kiranya , di persidangan nanti, doa akan menjadi tindakan yang utama.
Patutlah kita belajar dari persidangan gereja-gereja mitra kita yang menempatkan doa sebagai jalan utama untuk mengambil keputusan. Berikut ini mekanisme persidangan dalam Sidang Raya dari Uniting Church in Australia, Juli 2003. Tidak untuk ditiru mentah-mentah, tetapi paling kurang sebagai perenungan bersama sesuai konteks kita termasuk SDM kita yang akan bersidang sinode nanti.
- Setiap hari dimulai dengan Ibadah Penelaahan Alkitab yang secara khusus membahas Tema dan doa serta pujian menjadi bagian integral dari pemahaman PA tersebut. Sungguh Ibadah/PA yang dipersiapkan dengan matang.
- Doa sangat berperan dalam acara persidangan ini. Setiap sesi dibuka dan ditutup dengan doa oleh Ketua Sinode. Bila dalam sesi tertentu ada beberapa pokok yang tidak mencapai konsensus (mufakat), Ketua Sinode memimpin doa. Dan selanjutnya bila belum, para peserta menurut kelompok tempat duduk berdoa. Ketua Sinode berkata : silahkan berbicara dan berdoa di kelompok masing-masing. Baru kemudian diambil konsensus bersama (pleno). Puji Tuhan, pada akhirnya mereka berhasil mencapai konsensus.
- Suasana sidang sangat tertib dan damai. Penghargaan kepada pimpinan sidang sangat tinggi. Para peserta sudah duduk di tempat masing-masing baru sang Ketua Sinode menuju ke tempat memimpin sidang. Peserta berdiri, dan Ketua langsung memimpin doa (singkat).
- Pengambilan keputusan /konsensus dilakukan dengan cara mengangkat kartu berwarna merah bila setuju dan kartu warna biru bila tidak setuju. Yang menarik di sini ialah, biarpun hanya satu dua orang yang mengangkat kartu biru (tidak setuju), diberi kesempatan untuk mengutarakan alasannya. Sesudah itu, pleno diberi kesempatan untuk menanggapi alasannya dengan cara mengangkat kartu warna merah bila setuju dan kartu warna biru bila tidak setuju . Bila ada yang setuju dengan alasan mengapa seseorang tidak setuju, maka dibuka satu babak untuk mendiskusikan alasan ini. Pada umumnya mencapai konsensus. Dan bila memang sulit untuk mencapai konsensus, maka doa adalah jalan untuk mencapai konsensus. Cara seperti ini mengharuskan setiap peserta tahu mengapa ia setuju atau tidak setuju tentang suatu pokok yang sedang dibicarakan. Tidak ada yang ngotot-ngototan untuk memaksakan kehendaknya.
- Penggunaan waktu bicara diatur melalui time light. Pada saat seseorang mulai bicara, lampu warna hijau menyala, kemudian warna kuning untuk mengingatkan waktu hampir habis, dan bila warna merah menyala, maka pembicara sudah harus berhenti (waktu bicara hanya 3 menit). Memang ada juga satu dua orang yang minta perpanjangan waktu bicara. Ketua menanyakan kepada peserta lainnya, bila disetujui-diberi kesempatan hanya satu menit (lampu kuning menyala).
Demikian sedikit sharing untuk pelaksanaan SS ke-73. Sebab a.l. untuk itulah maksudnya kita bermitra dan mengikuti berbagai event ekumenis yang telah mengeluarkan banyak dana. Kiranya Tuhan Yesus terus memberkati gereja-Nya ini.
Tomohon, 8 Maret 2005.
Sidang Raya The Uniting Church in Australia
LAPORAN MENGIKUTI
THE TENTH ASSEMBLY OF THE UNITING CHURCH IN AUSTRALIA
Waktu pelaksanaan : 12 –19 Juli 2003
Tempat pelaksanaan : University of Melbourne :
- untuk acara sidang bertempat di Wilson Hall
- untuk penginapan, tempat makan pagi dan malam dan rapat-rapat seksi bertempat di : St. Hilda`s College, Ormond College, St.Queen`s College.
- untuk tempat makan siang khusus para tamu di University Union Building Raymond Priestly Room (setiap jam 12.30-1.45 pm).
Tema Sidang : Witness the Glory of God
Acara persidangan dimulai pada hari Sabtu, 12 Juli 2003 dengan ibadah pembukaan bertempat di the Princess Theatre. Dalam ibadah ini dilantik presiden baru : Rev.Dr.Dean Drayton (hasil pemilihan Juli 2000, untuk periode 2003-2006) oleh: Rev.Prof.Dr.James Haire yang akan mengakhiri tugasnya sebagai presiden periode 2000-2003 (yang terpilih pada 1997). Selanjutnya Pdt.Haire menjadi Wakil Presiden untuk periode 2003-2006 yang a.l.bertugas menggantikan presiden yang baru dalam memimpin sidang bila yang bersangkutan berhalangan seperti ada wawancara dengan pers atau urusan lain. Sayang acara ini kami tidak dapat ikuti karena kami baru tiba pada hari Minggu, 13 Juli 2003 jam 06.30.
Hari kedua sampai hari ketujuh (Senin sampai Sabtu) berlangsung sesuai dengan acara yang sudah dijadualkan sebelumnya, namun setiap hari ada jadual baru dibagikan sesuai dengan perkembangan jalannya persidangan. Berikut ini beberapa hal penting yang menarik untuk dishare :
1. Agenda persidangan dialokasikan dalam 33 sesi untuk 89 proposal termasuk proposal 32 yaitu : Partner Churches (Uniting International Mission, UIM). Semua proposal ini dibahas dalam sidang baik melalui kelompok kerja maupun dalam pleno. Khusus untuk proposal 32, beberapa tamu yang sudah ditetapkan lebih dulu oleh UIM mempresentasikan masalah-masalah yang dihadapi. Sebagai contoh : proposal tentang Bali dan Indonesia Timur (Ambon) sudah ada dalam folder peserta, juga Bishop Bali, Pdt.Ayub Suyagya (GKPB) dan wakil dari Ambon (GPM), Pdt.Dr. Margaretha Hendrik-Ririmase juga mempresentasikan (dalam pleno) tentang situasi Bali dan Ambon. Demikian pula para tamu dari Taiwan, Thailand, Korea Selatan, PNG, Myanmar, Srilanka, India dan negara-negara di Pacifik. Dalam bidang multicultural ministry pada sesi 17 : come and meet the neighbours, ditampilkan 5 nara sumber yakni dari Islam, Yahudi, Hindu, Ambon dan PNG. Sesi ini berjalan dalam bentuk wawancara dalam pleno yang dipimpin oleh seorang dari bidang multicultural.
2. Para tamu mendapat tempat makan yang khusus dengan beberapa peserta dan bidang UIM pada setiap makan siang. Sesudah makan siang para tamu yang sudah ditentukan lebih dulu untuk membagi pengalaman, perjuangan, harapan dan cita-cita berdasarkan visi dan misi gerejanya masing-masing. Sharing ini ditambah dengan presentasi dalam pleno (lihat butir 1) dipakai untuk melengkapi proposal yang sudah ada. Semua ini kemudian ditetapkan sebagai program UIM untuk tiga tahun mendatang. Di hari kedua persidangan, semua tamu dari luar negeri diperkenalkan secara resmi oleh bagian UIM kepada Presiden dan kepada para peserta.
3. Tiap pagi (09.00-10.00) hari Senin sampai Jumat diadakan Ibadah Penelaahan Alkitab yang khusus membahas tema persidangan yaitu : Witness the Glory of God. PA ini dipimpin oleh seorang saja yaitu Rev.Prof.Dorothy Lee. Bahan-bahan Alkitab diambil dari : Johanes 1:1-18; Lukas 9:28-36; 2 Korintus 3:7-18; Markus 13:24-37; Wahyu 21:9-14,22-27. Alokasi waktu dalam ibadah ini selalu sama yaitu : 15 menit pujian dan doa penyembahan, 30 menit PA oleh pemimpin PA dan 15 menit untuk diskusi kelompok di tempat duduk masing-masing dengan orang yang berdekatan (untuk para peserta mendapat tempat duduk di sekitar meja bundar). Pujian/nyanyian selalu berkaitan dengan tema yang dipimpin oleh seorang prokantor yang hebat. Setiap kali menyanyi, jemaat spontan berdiri.
4. Doa sangat berperan dalam acara persidangan. Setiap sesi dibuka dan ditutup dengan doa oleh Presiden, bahkan bila dalam satu sesi tertentu ada beberapa pokok yang mencapai konsensus, selalu diakhiri dengan doa juga oleh Presiden. Doa juga dilakukan para peserta menurut kelompok meja bundar bila ada masalah yang masih sulit mendapatkan konsensus dalam pleno. Dalam hal ini, presiden mengatakan silahkan berbicara dan berdoa (speak and pray) di meja masing-masing. Baru sesudah itu kembali mencapai konsensus dalam pleno.
5. Salah satu topik hangat dan alot dibicarakan ialah soal seksualitas, yakni masalah gay dan lesbian. Sidang tetap memutuskan untuk tidak memutuskan apakah gay dan lesbian dapat menjadi pendeta dan pemimpin dalam gereja. Hal itu diserahkan kepada masing-masing presbiteri (semacam wilayah) dan jemaat. Kelompok peserta yang sangat menolak tentang adanya gay dan lesbian ini ialah peserta suku Aborigin. Kalau sampai Sidang memutuskan untuk menerima mereka , maka yang tidak setuju akan keluar dari UCA. Kalau sidang memutuskan untuk menolak gay dan lesbian, maka itu tidak realistis sebab memang sudah ada pendeta yang demikian. Menurut informasi dari beberapa anggota jemaat yang ditemui pada ibadat hari minggu, 20 Juli 2003, mengatakan bahwa keputusan sidang tentang hal ini sama saja dengan keputusan sidang tahun 1997. Tidak ada yang baru.
6. Suasana sidang sangat tertib dan damai. Penghargaan kepada pimpinan sidang sangat tinggi. Sebagai contoh ;
- para peserta sudah duduk di tempat masing-masing baru presiden menuju ke tempat memimpin sidang. Saat presiden memasuki ruang sidang para peserta diminta untuk berdiri. Sesampainya presiden di tempatnya memimpin sidang, ia langsung berdoa (singkat saja).
- sementara ibadah pagi/PA berlangsung pintu masuk ruang sidang ditutup. Yang terlambat boleh duduk menonton saja dari balik dinding dan pintu kaca (tempat panitia). Biasanya yang terlambat para tamu. Syukur kami peserta dari GMIM tidak pernah terlambat ikut acara ini.
- pengambilan keputusan/konsensus dilakukan dengan cara mengangkat kartu berwarna merah bila setuju dan kartu berwarna biru bila tidak setuju. Yang menarik di sini ialah, biarpun hanya satu dua orang yang mengangkat kartu biru (tidak setuju) diberi kesempatan untuk mengutarakan alasannya. Sesudah itu pleno diberi kesempatan untuk menanggapi alasannya dengan cara mengangkat kartu merah bila setuju dengan dan kartu biru bila tidak setuju dengan alasannya. Cara ini pada akhirnya bisa mencapai kesepakatan. Cara ini mengharuskan setiap peserta tahu mengapa ia setuju atau tidak setuju tentang sesuatu pokok yang sedang dibicarakan.
- penggunaan waktu bicara diatur melalui time light (seperti traffic light). Pada saat seseorang mulai bicara, lampu berwarna hijau menyala, kemudian warna kuning menyala untuk mengingatkan waktu hampir habis, dan bila warna merah menyala, maka pembicara sudah harus berhenti (waktu bicara hanya 3 menit). Memang ada juga satu dua orang yang minta perpanjangan waktu bicara. Untuk itu, Presiden menanyakan dulu kepada peserta lainnya, bila disetujui-diberi kesempatan hanya satu menit saja (lampu kuning menyala).
7. Presiden periode 2000-2003 baru menyampaikan laporannya pada hari kedua,13 Juli 2003, padahal ia sudah melantik presiden baru periode 2003-2006. Yang menarik dari struktur kepemimpinan UCA ialah the Retiring President masih tetap berfungsi memimpin persidangan bila presiden yang baru berhalangan seperti a.l.menghadiri konferensi pers di luar. Bahkan selama periode yang baru ini presiden yang pensiun itu berfungsi sebagai wakil presiden.
8. Dalam persidangan ini juga dipilih presiden untuk periode 2006-2009, demikian juga ditetapkan semacam komisi kerja yang akan bekerja untuk periode yang baru ini. Semua calon sudah tertulis dalam folder peserta lengkap dengan biodata mereka masing-masing. Presiden yang terpilih untuk periode berikut ialah Rev.Gregor Henderson (ia pernah menjabat sekretaris jendral selama 12 tahun). Pemilihan berlangsung dengan cara memberi kartu suara yang langsung dikumpulkan oleh panitia. Dengan terpilihnya presiden untuk periode 2006-2009 (pada hari Kamis, 16 Juli 2003), maka kepemimpinan UCA sekarang dipimpin oleh 3 orang pesiden yakni : the retiring president, the new president, the president –elect.
9. Para tamu mempunyai jadual khusus (selain mengikuti acara-acara persidangan) seperti makan siang dan sharing, kunjungan ke Aboriginal Creative (110 km dari lokasi persidangan) pada tanggal 17 Juli, makan malam di Jemaat Centerbury Uniting Church pada tanggal 16 Juli (salah satu jemaat yang berlatarbelakang suku Tonga). Sebelum acara di Canterbury, beberapa tamu yang terpilih mewakili setiap negara bertemu dengan Menteri Kesehatan Negara Bagian Victoria di Gedung Parlemen. Dengan jadual khusus seperti ini lihat juga point 2, para tamu betul-betul merasa diperhatikan dan berarti bagi mereka.
10. Ibadah Minggu dan Perjamuan Kudus pada tanggal 13 Juli di ruang sidang, melibatkan seluruh kategori dalam jemaat, mulai dari anak-anak sampai para lansia. Bahkan anak-anak diberi kesempatan untuk mengekspresikan kebutuhan dan harapan mereka untuk gereja masa kini dan nanti.
Dalam acara penutupan persidangan ini, ada ucapan terima kasih dari President atas nama UCA untuk kehadiran para tamu, dan menyampaikan salam untuk gereja-gereja mitranya. Salam khusus dari Pdt.Prof.Dr.James Haire, Pdt.John Barr, Pdt.Robert Johnson untuk GMIM.
Dalam kesempatan mengikuti persidangan ini, kami mendapat kesempatan untuk bertemu dengan saudara-saudara yang bergabung dalam jemaat Camberwell Uniting Church :
Pada hari Kamis, 17 Juli , bersama-sama dengan para tamu dari GPM,GMIH dan Bapak Tonny Waworuntu dari CCA, kami diundang makan malam dengan jemaat berbahasa Indonesia.
Setelah selesai persidangan pada hari Sabtu, 19 Juli sesudah makan siang, kami (dari GMIM dan 2 orang dari GMIH) dijemput oleh Ibu Sintje Makadada dan Anto Pangaila (anak kel.Pangaila-Kaunang) untuk ke rumah ibu Makadada. Sore itu kami diantar jalan-jalan ke Dandenong oleh Ibu Sintje. Malam hari bersama dengan kel. Kalonta-Maengkom ke gedung Crown (entertaiment center). Di tempat ini kami secara khusus melihat aktivitas para pemain dan pengunjung Casino.
Pada malam 17 Juli, kami berempat menginap di tempat yang berbeda. Pdt.Tampemawa di rumah kel. Lengkong yang lumayan jauh dari pusat kota. Saya dan Pdt.Sartje Papuling (dari GMIH) menginap di rumah ibu Sintje. Pdt.Marthen Budiman (dari GMIH) menginap di rumah kel. Kalonta-Maengkom.
Hari Minggu, 20 Juli kami berkesempatan beribadah dua kali di jemaat Camberwell. Jam 10.00 dalam ibadah jemaat berbahasa Inggris, saya mendapat kesempatan untuk berkhotbah, sedang liturginya oleh Rev.Dr.Antony Floyd. Pada jam 2 pm dalam ibadah jemaat berbahasa Indonesia , Pdt. Adrian Tampemawa berkesempatan berkhotbah, sedang liturginya oleh Penatua Welly Corneles. Sesudah ibadah dilanjutkan dengan makan bersama di ruang makan minum gereja. Selesai acara di gedung gereja, kami diantar untuk jalan-jalan ke gedung Crown lagi.
Di tempat ini (Crown) saya sempat bercakap dengan seorang ibu asal Batak (menikah dengan orang Manado) yang sehari-harinya bekerja di Casino, mengatakan bahwa sebagai seorang yang tahu banyak hal tentang casino, maka ia tidak setuju bila di Manado dan di Batak yang nota bene daerah Kristen dibangun pusat perjudian seperti ini. Alasannya a.l. kehidupan keluarga akan berantakan.
Jam 10 malam kami diantar ke airport oleh sekelompok kawanua dengan lebih dulu jalan-jalan mengelilingi kota Melbourne dan melintasi kembali West Gate yang terkenal itu untuk melihat keindahan kota Melbourne di malam hari.
Atas pertemuan dengan kawanua ini, mereka menyampaikan salam untuk semua yang pernah berkunjung ke Melbourne dan kepada Badan Pekerja Sinode GMIM. Khusus berhubungan dengan kemitraan jemaat Camberwell dengan GMIM, Pdt.Tony Floyd dan Ketua Jemaat berbahasa Indonesia Bapak Lucky Kalonta dan Pdt. Apwee Ting (pendeta untuk jemaat berbahasa Indonesia), akan terus ditingkatkan. Pada Bulan September nanti mereka akan datang di GMIM untuk Pelatihan Manajemen Yayasan-Yayasan. Kemitraan khusus dengan jemaat Riedel Tondano akan dikembangkan dengan dua jemaat lainnya yaitu jemaat Sukur dan Watudambo. Bulan Desember nanti mereka akan datang untuk hal ini.
Akhirnya, terima kasih kepada teman-teman BPS yang mempercayakan kami berdua (berdasarkan rapat BPS tanggal 23 Mei 2003) untuk menghadiri the Tenth Assembly of the Uniting Church in Australia ini.
Tomohon, 6 Agustus 2003
THE TENTH ASSEMBLY OF THE UNITING CHURCH IN AUSTRALIA
Waktu pelaksanaan : 12 –19 Juli 2003
Tempat pelaksanaan : University of Melbourne :
- untuk acara sidang bertempat di Wilson Hall
- untuk penginapan, tempat makan pagi dan malam dan rapat-rapat seksi bertempat di : St. Hilda`s College, Ormond College, St.Queen`s College.
- untuk tempat makan siang khusus para tamu di University Union Building Raymond Priestly Room (setiap jam 12.30-1.45 pm).
Tema Sidang : Witness the Glory of God
Acara persidangan dimulai pada hari Sabtu, 12 Juli 2003 dengan ibadah pembukaan bertempat di the Princess Theatre. Dalam ibadah ini dilantik presiden baru : Rev.Dr.Dean Drayton (hasil pemilihan Juli 2000, untuk periode 2003-2006) oleh: Rev.Prof.Dr.James Haire yang akan mengakhiri tugasnya sebagai presiden periode 2000-2003 (yang terpilih pada 1997). Selanjutnya Pdt.Haire menjadi Wakil Presiden untuk periode 2003-2006 yang a.l.bertugas menggantikan presiden yang baru dalam memimpin sidang bila yang bersangkutan berhalangan seperti ada wawancara dengan pers atau urusan lain. Sayang acara ini kami tidak dapat ikuti karena kami baru tiba pada hari Minggu, 13 Juli 2003 jam 06.30.
Hari kedua sampai hari ketujuh (Senin sampai Sabtu) berlangsung sesuai dengan acara yang sudah dijadualkan sebelumnya, namun setiap hari ada jadual baru dibagikan sesuai dengan perkembangan jalannya persidangan. Berikut ini beberapa hal penting yang menarik untuk dishare :
1. Agenda persidangan dialokasikan dalam 33 sesi untuk 89 proposal termasuk proposal 32 yaitu : Partner Churches (Uniting International Mission, UIM). Semua proposal ini dibahas dalam sidang baik melalui kelompok kerja maupun dalam pleno. Khusus untuk proposal 32, beberapa tamu yang sudah ditetapkan lebih dulu oleh UIM mempresentasikan masalah-masalah yang dihadapi. Sebagai contoh : proposal tentang Bali dan Indonesia Timur (Ambon) sudah ada dalam folder peserta, juga Bishop Bali, Pdt.Ayub Suyagya (GKPB) dan wakil dari Ambon (GPM), Pdt.Dr. Margaretha Hendrik-Ririmase juga mempresentasikan (dalam pleno) tentang situasi Bali dan Ambon. Demikian pula para tamu dari Taiwan, Thailand, Korea Selatan, PNG, Myanmar, Srilanka, India dan negara-negara di Pacifik. Dalam bidang multicultural ministry pada sesi 17 : come and meet the neighbours, ditampilkan 5 nara sumber yakni dari Islam, Yahudi, Hindu, Ambon dan PNG. Sesi ini berjalan dalam bentuk wawancara dalam pleno yang dipimpin oleh seorang dari bidang multicultural.
2. Para tamu mendapat tempat makan yang khusus dengan beberapa peserta dan bidang UIM pada setiap makan siang. Sesudah makan siang para tamu yang sudah ditentukan lebih dulu untuk membagi pengalaman, perjuangan, harapan dan cita-cita berdasarkan visi dan misi gerejanya masing-masing. Sharing ini ditambah dengan presentasi dalam pleno (lihat butir 1) dipakai untuk melengkapi proposal yang sudah ada. Semua ini kemudian ditetapkan sebagai program UIM untuk tiga tahun mendatang. Di hari kedua persidangan, semua tamu dari luar negeri diperkenalkan secara resmi oleh bagian UIM kepada Presiden dan kepada para peserta.
3. Tiap pagi (09.00-10.00) hari Senin sampai Jumat diadakan Ibadah Penelaahan Alkitab yang khusus membahas tema persidangan yaitu : Witness the Glory of God. PA ini dipimpin oleh seorang saja yaitu Rev.Prof.Dorothy Lee. Bahan-bahan Alkitab diambil dari : Johanes 1:1-18; Lukas 9:28-36; 2 Korintus 3:7-18; Markus 13:24-37; Wahyu 21:9-14,22-27. Alokasi waktu dalam ibadah ini selalu sama yaitu : 15 menit pujian dan doa penyembahan, 30 menit PA oleh pemimpin PA dan 15 menit untuk diskusi kelompok di tempat duduk masing-masing dengan orang yang berdekatan (untuk para peserta mendapat tempat duduk di sekitar meja bundar). Pujian/nyanyian selalu berkaitan dengan tema yang dipimpin oleh seorang prokantor yang hebat. Setiap kali menyanyi, jemaat spontan berdiri.
4. Doa sangat berperan dalam acara persidangan. Setiap sesi dibuka dan ditutup dengan doa oleh Presiden, bahkan bila dalam satu sesi tertentu ada beberapa pokok yang mencapai konsensus, selalu diakhiri dengan doa juga oleh Presiden. Doa juga dilakukan para peserta menurut kelompok meja bundar bila ada masalah yang masih sulit mendapatkan konsensus dalam pleno. Dalam hal ini, presiden mengatakan silahkan berbicara dan berdoa (speak and pray) di meja masing-masing. Baru sesudah itu kembali mencapai konsensus dalam pleno.
5. Salah satu topik hangat dan alot dibicarakan ialah soal seksualitas, yakni masalah gay dan lesbian. Sidang tetap memutuskan untuk tidak memutuskan apakah gay dan lesbian dapat menjadi pendeta dan pemimpin dalam gereja. Hal itu diserahkan kepada masing-masing presbiteri (semacam wilayah) dan jemaat. Kelompok peserta yang sangat menolak tentang adanya gay dan lesbian ini ialah peserta suku Aborigin. Kalau sampai Sidang memutuskan untuk menerima mereka , maka yang tidak setuju akan keluar dari UCA. Kalau sidang memutuskan untuk menolak gay dan lesbian, maka itu tidak realistis sebab memang sudah ada pendeta yang demikian. Menurut informasi dari beberapa anggota jemaat yang ditemui pada ibadat hari minggu, 20 Juli 2003, mengatakan bahwa keputusan sidang tentang hal ini sama saja dengan keputusan sidang tahun 1997. Tidak ada yang baru.
6. Suasana sidang sangat tertib dan damai. Penghargaan kepada pimpinan sidang sangat tinggi. Sebagai contoh ;
- para peserta sudah duduk di tempat masing-masing baru presiden menuju ke tempat memimpin sidang. Saat presiden memasuki ruang sidang para peserta diminta untuk berdiri. Sesampainya presiden di tempatnya memimpin sidang, ia langsung berdoa (singkat saja).
- sementara ibadah pagi/PA berlangsung pintu masuk ruang sidang ditutup. Yang terlambat boleh duduk menonton saja dari balik dinding dan pintu kaca (tempat panitia). Biasanya yang terlambat para tamu. Syukur kami peserta dari GMIM tidak pernah terlambat ikut acara ini.
- pengambilan keputusan/konsensus dilakukan dengan cara mengangkat kartu berwarna merah bila setuju dan kartu berwarna biru bila tidak setuju. Yang menarik di sini ialah, biarpun hanya satu dua orang yang mengangkat kartu biru (tidak setuju) diberi kesempatan untuk mengutarakan alasannya. Sesudah itu pleno diberi kesempatan untuk menanggapi alasannya dengan cara mengangkat kartu merah bila setuju dengan dan kartu biru bila tidak setuju dengan alasannya. Cara ini pada akhirnya bisa mencapai kesepakatan. Cara ini mengharuskan setiap peserta tahu mengapa ia setuju atau tidak setuju tentang sesuatu pokok yang sedang dibicarakan.
- penggunaan waktu bicara diatur melalui time light (seperti traffic light). Pada saat seseorang mulai bicara, lampu berwarna hijau menyala, kemudian warna kuning menyala untuk mengingatkan waktu hampir habis, dan bila warna merah menyala, maka pembicara sudah harus berhenti (waktu bicara hanya 3 menit). Memang ada juga satu dua orang yang minta perpanjangan waktu bicara. Untuk itu, Presiden menanyakan dulu kepada peserta lainnya, bila disetujui-diberi kesempatan hanya satu menit saja (lampu kuning menyala).
7. Presiden periode 2000-2003 baru menyampaikan laporannya pada hari kedua,13 Juli 2003, padahal ia sudah melantik presiden baru periode 2003-2006. Yang menarik dari struktur kepemimpinan UCA ialah the Retiring President masih tetap berfungsi memimpin persidangan bila presiden yang baru berhalangan seperti a.l.menghadiri konferensi pers di luar. Bahkan selama periode yang baru ini presiden yang pensiun itu berfungsi sebagai wakil presiden.
8. Dalam persidangan ini juga dipilih presiden untuk periode 2006-2009, demikian juga ditetapkan semacam komisi kerja yang akan bekerja untuk periode yang baru ini. Semua calon sudah tertulis dalam folder peserta lengkap dengan biodata mereka masing-masing. Presiden yang terpilih untuk periode berikut ialah Rev.Gregor Henderson (ia pernah menjabat sekretaris jendral selama 12 tahun). Pemilihan berlangsung dengan cara memberi kartu suara yang langsung dikumpulkan oleh panitia. Dengan terpilihnya presiden untuk periode 2006-2009 (pada hari Kamis, 16 Juli 2003), maka kepemimpinan UCA sekarang dipimpin oleh 3 orang pesiden yakni : the retiring president, the new president, the president –elect.
9. Para tamu mempunyai jadual khusus (selain mengikuti acara-acara persidangan) seperti makan siang dan sharing, kunjungan ke Aboriginal Creative (110 km dari lokasi persidangan) pada tanggal 17 Juli, makan malam di Jemaat Centerbury Uniting Church pada tanggal 16 Juli (salah satu jemaat yang berlatarbelakang suku Tonga). Sebelum acara di Canterbury, beberapa tamu yang terpilih mewakili setiap negara bertemu dengan Menteri Kesehatan Negara Bagian Victoria di Gedung Parlemen. Dengan jadual khusus seperti ini lihat juga point 2, para tamu betul-betul merasa diperhatikan dan berarti bagi mereka.
10. Ibadah Minggu dan Perjamuan Kudus pada tanggal 13 Juli di ruang sidang, melibatkan seluruh kategori dalam jemaat, mulai dari anak-anak sampai para lansia. Bahkan anak-anak diberi kesempatan untuk mengekspresikan kebutuhan dan harapan mereka untuk gereja masa kini dan nanti.
Dalam acara penutupan persidangan ini, ada ucapan terima kasih dari President atas nama UCA untuk kehadiran para tamu, dan menyampaikan salam untuk gereja-gereja mitranya. Salam khusus dari Pdt.Prof.Dr.James Haire, Pdt.John Barr, Pdt.Robert Johnson untuk GMIM.
Dalam kesempatan mengikuti persidangan ini, kami mendapat kesempatan untuk bertemu dengan saudara-saudara yang bergabung dalam jemaat Camberwell Uniting Church :
Pada hari Kamis, 17 Juli , bersama-sama dengan para tamu dari GPM,GMIH dan Bapak Tonny Waworuntu dari CCA, kami diundang makan malam dengan jemaat berbahasa Indonesia.
Setelah selesai persidangan pada hari Sabtu, 19 Juli sesudah makan siang, kami (dari GMIM dan 2 orang dari GMIH) dijemput oleh Ibu Sintje Makadada dan Anto Pangaila (anak kel.Pangaila-Kaunang) untuk ke rumah ibu Makadada. Sore itu kami diantar jalan-jalan ke Dandenong oleh Ibu Sintje. Malam hari bersama dengan kel. Kalonta-Maengkom ke gedung Crown (entertaiment center). Di tempat ini kami secara khusus melihat aktivitas para pemain dan pengunjung Casino.
Pada malam 17 Juli, kami berempat menginap di tempat yang berbeda. Pdt.Tampemawa di rumah kel. Lengkong yang lumayan jauh dari pusat kota. Saya dan Pdt.Sartje Papuling (dari GMIH) menginap di rumah ibu Sintje. Pdt.Marthen Budiman (dari GMIH) menginap di rumah kel. Kalonta-Maengkom.
Hari Minggu, 20 Juli kami berkesempatan beribadah dua kali di jemaat Camberwell. Jam 10.00 dalam ibadah jemaat berbahasa Inggris, saya mendapat kesempatan untuk berkhotbah, sedang liturginya oleh Rev.Dr.Antony Floyd. Pada jam 2 pm dalam ibadah jemaat berbahasa Indonesia , Pdt. Adrian Tampemawa berkesempatan berkhotbah, sedang liturginya oleh Penatua Welly Corneles. Sesudah ibadah dilanjutkan dengan makan bersama di ruang makan minum gereja. Selesai acara di gedung gereja, kami diantar untuk jalan-jalan ke gedung Crown lagi.
Di tempat ini (Crown) saya sempat bercakap dengan seorang ibu asal Batak (menikah dengan orang Manado) yang sehari-harinya bekerja di Casino, mengatakan bahwa sebagai seorang yang tahu banyak hal tentang casino, maka ia tidak setuju bila di Manado dan di Batak yang nota bene daerah Kristen dibangun pusat perjudian seperti ini. Alasannya a.l. kehidupan keluarga akan berantakan.
Jam 10 malam kami diantar ke airport oleh sekelompok kawanua dengan lebih dulu jalan-jalan mengelilingi kota Melbourne dan melintasi kembali West Gate yang terkenal itu untuk melihat keindahan kota Melbourne di malam hari.
Atas pertemuan dengan kawanua ini, mereka menyampaikan salam untuk semua yang pernah berkunjung ke Melbourne dan kepada Badan Pekerja Sinode GMIM. Khusus berhubungan dengan kemitraan jemaat Camberwell dengan GMIM, Pdt.Tony Floyd dan Ketua Jemaat berbahasa Indonesia Bapak Lucky Kalonta dan Pdt. Apwee Ting (pendeta untuk jemaat berbahasa Indonesia), akan terus ditingkatkan. Pada Bulan September nanti mereka akan datang di GMIM untuk Pelatihan Manajemen Yayasan-Yayasan. Kemitraan khusus dengan jemaat Riedel Tondano akan dikembangkan dengan dua jemaat lainnya yaitu jemaat Sukur dan Watudambo. Bulan Desember nanti mereka akan datang untuk hal ini.
Akhirnya, terima kasih kepada teman-teman BPS yang mempercayakan kami berdua (berdasarkan rapat BPS tanggal 23 Mei 2003) untuk menghadiri the Tenth Assembly of the Uniting Church in Australia ini.
Tomohon, 6 Agustus 2003
MISI dan EKUMENE ala Amerika Latin
MISI DAN EKUMENE ala Amerika Latin*
Dua minggu lamanya berada di Peru (15-22 April 2001) dan di Chile (23-29 April 2001), telah menambah pengetahuan dan pengalaman tentang misi dan ekumene. Betapa tidak, pertama, di Peru dalam sidang raya mitra kerja Basel Mission/Mission 21 saya bertemu dengan saudara-saudara seiman dari 7 negara di Amerika Latin yaitu : Bolivia, Peru,Chile, Equador, Costa Rica, Argentina dan Panama. Mereka itu datang sebagai utusan dari 26 institusi gereja dan lembaga yang bermitra dengan Mission 21. Gereja-gereja yang dimaksud ialah Metodis, Pentakosta, Lutheran, Presbiterian, Bala Keselamatan, Sidang Jemaat Allah dan gereja-gereja yang memakai nama suku asli yang sulit untuk dikelompokkan dalam salah satu tradisi gereja sedunia. Sedangkan yang dimaksud dengan lembaga ialah semacam yayasan yang didirikan oleh warga gereja dari berbagai denominasi yang wilayah kerjanya melampaui batas-batas suatu negara (disebut: continentales). Program-programnya meliputi berbagai bidang kehidupan konkrit dan aktual seperti : pemberdayaan ekonomi melalui bidang pertanian, pendidikan/pembinaan/ketrampilan, kesehatan, lingkungan hidup, pemberdayaan perempuan, anak dan keluarga, hak azasi manusia bagi penduduk pribumi dan penanggulangan masalah-masalah sosial lainnya serta penerbitan brosur/majalah/buku/kaset/video.
Kedua, dalam perjalanan/perkunjungan bersama dengan Ketua Komisi Perempuan dan Gender Mission 21 di dua kota di Chile yaitu Santiago dan Concepsion, kami bertemu dan bercakap/sharing dengan berbagai kelompok /yayasan Kristen (baik yang berhubungan langsung dengan gereja ataupun mandiri) yang peduli dengan masalah-masalah kemanusiaan dan lingkungan hidup. Yayasan Kristen yang mandiri ini dikelola secara bersama oleh orang-orang dari berbagai denominasi dan tidak ada hubungan struktural dengan gerejanya masing-masing. Mereka ini bekerja full time dan profesional di bidangnya. Saya sulit membedakan mana yang “bos” dan mana yang staf pelaksana dan administrasi. Kami juga berkunjung dan bercakap di dan dengan Sekolah Teologi (CTE) di sana. Para dosen, staf dan mahasiswa berasal dari berbagai denominasi, bahkan dari umat Katolik juga seperti di Universitas Biblika Amerika Latin(UBL) di Costa Rica. UBL ini adalah salah satu lembaga dalam kategori continentales.
Demikianlah kita dapat melihat secara umum apa misi dan ekumene bagi mereka di sana
Bagaimana dengan kita GMIM yang sedang merayakan HUT ke-170 Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen di tanah Minahasa ?
*Diterbitkan dalam Buletin “Tetengkoren” Fakultas Teologi UKIT
Edisi Perdana Juni 200l
Dua minggu lamanya berada di Peru (15-22 April 2001) dan di Chile (23-29 April 2001), telah menambah pengetahuan dan pengalaman tentang misi dan ekumene. Betapa tidak, pertama, di Peru dalam sidang raya mitra kerja Basel Mission/Mission 21 saya bertemu dengan saudara-saudara seiman dari 7 negara di Amerika Latin yaitu : Bolivia, Peru,Chile, Equador, Costa Rica, Argentina dan Panama. Mereka itu datang sebagai utusan dari 26 institusi gereja dan lembaga yang bermitra dengan Mission 21. Gereja-gereja yang dimaksud ialah Metodis, Pentakosta, Lutheran, Presbiterian, Bala Keselamatan, Sidang Jemaat Allah dan gereja-gereja yang memakai nama suku asli yang sulit untuk dikelompokkan dalam salah satu tradisi gereja sedunia. Sedangkan yang dimaksud dengan lembaga ialah semacam yayasan yang didirikan oleh warga gereja dari berbagai denominasi yang wilayah kerjanya melampaui batas-batas suatu negara (disebut: continentales). Program-programnya meliputi berbagai bidang kehidupan konkrit dan aktual seperti : pemberdayaan ekonomi melalui bidang pertanian, pendidikan/pembinaan/ketrampilan, kesehatan, lingkungan hidup, pemberdayaan perempuan, anak dan keluarga, hak azasi manusia bagi penduduk pribumi dan penanggulangan masalah-masalah sosial lainnya serta penerbitan brosur/majalah/buku/kaset/video.
Kedua, dalam perjalanan/perkunjungan bersama dengan Ketua Komisi Perempuan dan Gender Mission 21 di dua kota di Chile yaitu Santiago dan Concepsion, kami bertemu dan bercakap/sharing dengan berbagai kelompok /yayasan Kristen (baik yang berhubungan langsung dengan gereja ataupun mandiri) yang peduli dengan masalah-masalah kemanusiaan dan lingkungan hidup. Yayasan Kristen yang mandiri ini dikelola secara bersama oleh orang-orang dari berbagai denominasi dan tidak ada hubungan struktural dengan gerejanya masing-masing. Mereka ini bekerja full time dan profesional di bidangnya. Saya sulit membedakan mana yang “bos” dan mana yang staf pelaksana dan administrasi. Kami juga berkunjung dan bercakap di dan dengan Sekolah Teologi (CTE) di sana. Para dosen, staf dan mahasiswa berasal dari berbagai denominasi, bahkan dari umat Katolik juga seperti di Universitas Biblika Amerika Latin(UBL) di Costa Rica. UBL ini adalah salah satu lembaga dalam kategori continentales.
Demikianlah kita dapat melihat secara umum apa misi dan ekumene bagi mereka di sana
Bagaimana dengan kita GMIM yang sedang merayakan HUT ke-170 Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen di tanah Minahasa ?
*Diterbitkan dalam Buletin “Tetengkoren” Fakultas Teologi UKIT
Edisi Perdana Juni 200l
MISI dan EKUMENE, belajar dari Peru dan Chile
Misi dan Ekumene
(belajar dari Peru dan Chile)*
Selama satu minggu (15-22 April 2001) berada di Lima-Peru dan satu minggu(23-29 April 2001) di Santiago dan Concepcion, kedua kota ini berada di Chile, saya belajar banyak hal tentang topik kita ini. Perjalanan ke dan di kedua negara (yang berada di Amerika Latin) ini dilakukan dalam rangka mengikuti suatu sidang raya dari gereja-gereja se Amerika Latin yang bermitra dengan Basel Mission (BM). Basel Mission adalah suatu badan misi yang berpusat di kota Basel-Swiss yang mempunyai mitra kerja (counterparts) di benua Afrika, Asia dan Amerika Latin. Sejak Januari 2001 BM merger dengan empat badan misi lain yang ada di Swiss dengan nama Mission 21. Karena itu, sidang raya ini adalah suatu sidang misi dan ekumene. Sebagaimana biasa menjelang pelaksanaan sidang raya, diadakan dulu pertemuan/konferensi kaum perempuan gereja-gereja di tempat yang sama. Selanjutnya bersama dengan Kepala Biro Perempuan dan Gender dari Basel Mission/Mission 21 saya mengadakan perkunjungan di dua kota di Chile yaitu di Santiago dan Concepsion.
Kehadiran saya dalam pertemuan dan kunjungan ini sebagai representasi dari mitra Basel Mission/Mission 21 di Asia dengan tugas untuk share (tertulis dan lisan) tentang apa yang dikerjakan 13 gereja-gereja mitra BM di Asia (Taiwan, Hong Kong, Malaysia, India dan Indonesia).
Mitra BM yang ada di Amerika Latin (Bolivia, Chile, Peru, Equador, Costa Rica, Argentina dan Panama) berjumlah 26 institusi. Ke 26 institusi ini tidak hanya oleh gereja-gereja seperti Metodis, Pentakosta, Lutheran, Presbiterian, Bala Keselamatan , Sidang Jemaat Allah dan gereja-gereja yang memakai nama suku asli yang sulit untuk dikelompokan dalam salah satu tradisi gereja yang mendunia , ada juga oleh lembaga swadaya umat yang bersifat ekumenis. Ke 26 institusi ini dibagi dalam empat kelompok yaitu Chile,Peru,Bolivia dan Continentales. Continentales maksudnya ialah institusi-institusi yang bersifat ekumenis dan melampaui batas-batas negara (tentu di Amerika Latin) seperti Red AMEN, SERPAJ, SEPADA, SEDEC, UBL dan CLAI.
Program gereja-gereja dan lembaga-lembaga swadaya umat ini lebih banyak ditujukan untuk bidang pertanian, pendidikan/pembinaan/ketrampilan, kesehatan, lingkungan hidup, pemberdayaan perempuan, anak dan keluarga, hak azasi manusia bagi penduduk pribumi dan penanggulangan masalah-masalah sosial lainnya serta penerbitan brosur/ buku/majalah/kaset/video. Dengan kata lain, program mereka ini adalah berhubungan langsung dengan persoalan kemanusiaan sehari-hari baik itu berhubungan dengan dirinya sendiri maupun dengan sesama bahkan dengan alam lingkungan hidupnya. Program yang betul-betul nyata dan aktual. Semua program ini dikerjakan oleh orang-orang yang profesional di bidangnya dan mereka bekerja penuh waktu.
Gereja-gereja melaksanakan program ini dalam dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Tidak langsung seperti mendirikan lembaga swadaya umat yang dikelola secara mandiri oleh gereja Metodis di Concepsion dengan nama SEDEC (Pelayanan untuk Pembangunan dan Pendidikan). Mereka ini punya kelompok-kelompok binaan seperti kelompok keluarga yang tidak punya pekerjaan tetap dan mempunyai anak cacat, kelompok kerajinan tangan bagi kaum perempuan dan kelompok musik bagi kaum perempuan dan lansia yang bertempat tinggal di pinggiran kota yang mereka sebut “daerah publik”. Kelompok-kelompok ini langsung dibina oleh salah seorang staf dari SEDEC sedangkan pengelolaan administrasi dan keuangan oleh beberapa orang dari antara anggota kelompok.
Ada pula lembaga swadaya umat yang bukan didirikan atau milik gereja, melainkan oleh sekelompok warga gereja yang berasal dari berbagai denominasi, seperti Con-Spirando (yang bergerak di bidang pelayanan pengobatan alternatif, kursus-kursus teologi dan penerbitan buku) dan SERPAJ (Pelayanan untuk Keadilan dan Kasih) di Santiago. Bahkan satu lembaga yang sebagian besar pengelola dan stafnya adalah umat Katolik seperti ADEP (yang antara lain memproduksi leaflet/kartu, kaset dan video) di Lima.
Dalam hal pendidikan teologi seperti di Universitas Biblika Latin Amerika (UBL)di Costa Rica dan Sekolah Teologi di Santiago dan Concepsion didirikan bersama oleh berbagai denominasi. Para dosen, staf dan mahasiswa berasal dari berbagai denominasi seperti yang telah disebutkan di atas. Bahkan di UBL melibatkan juga umat Katolik. Kurikulumnya ditekankan pada teologi praksis/pastoral dan teologi kontekstual (pembebasan dan feminis).
Dari gambaran umum di atas, maka saya menarik beberapa kesimpulan reflektif tentang misi dan ekumene untuk menjadi bahan pelajaran/pembanding bagi gereja-gereja khususnya GMIM yang akan merayakan HUT ke 170 Pekabaran Injil dan Pendidikan Krsiten di tanah Minahasa.
Pertama, misi Allah di dalam dunia ini adalah supaya keselamatan dari-Nya diberitakan kepada semua orang dan segenap ciptaan. Keselamatan dari Tuhan Allah ini adalah berhubungan dengan seluruh aspek hidup manusia yaitu jasmani dan rohani. Adalah keliru bila ada orang/kelompok/lembaga gerejawi yang masih berpemahaman bahwa keselamatan dari Tuhan Allah pertama-tama atau terutama adalah soal rohani. Hal ini kelihatan dalam penyusunan dan pelaksanaan program yang hanya bergelut dan “berkaok-kaok” di sekitar dirinya sendiri seperti terus membongkar-bangun gedung-gedung gereja yang masih kuat dan bagus sementara itu gedung sekolah Taman Kanak-Kanak dan SD terabaikan kondisi bangunannya. Ini baru soal bangunan, belum lagi soal kualitas guru dan biaya sekolah anak-anak. Khotbah dan renungan bahkan refleksi banyak kali belum menyentuh aspek keseharian umat yang bingung/resah/susah/konflik yang sangat mempengaruhi hidup beriman sesungguhnya. Khotbah-khotbah terlalu banyak bersifat akademis atau hanya sekedar memberi kepuasan/ ketenangan/kedamaian semu.
Kedua, tugas pekabaran injil adalah tugas setiap orang kristen baik perorangan maupun kelompok dan gereja. Gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya bisa melakukan misi tanpa selalu/harus terikat dengan suatu ketentuan institusi gereja. Adanya kelompok/lembaga kristiani (artinya yang didirikan dan dikerjakan oleh orang Kristen dengan melibatkan orang-orang berkepercayaan berbeda) untuk melaksanakan misi kemanusiaan tanpa pandang perbedaan “sara” dan keutuhan ciptaan hendaknya diberdayakan. Misi Allah di dalam dunia sering telah jauh diinstitusionalisasikan yang menyebabkan terkotak-kotak bahkan terkoyak-koyaknya Tubuh Kristus di dunia.
Ketiga, tugas pekabaran Injil sangatlah erat berhubungan dengan tugas pendidikan. Sebab itu, pekabaran Injil harus lebih menyentuh kebutuhan untuk pemberdayaan manusia yang menjadi korban diskriminasi “sara” dan gender bahkan sesama ciptaan yang menjadi korban eksploitasi alam untuk “kepuasan/kerakusan”manusia. Pekabaran Injil harus konkrit dan memampukan manusia untuk dapat keluar dari berbagai kesulitan hidup. Bukankah kata syalom yang sudah semakin biasa dipakai sebagai kata pembuka dan kata penutup pidato/sambutan kita berintikan adanya/teralaminya kehidupan yang baik rohani dan jasmani ? Pendidikan dalam hal ini pemberdayaan umat/masyarakat ekonomi lemah, pendidikan kurang dan yang punya masalah sosial seperti antara lain : pengangguran, korban narkoba, pencandu miras, pekerja seks komersial, anak-anak yang tinggal di panti asuhan harus menjadi prioritas program gereja-gereja dibandingkan dengan antara lain pembangunan gedung gereja yang masih berdiri “megah”.
Keempat, pekabaran Injil adalah tugas bersama semua gereja yang ada di dunia ini tanpa dibatasi/dikurung/dipenjara dalam dan oleh satu denominasi saja. Sudah saatnya gereja-gereja yang berbeda latar belakang tradisi/ajaran/dogma tidak lagi memperdebatkan kebenarannya masing-masing lalu mempersalahkan orang lain melainkan bergandeng tangan dalam melaksanakan misi kemanusiaan ini. Seorang teolog Asia, C.S.Song mengatakan bahwa misi Kristen harus menjadi misi kasih, bukan misi kebenaran. Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) atau Kebaktian Penyegaran Iman(KPI) atau Kebaktian Penyegaran Rohani (KPR) atau apapun namanya, hendaknya bertujuan agar umat yang mengikutinya atau yang hanya mendengar dari kejauhan dapat mengalami sukacita abadi dari Tuhan dan bukan sebaliknya mendengar berbagai adu argumentasi/adu mulut yang mengakibatkan kehidupan syalom di bumi makin jauh dari kenyataan. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin berbicara tentang “dialog antar umat beragama” sedangkan antar denominasi saja sulit ( kalaupun ada dialog, itu belum tulus dan mulus; baru sebatas acara seremonial pada hari-hari raya tertentu).
Baiklah kita ingat antara lain pengajaran Tuhan Yesus tentang Kasih melalui cerita tentang orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37).
Diterbitkan dalam Manado Pos,
Sabtu,16 Juni 2001 dalam kolom
OPINI Renungan Minggu.
.
(belajar dari Peru dan Chile)*
Selama satu minggu (15-22 April 2001) berada di Lima-Peru dan satu minggu(23-29 April 2001) di Santiago dan Concepcion, kedua kota ini berada di Chile, saya belajar banyak hal tentang topik kita ini. Perjalanan ke dan di kedua negara (yang berada di Amerika Latin) ini dilakukan dalam rangka mengikuti suatu sidang raya dari gereja-gereja se Amerika Latin yang bermitra dengan Basel Mission (BM). Basel Mission adalah suatu badan misi yang berpusat di kota Basel-Swiss yang mempunyai mitra kerja (counterparts) di benua Afrika, Asia dan Amerika Latin. Sejak Januari 2001 BM merger dengan empat badan misi lain yang ada di Swiss dengan nama Mission 21. Karena itu, sidang raya ini adalah suatu sidang misi dan ekumene. Sebagaimana biasa menjelang pelaksanaan sidang raya, diadakan dulu pertemuan/konferensi kaum perempuan gereja-gereja di tempat yang sama. Selanjutnya bersama dengan Kepala Biro Perempuan dan Gender dari Basel Mission/Mission 21 saya mengadakan perkunjungan di dua kota di Chile yaitu di Santiago dan Concepsion.
Kehadiran saya dalam pertemuan dan kunjungan ini sebagai representasi dari mitra Basel Mission/Mission 21 di Asia dengan tugas untuk share (tertulis dan lisan) tentang apa yang dikerjakan 13 gereja-gereja mitra BM di Asia (Taiwan, Hong Kong, Malaysia, India dan Indonesia).
Mitra BM yang ada di Amerika Latin (Bolivia, Chile, Peru, Equador, Costa Rica, Argentina dan Panama) berjumlah 26 institusi. Ke 26 institusi ini tidak hanya oleh gereja-gereja seperti Metodis, Pentakosta, Lutheran, Presbiterian, Bala Keselamatan , Sidang Jemaat Allah dan gereja-gereja yang memakai nama suku asli yang sulit untuk dikelompokan dalam salah satu tradisi gereja yang mendunia , ada juga oleh lembaga swadaya umat yang bersifat ekumenis. Ke 26 institusi ini dibagi dalam empat kelompok yaitu Chile,Peru,Bolivia dan Continentales. Continentales maksudnya ialah institusi-institusi yang bersifat ekumenis dan melampaui batas-batas negara (tentu di Amerika Latin) seperti Red AMEN, SERPAJ, SEPADA, SEDEC, UBL dan CLAI.
Program gereja-gereja dan lembaga-lembaga swadaya umat ini lebih banyak ditujukan untuk bidang pertanian, pendidikan/pembinaan/ketrampilan, kesehatan, lingkungan hidup, pemberdayaan perempuan, anak dan keluarga, hak azasi manusia bagi penduduk pribumi dan penanggulangan masalah-masalah sosial lainnya serta penerbitan brosur/ buku/majalah/kaset/video. Dengan kata lain, program mereka ini adalah berhubungan langsung dengan persoalan kemanusiaan sehari-hari baik itu berhubungan dengan dirinya sendiri maupun dengan sesama bahkan dengan alam lingkungan hidupnya. Program yang betul-betul nyata dan aktual. Semua program ini dikerjakan oleh orang-orang yang profesional di bidangnya dan mereka bekerja penuh waktu.
Gereja-gereja melaksanakan program ini dalam dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Tidak langsung seperti mendirikan lembaga swadaya umat yang dikelola secara mandiri oleh gereja Metodis di Concepsion dengan nama SEDEC (Pelayanan untuk Pembangunan dan Pendidikan). Mereka ini punya kelompok-kelompok binaan seperti kelompok keluarga yang tidak punya pekerjaan tetap dan mempunyai anak cacat, kelompok kerajinan tangan bagi kaum perempuan dan kelompok musik bagi kaum perempuan dan lansia yang bertempat tinggal di pinggiran kota yang mereka sebut “daerah publik”. Kelompok-kelompok ini langsung dibina oleh salah seorang staf dari SEDEC sedangkan pengelolaan administrasi dan keuangan oleh beberapa orang dari antara anggota kelompok.
Ada pula lembaga swadaya umat yang bukan didirikan atau milik gereja, melainkan oleh sekelompok warga gereja yang berasal dari berbagai denominasi, seperti Con-Spirando (yang bergerak di bidang pelayanan pengobatan alternatif, kursus-kursus teologi dan penerbitan buku) dan SERPAJ (Pelayanan untuk Keadilan dan Kasih) di Santiago. Bahkan satu lembaga yang sebagian besar pengelola dan stafnya adalah umat Katolik seperti ADEP (yang antara lain memproduksi leaflet/kartu, kaset dan video) di Lima.
Dalam hal pendidikan teologi seperti di Universitas Biblika Latin Amerika (UBL)di Costa Rica dan Sekolah Teologi di Santiago dan Concepsion didirikan bersama oleh berbagai denominasi. Para dosen, staf dan mahasiswa berasal dari berbagai denominasi seperti yang telah disebutkan di atas. Bahkan di UBL melibatkan juga umat Katolik. Kurikulumnya ditekankan pada teologi praksis/pastoral dan teologi kontekstual (pembebasan dan feminis).
Dari gambaran umum di atas, maka saya menarik beberapa kesimpulan reflektif tentang misi dan ekumene untuk menjadi bahan pelajaran/pembanding bagi gereja-gereja khususnya GMIM yang akan merayakan HUT ke 170 Pekabaran Injil dan Pendidikan Krsiten di tanah Minahasa.
Pertama, misi Allah di dalam dunia ini adalah supaya keselamatan dari-Nya diberitakan kepada semua orang dan segenap ciptaan. Keselamatan dari Tuhan Allah ini adalah berhubungan dengan seluruh aspek hidup manusia yaitu jasmani dan rohani. Adalah keliru bila ada orang/kelompok/lembaga gerejawi yang masih berpemahaman bahwa keselamatan dari Tuhan Allah pertama-tama atau terutama adalah soal rohani. Hal ini kelihatan dalam penyusunan dan pelaksanaan program yang hanya bergelut dan “berkaok-kaok” di sekitar dirinya sendiri seperti terus membongkar-bangun gedung-gedung gereja yang masih kuat dan bagus sementara itu gedung sekolah Taman Kanak-Kanak dan SD terabaikan kondisi bangunannya. Ini baru soal bangunan, belum lagi soal kualitas guru dan biaya sekolah anak-anak. Khotbah dan renungan bahkan refleksi banyak kali belum menyentuh aspek keseharian umat yang bingung/resah/susah/konflik yang sangat mempengaruhi hidup beriman sesungguhnya. Khotbah-khotbah terlalu banyak bersifat akademis atau hanya sekedar memberi kepuasan/ ketenangan/kedamaian semu.
Kedua, tugas pekabaran injil adalah tugas setiap orang kristen baik perorangan maupun kelompok dan gereja. Gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya bisa melakukan misi tanpa selalu/harus terikat dengan suatu ketentuan institusi gereja. Adanya kelompok/lembaga kristiani (artinya yang didirikan dan dikerjakan oleh orang Kristen dengan melibatkan orang-orang berkepercayaan berbeda) untuk melaksanakan misi kemanusiaan tanpa pandang perbedaan “sara” dan keutuhan ciptaan hendaknya diberdayakan. Misi Allah di dalam dunia sering telah jauh diinstitusionalisasikan yang menyebabkan terkotak-kotak bahkan terkoyak-koyaknya Tubuh Kristus di dunia.
Ketiga, tugas pekabaran Injil sangatlah erat berhubungan dengan tugas pendidikan. Sebab itu, pekabaran Injil harus lebih menyentuh kebutuhan untuk pemberdayaan manusia yang menjadi korban diskriminasi “sara” dan gender bahkan sesama ciptaan yang menjadi korban eksploitasi alam untuk “kepuasan/kerakusan”manusia. Pekabaran Injil harus konkrit dan memampukan manusia untuk dapat keluar dari berbagai kesulitan hidup. Bukankah kata syalom yang sudah semakin biasa dipakai sebagai kata pembuka dan kata penutup pidato/sambutan kita berintikan adanya/teralaminya kehidupan yang baik rohani dan jasmani ? Pendidikan dalam hal ini pemberdayaan umat/masyarakat ekonomi lemah, pendidikan kurang dan yang punya masalah sosial seperti antara lain : pengangguran, korban narkoba, pencandu miras, pekerja seks komersial, anak-anak yang tinggal di panti asuhan harus menjadi prioritas program gereja-gereja dibandingkan dengan antara lain pembangunan gedung gereja yang masih berdiri “megah”.
Keempat, pekabaran Injil adalah tugas bersama semua gereja yang ada di dunia ini tanpa dibatasi/dikurung/dipenjara dalam dan oleh satu denominasi saja. Sudah saatnya gereja-gereja yang berbeda latar belakang tradisi/ajaran/dogma tidak lagi memperdebatkan kebenarannya masing-masing lalu mempersalahkan orang lain melainkan bergandeng tangan dalam melaksanakan misi kemanusiaan ini. Seorang teolog Asia, C.S.Song mengatakan bahwa misi Kristen harus menjadi misi kasih, bukan misi kebenaran. Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) atau Kebaktian Penyegaran Iman(KPI) atau Kebaktian Penyegaran Rohani (KPR) atau apapun namanya, hendaknya bertujuan agar umat yang mengikutinya atau yang hanya mendengar dari kejauhan dapat mengalami sukacita abadi dari Tuhan dan bukan sebaliknya mendengar berbagai adu argumentasi/adu mulut yang mengakibatkan kehidupan syalom di bumi makin jauh dari kenyataan. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin berbicara tentang “dialog antar umat beragama” sedangkan antar denominasi saja sulit ( kalaupun ada dialog, itu belum tulus dan mulus; baru sebatas acara seremonial pada hari-hari raya tertentu).
Baiklah kita ingat antara lain pengajaran Tuhan Yesus tentang Kasih melalui cerita tentang orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37).
Diterbitkan dalam Manado Pos,
Sabtu,16 Juni 2001 dalam kolom
OPINI Renungan Minggu.
.
Laporan Perjalanan ke Peru dan Chile
LAPORAN PERJALANAN KE PERU DAN CHILE
12 April sampai dengan 3 Mei 2001
Berdasarkan penugasan dari Koordinator Basel Mission Asia, Pdt. Deetje Tiwa-Rotinsulu,M.Div. untuk menggantikannya menghadiri Sidang ke-3 mitra Basel Mission (BM) se Amerika Latin (AL), maka saya melakukan perjalanan ini. Penugasan ini diberikan kepada saya karena selama 10 tahun (1990-2000) saya menjadi anggota Executive Committee BM Asian Fellowship mewakili GMIM.
Kepada saya ditugaskan untuk mempersiapkan secara tertulis dua materi untuk dipresentasikan dalam Konferensi ke-3 Perempuan mitra BM se AL dan Sidang Raya ke-3 mitra BM se AL. Dua materi ini berupa sharing dan informasi tentang keadaan BM Asian Fellowship.
BM Asian Fellowship berjumlah 13 gereja/badan misi yaitu dari Taiwan, Hong Kong, Malaysia, India dan Indonesia. Juga mempersiapkan diri untuk berkhotbah dalam ibadah pembukaan konferensi dimaksud. Dua acara ini berlangsung di kota Lima-Peru pada tanggal 15-21 April 2001. Selain mengikuti dua kegiatan tersebut, saya diminta untuk bersama-sama dengan Ketua Komisi Perempuan dan Gender BM untuk melakukan kunjungan ke sejumlah mitra BM di Chile pada tanggal 23-29 April 2001.
Mitra BM di AL berjumlah 26 institusi yang berada di 7 negara yaitu Bolivia, Chile, Peru, Argentina, Equador, Costa Rica dan Panama. Ke 26 institusi ini tidak hanya oleh gereja-gereja seperti Metodis, Lutheran, Pentakosta, Presbiterian, Sidang Jumat Allah, Bala Keselamatan, tetapi juga oleh lembaga swadaya umat yang bersifat ekumenis untuk program kemanusiaan (pendidikan/pembinaan/pelatihan; pemberdayaan perempuan, anak dan keluarga; pembangunan/pengembangan pertanian; hak azasi manusia; lingkungan hidup dan sekolah teologi). Mereka membagi diri dalam 4 kelompok besar yaitu Chile, Bolivia, Peru dan Continentales. Continentales maksudnya ialah institusi-institusi yang bersifat ekumenis dan melampaui batas-batas negara seperti Red AMEN, SERPAJ, SEPADA, SEDEC, UBL,CLAI.
Bahasa yang dipakai selama acara dan kunjungan adalah bahasa Spanyol. Saya selalu didampingi oleh beberapa orang penerjemah (secara bergantian) dalam bahasa Inggris. Begitu pula, waktu saya mempresentasikan atau menyampaikan sesuatu diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol baik lisan maupun tertulis.
Kegiatan/Program
12 April : berangkat dari Manado ke Jakarta
13 April : berangkat ke Lima-Peru melalui Osaka, Dallas. Transit di airport
Kansai-Osaka/Jepang selama 12 jam dan di Dallas/USA selama 2
jam.
14 April jam 23.40 waktu setempat : tiba di Lima-Peru.
15-18 April : Konferensi ke-3 Perempuan mitra BM se AL.
Dalam ibadah pembukaan pada Minggu, 15 petang saya berkhotbah berdasarkan pembacaan Alkitab Yohanes 20:1-18 tentang Perempuan dalam Paskah.
Tema Konferensi ialah : Constructores de Esperanza (Membangun Pengharapan).
Materi-materi :
- Persentasi dari Bolivia, Chile, Peru dan Continentales.
- Presentasi dari Asia oleh Pdt.K.A.Kapahang-Kaunang.
- Presentasi dari Ketua Komisi perempuan dan Gender BM oleh Johanna Eggimann.
- Ceramah tentang Demokrasi dan Kesetaraan
- Ceramah tentang Kekerasan dan Penanganannya.
- Introduksi dan Motivasi tentang Kesehatan Tubuh dan Mental
- Diskusi Kelompok per negara dan continentales.
- Pleno.
18-21 April : Sidang Saya ke-3 mitra BM se AL
Dalam ibadah pembukaan pada unsur Berkat dibawakan oleh 4 orang dalam bahasanya sendiri yaitu : Spanyol, Suku asli Peru, Jerman dan Indonesia (mewakili peserta yang hadir).
Tema Sidang : Actuando con Esperanza (Mengaktualisasikan Pengharapan).
Materi-materi Sidang :
- Ceramah tentang Globalisasi
- Pandangan dari Bolivia, Peru, Chile dan Continentales tentang Konstitusi Sidang.
- Ceramah tentang Kerjasama Internasional.
- Studi kasus dari masing-masing negara dan continentales melalui pemutaran video.
- Presentasi tentang Struktur Baru Misision 21 oleh Presiden BM/Mission 21 yaitu Pdt. Madeleine Strub-Jacoub.
- Presentasi tentang mitra BM di Asia oleh Pdt.K.A.Kapahang-Kaunang.
- Persentasi tentang hubungan bilateral BM dan AL oleh Sekretaris BM untuk AL.
- Presentasi dari Ketua Komisi Perempuan dan Gender BM/Mission 21 oleh Johanna Eggimann.
- Pembacaan Hasil Konferensi ke-3 Perempuan.
- Ceramah tentang Mempertahankan Hidup
- Panel Diskusi : - etika dan korupsi
- etika dan hak azasi manusia
- etika dan administrasi sumber daya manusia
- Evalusai tentang Peran Joint Planning Council (JPC BM)
- Diskusi kelompok untuk menyusun agreement dan resolusi
- Pemilihan JPC.
22 pagi : memberi salam/kesan dalam ibadah sekolah minggu (anak-anak
sampai orang dewasa) di jemaat Gereja Sidang Jemaat Allah.
22 sore : berangkat ke Santiago-Chile bersama Johanna Eggimann (dengan
pesawat selama 3 jam).
23-25 : kunjungan dan percapakan/sharing dengan berbagai institusi dan
perorangan yang bernmitra dengan BM langsung dan tidak langsung
di kota Santiago (ibukota Negara Chile), a.l. :
- Percakapan dengan Direktur Hubungan Internasional dan Pelayanan Perempuan Nasional (SERNAM) di kantor pemerintah metropolitan.
- Menghadiri reuni dari jaringan kerjasama perempuan (Red AMEN) dan mengadakan percakapan/sharing.
- Percakapan dengan Rektor CTE (Sekolah Tinggi Teologi) di kampusnya.
- Percakapan/sharing dengan Pelaksana Institusi Con-Spirando (yang bergerak di bidang kesehatan tubuh dan mental perempuan, penerbitan dan kursus-kursus teologi) di kantor pusatnya.
- Meninjau salah satu pusat kegiatan dari Jaringan Kerja Perempuan untuk pemberdayaan dan pembangunan masyarakat.
- Percakapan dengan Pengurus/Pelaksana Pelayanan untuk Keadilan dan Kasih (SERPAJ) di kantor pusat.
- Percakapan dengan seorang Pendeta Senior dari Gereja Metodis dan Aktivis untuk Pemberdayaan Pembangunan Masyarakat yakni Pastora/Pendeta perempuan Juana Albornoz ( saya sudah pernah bertemu dengannya di Basel).
- Percakapan dengan Mary Palma dan Cecilia Quilodran dari SEPADE (Pelayanan Gereja untuk Pembangunan yang menerbitkan banyak buku).
25 April malam : bersama Johanna berangkat dengan kereta api (9 jam) ke arah
Selatan Santiago yaitu ke kota Concepcion.
26-27 April : kunjungan dan percakapan/sharing dengan beberapa institusi :
- kunjungan/percakapan dengan staf dosen CTE di kampus.
- percakapan/sharing dengan ibu-ibu dari Red AMEN dan SEPADE.
- sight seeing di kota Concepsion
- percakapan dengan Pengurus/Pelaksana/Staf dari Pelayanan untuk pembangunan dan pendidikan gereja Metodis (SEDEC) di kantor.
- meninjau 3 proyek SEDEC (rumah keluarga yang punya anak cacat, kelompok kerajinan tangan, kelompok musik)
27 April malam : kembali ke Santiago dengan pesawat (45 menit).
28 April : - mengikuti ibadah dan menyampaikan salam di kampus CTE.
- percakapan dengan direktur komunikasi CTE.
- sight seeing di kota Santiago.
29 April : - mengikuti ibadah di Gereja Metodis Pentakosta (Iglesia Metodista
Pentakosta de Chile). Suatu gereja Evangelical terbesar di kota
Santiago yang dihadiri oleh kira-kira 2000-an orang).
- meninjau salah satu gereja Katolik yang megah dan antik.
- ke Bukit Perawan Maria yang letaknya berada di tengah kota Santiago.
29 April malam : berangkat pulang melalui Dallas AS dan Narita Tokyo,
Jakarta. Transit di Dallas 5 jam dan di Tokyo 20 jam.
2 Mei jam 16.40 : tiba di Jakarta.
3 Mei : tiba kembali di Tomohon.
Catatan Reflektif :
Misi Allah melalui Basel Mission yang sekarang menjadi Mission 21 (terhitung sejak Januari 2001 sebagai hasil merger 5 badan misi di Swiss termasuk SOAM), tidak hanya melalui gereja tetapi juga melalui lembaga swadaya masyarakat yang dikelola oleh warga gereja. Ke-26 institusi yang menjadi mitra BM/Mission 21 ini, sebagian besar adalah untuk program kemanusiaan seperti pendidikan, pelatihan, pembinaan, pemberdayaan perempuan dan anak, penguatan dan pembangunan ekonomi, keadilan, lingkungan hidup dan HAM pada umumnya.
Mitra BM di AL sebagian besar bersifat ekumenis di mana lembaga-lembaga yang langsung berhubungan dengan masalah kemasyarakatan baik yang berada di bawah naungan gereja tertentu maupun yang dikelola oleh warga gereja secara perorangan, melibatkan atau mempekerjakan orang-orang dari berbagai golongan gereja bahkan termasuk dari gereja Katolik seperti ADEP di Lima. Karena program kemanusiaan, maka para pekerjanya berasal dari berbagai bidang keahlian seperti hukum, dokter, ahli lingkungan, pertanian, ekonom, pendidik, pekerja sosial, psikolog, dll,
Semua kegiatan didokumentasikan melalui video, kaset, buletin, pamplet dan buku. Baik pengurus maupun pekerja lapangan dan staf administrasi bekerja bersama sesuai dengan keahliannya sehingga sulit membedakan mana yang “bos” dan mana yang bawahan. Sebab semua pelaksana bekerja fulltime. Bahkan ada yang bekerja fulltime tetapi tidak mendapat upah seperti kelompok perempuan yang bekerja di kompleks perumahan publik di Santiago.
Dari Konferenasi ke-3 Perempuan di Lima dan kunjungan/percakapan/sharing di Santiago dan Concepsion, ditemui bahwa perempuan masih berada dalam status dan peran yang memprihatinkan, yang berdampak pada kehidupan anak-anak dalam keluarga. Seperti masalah kekerasan, pemahaman teologi yang fundamentalis, perempuan dalam gereja, kesehatan reproduksi dan hak asazi perempuan pada umumnya. Nyatalah bahwa di mana-mana termasuk di Asia/Indonesia (seperti Laporan/materi pertemuan perempuan mitra BM se Asia di Hong Kong pada Juli 2000 lalu), perempuan masih harus berjuang untuk mendapatkan kembali harkat dan martabatnya selaku Manusia Gambar Allah di bumi. Perjuangan ini tidak hanya menjadi program kaum perempuan tetapi harus menjadi program bersama dengan kaum laki-laki dalam keluarga, gereja dan masyarakat. Dalam konteks demikian, maka program Dewan Gereja-Gereja sedunia (WCC) yang dicanangkan pada 4 Februari 2001 yaitu Decade to Overcome Violence (Dasawarsa Mengatasi Kekerasan) harus menjadi program gereja-gereja secara sungguh-sungguh. Dengan demikian, gereja-gereja dapat mengaktualisasikan perannya sebagai pelopor untuk teralaminya hak asazi manusia sebagai Imago Dei.
Sekolah Teologi (CTE) yang ada di Santiago dan Concepsion bahkan Universitas Biblica Amerika Latin (UBL) di San Jose Costa Rica, bersifat ekumenis di mana berbagai denominasi Evangelical/Protestan (kecuali gereja Baptis di Santiago yang punya Sekolah Teologinya sendiri) terlibat di dalamnya. Bahkan di UBL ada mahasiswa Katolik. Pendidikan Teologi di sini lebih menekankan teologi praksis/pastoral dan teologi kontekstual/pembebasan.
Perkunjungan di Chile (Santiago dan Concepsion) dipersiapkan dengan sangat baik terutama dengan jadual kunjungan. Sehingga seminggu berada di sana tidak terasa. Setiap saat ada program yang bervariasi dan karenanya tidak melelahkan apalagi membosankan. Kami selalu didampingi oleh orang yang benar-benar menguasai lapangan yang dituju.
Dalam acara konferensi dan sidang raya di Lima-Peru, saya sering merasa lelah karena harus berkomunikasi (mendengar dan bercakap) dalam dua bahasa asing sekaligus yaitu Spanyol dan Inggris, bahkan kadang-kadang bahasa Jerman. Apalagi acara di tempat ini sangat padat, sampai-sampai tidak ada sihgt seeing. Untung pada malam hari selesai makan malam kira-kira jam 9, ada kesempatan untuk jalan kaki di sekitar hotel tempat konferensi/sidang yang memang tidak jauh dari tepi laut menghadap Lautan Pasifik.
Penutup
Suatu perjalanan yang panjang sekali (33 jam terbang sekali jalan minus transit) yang mengesankan dalam mana saya dapat mempraktekkan kemampuan berbahasa Inggris (tulisan dan lisan), juga saya banyak tahu tentang perubahan dari Basel Mission menjadi Mission 21, bertemu dengan banyak orang dalam bahasa, budaya, makan, minum (apalagi yang satu ini – minuman di Chile sebagai the land of good wine), iklim musim gugur – khususnya di Concepsion yang sampai mencapai 5 derajat Celcius (dalam rumah) dan di luar rumah sampai 0 derajat.
Ada juga sedikit masalah dengan perjalanan ini khususnya pada waktu transit di Dallas USA. Saya bersama para penumpang lainnya tidak memiliki visa Amerika Serikat. Jadi harus masuk jalur THROW (Transit Without Visa) dan menunggu di ruang tunggu yang khusus dan tidak boleh keluar ruangan itu. Selama transit, passport ditahan oleh petugas bandara/penerbangan. Sedangkan di Osaka dan di Tokyo yang harus transit lama dan menginap di hotel yang berada di luar airport, mengharuskan saya mengurus visa masuk Jepang di bandara (visa on arrival). Sesuai dengan pengaturan biro perjalanan, maka di hotel hanya mendapat fasilitas ruang tidur, sedangkan makan harus cari/bayar sendiri.
Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus yang empunya misi ini atas kesempatan yang diberikan langsung melalui Pdt.Deetje Tiwa-Rotinsulu selaku Koordinator Basel Mission Asian Fellowship. Untuknya, saya menyampaikan banyak terima kasih. Demikian juga kepada Basel Misision/Mission 21 yang membiayai seluruh perjalanan ini.
Tomohon, medio Mei 2001
Laporan ini diberikan kepada yang terhormat :
Pdt.Deetje Tiwa-Rotinsulu.M.Div.
Badan Pekerja Sinode GMIM (tembusan)
Dekan Fakultas Teologi UKIT (tembusan).
12 April sampai dengan 3 Mei 2001
Berdasarkan penugasan dari Koordinator Basel Mission Asia, Pdt. Deetje Tiwa-Rotinsulu,M.Div. untuk menggantikannya menghadiri Sidang ke-3 mitra Basel Mission (BM) se Amerika Latin (AL), maka saya melakukan perjalanan ini. Penugasan ini diberikan kepada saya karena selama 10 tahun (1990-2000) saya menjadi anggota Executive Committee BM Asian Fellowship mewakili GMIM.
Kepada saya ditugaskan untuk mempersiapkan secara tertulis dua materi untuk dipresentasikan dalam Konferensi ke-3 Perempuan mitra BM se AL dan Sidang Raya ke-3 mitra BM se AL. Dua materi ini berupa sharing dan informasi tentang keadaan BM Asian Fellowship.
BM Asian Fellowship berjumlah 13 gereja/badan misi yaitu dari Taiwan, Hong Kong, Malaysia, India dan Indonesia. Juga mempersiapkan diri untuk berkhotbah dalam ibadah pembukaan konferensi dimaksud. Dua acara ini berlangsung di kota Lima-Peru pada tanggal 15-21 April 2001. Selain mengikuti dua kegiatan tersebut, saya diminta untuk bersama-sama dengan Ketua Komisi Perempuan dan Gender BM untuk melakukan kunjungan ke sejumlah mitra BM di Chile pada tanggal 23-29 April 2001.
Mitra BM di AL berjumlah 26 institusi yang berada di 7 negara yaitu Bolivia, Chile, Peru, Argentina, Equador, Costa Rica dan Panama. Ke 26 institusi ini tidak hanya oleh gereja-gereja seperti Metodis, Lutheran, Pentakosta, Presbiterian, Sidang Jumat Allah, Bala Keselamatan, tetapi juga oleh lembaga swadaya umat yang bersifat ekumenis untuk program kemanusiaan (pendidikan/pembinaan/pelatihan; pemberdayaan perempuan, anak dan keluarga; pembangunan/pengembangan pertanian; hak azasi manusia; lingkungan hidup dan sekolah teologi). Mereka membagi diri dalam 4 kelompok besar yaitu Chile, Bolivia, Peru dan Continentales. Continentales maksudnya ialah institusi-institusi yang bersifat ekumenis dan melampaui batas-batas negara seperti Red AMEN, SERPAJ, SEPADA, SEDEC, UBL,CLAI.
Bahasa yang dipakai selama acara dan kunjungan adalah bahasa Spanyol. Saya selalu didampingi oleh beberapa orang penerjemah (secara bergantian) dalam bahasa Inggris. Begitu pula, waktu saya mempresentasikan atau menyampaikan sesuatu diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol baik lisan maupun tertulis.
Kegiatan/Program
12 April : berangkat dari Manado ke Jakarta
13 April : berangkat ke Lima-Peru melalui Osaka, Dallas. Transit di airport
Kansai-Osaka/Jepang selama 12 jam dan di Dallas/USA selama 2
jam.
14 April jam 23.40 waktu setempat : tiba di Lima-Peru.
15-18 April : Konferensi ke-3 Perempuan mitra BM se AL.
Dalam ibadah pembukaan pada Minggu, 15 petang saya berkhotbah berdasarkan pembacaan Alkitab Yohanes 20:1-18 tentang Perempuan dalam Paskah.
Tema Konferensi ialah : Constructores de Esperanza (Membangun Pengharapan).
Materi-materi :
- Persentasi dari Bolivia, Chile, Peru dan Continentales.
- Presentasi dari Asia oleh Pdt.K.A.Kapahang-Kaunang.
- Presentasi dari Ketua Komisi perempuan dan Gender BM oleh Johanna Eggimann.
- Ceramah tentang Demokrasi dan Kesetaraan
- Ceramah tentang Kekerasan dan Penanganannya.
- Introduksi dan Motivasi tentang Kesehatan Tubuh dan Mental
- Diskusi Kelompok per negara dan continentales.
- Pleno.
18-21 April : Sidang Saya ke-3 mitra BM se AL
Dalam ibadah pembukaan pada unsur Berkat dibawakan oleh 4 orang dalam bahasanya sendiri yaitu : Spanyol, Suku asli Peru, Jerman dan Indonesia (mewakili peserta yang hadir).
Tema Sidang : Actuando con Esperanza (Mengaktualisasikan Pengharapan).
Materi-materi Sidang :
- Ceramah tentang Globalisasi
- Pandangan dari Bolivia, Peru, Chile dan Continentales tentang Konstitusi Sidang.
- Ceramah tentang Kerjasama Internasional.
- Studi kasus dari masing-masing negara dan continentales melalui pemutaran video.
- Presentasi tentang Struktur Baru Misision 21 oleh Presiden BM/Mission 21 yaitu Pdt. Madeleine Strub-Jacoub.
- Presentasi tentang mitra BM di Asia oleh Pdt.K.A.Kapahang-Kaunang.
- Persentasi tentang hubungan bilateral BM dan AL oleh Sekretaris BM untuk AL.
- Presentasi dari Ketua Komisi Perempuan dan Gender BM/Mission 21 oleh Johanna Eggimann.
- Pembacaan Hasil Konferensi ke-3 Perempuan.
- Ceramah tentang Mempertahankan Hidup
- Panel Diskusi : - etika dan korupsi
- etika dan hak azasi manusia
- etika dan administrasi sumber daya manusia
- Evalusai tentang Peran Joint Planning Council (JPC BM)
- Diskusi kelompok untuk menyusun agreement dan resolusi
- Pemilihan JPC.
22 pagi : memberi salam/kesan dalam ibadah sekolah minggu (anak-anak
sampai orang dewasa) di jemaat Gereja Sidang Jemaat Allah.
22 sore : berangkat ke Santiago-Chile bersama Johanna Eggimann (dengan
pesawat selama 3 jam).
23-25 : kunjungan dan percapakan/sharing dengan berbagai institusi dan
perorangan yang bernmitra dengan BM langsung dan tidak langsung
di kota Santiago (ibukota Negara Chile), a.l. :
- Percakapan dengan Direktur Hubungan Internasional dan Pelayanan Perempuan Nasional (SERNAM) di kantor pemerintah metropolitan.
- Menghadiri reuni dari jaringan kerjasama perempuan (Red AMEN) dan mengadakan percakapan/sharing.
- Percakapan dengan Rektor CTE (Sekolah Tinggi Teologi) di kampusnya.
- Percakapan/sharing dengan Pelaksana Institusi Con-Spirando (yang bergerak di bidang kesehatan tubuh dan mental perempuan, penerbitan dan kursus-kursus teologi) di kantor pusatnya.
- Meninjau salah satu pusat kegiatan dari Jaringan Kerja Perempuan untuk pemberdayaan dan pembangunan masyarakat.
- Percakapan dengan Pengurus/Pelaksana Pelayanan untuk Keadilan dan Kasih (SERPAJ) di kantor pusat.
- Percakapan dengan seorang Pendeta Senior dari Gereja Metodis dan Aktivis untuk Pemberdayaan Pembangunan Masyarakat yakni Pastora/Pendeta perempuan Juana Albornoz ( saya sudah pernah bertemu dengannya di Basel).
- Percakapan dengan Mary Palma dan Cecilia Quilodran dari SEPADE (Pelayanan Gereja untuk Pembangunan yang menerbitkan banyak buku).
25 April malam : bersama Johanna berangkat dengan kereta api (9 jam) ke arah
Selatan Santiago yaitu ke kota Concepcion.
26-27 April : kunjungan dan percakapan/sharing dengan beberapa institusi :
- kunjungan/percakapan dengan staf dosen CTE di kampus.
- percakapan/sharing dengan ibu-ibu dari Red AMEN dan SEPADE.
- sight seeing di kota Concepsion
- percakapan dengan Pengurus/Pelaksana/Staf dari Pelayanan untuk pembangunan dan pendidikan gereja Metodis (SEDEC) di kantor.
- meninjau 3 proyek SEDEC (rumah keluarga yang punya anak cacat, kelompok kerajinan tangan, kelompok musik)
27 April malam : kembali ke Santiago dengan pesawat (45 menit).
28 April : - mengikuti ibadah dan menyampaikan salam di kampus CTE.
- percakapan dengan direktur komunikasi CTE.
- sight seeing di kota Santiago.
29 April : - mengikuti ibadah di Gereja Metodis Pentakosta (Iglesia Metodista
Pentakosta de Chile). Suatu gereja Evangelical terbesar di kota
Santiago yang dihadiri oleh kira-kira 2000-an orang).
- meninjau salah satu gereja Katolik yang megah dan antik.
- ke Bukit Perawan Maria yang letaknya berada di tengah kota Santiago.
29 April malam : berangkat pulang melalui Dallas AS dan Narita Tokyo,
Jakarta. Transit di Dallas 5 jam dan di Tokyo 20 jam.
2 Mei jam 16.40 : tiba di Jakarta.
3 Mei : tiba kembali di Tomohon.
Catatan Reflektif :
Misi Allah melalui Basel Mission yang sekarang menjadi Mission 21 (terhitung sejak Januari 2001 sebagai hasil merger 5 badan misi di Swiss termasuk SOAM), tidak hanya melalui gereja tetapi juga melalui lembaga swadaya masyarakat yang dikelola oleh warga gereja. Ke-26 institusi yang menjadi mitra BM/Mission 21 ini, sebagian besar adalah untuk program kemanusiaan seperti pendidikan, pelatihan, pembinaan, pemberdayaan perempuan dan anak, penguatan dan pembangunan ekonomi, keadilan, lingkungan hidup dan HAM pada umumnya.
Mitra BM di AL sebagian besar bersifat ekumenis di mana lembaga-lembaga yang langsung berhubungan dengan masalah kemasyarakatan baik yang berada di bawah naungan gereja tertentu maupun yang dikelola oleh warga gereja secara perorangan, melibatkan atau mempekerjakan orang-orang dari berbagai golongan gereja bahkan termasuk dari gereja Katolik seperti ADEP di Lima. Karena program kemanusiaan, maka para pekerjanya berasal dari berbagai bidang keahlian seperti hukum, dokter, ahli lingkungan, pertanian, ekonom, pendidik, pekerja sosial, psikolog, dll,
Semua kegiatan didokumentasikan melalui video, kaset, buletin, pamplet dan buku. Baik pengurus maupun pekerja lapangan dan staf administrasi bekerja bersama sesuai dengan keahliannya sehingga sulit membedakan mana yang “bos” dan mana yang bawahan. Sebab semua pelaksana bekerja fulltime. Bahkan ada yang bekerja fulltime tetapi tidak mendapat upah seperti kelompok perempuan yang bekerja di kompleks perumahan publik di Santiago.
Dari Konferenasi ke-3 Perempuan di Lima dan kunjungan/percakapan/sharing di Santiago dan Concepsion, ditemui bahwa perempuan masih berada dalam status dan peran yang memprihatinkan, yang berdampak pada kehidupan anak-anak dalam keluarga. Seperti masalah kekerasan, pemahaman teologi yang fundamentalis, perempuan dalam gereja, kesehatan reproduksi dan hak asazi perempuan pada umumnya. Nyatalah bahwa di mana-mana termasuk di Asia/Indonesia (seperti Laporan/materi pertemuan perempuan mitra BM se Asia di Hong Kong pada Juli 2000 lalu), perempuan masih harus berjuang untuk mendapatkan kembali harkat dan martabatnya selaku Manusia Gambar Allah di bumi. Perjuangan ini tidak hanya menjadi program kaum perempuan tetapi harus menjadi program bersama dengan kaum laki-laki dalam keluarga, gereja dan masyarakat. Dalam konteks demikian, maka program Dewan Gereja-Gereja sedunia (WCC) yang dicanangkan pada 4 Februari 2001 yaitu Decade to Overcome Violence (Dasawarsa Mengatasi Kekerasan) harus menjadi program gereja-gereja secara sungguh-sungguh. Dengan demikian, gereja-gereja dapat mengaktualisasikan perannya sebagai pelopor untuk teralaminya hak asazi manusia sebagai Imago Dei.
Sekolah Teologi (CTE) yang ada di Santiago dan Concepsion bahkan Universitas Biblica Amerika Latin (UBL) di San Jose Costa Rica, bersifat ekumenis di mana berbagai denominasi Evangelical/Protestan (kecuali gereja Baptis di Santiago yang punya Sekolah Teologinya sendiri) terlibat di dalamnya. Bahkan di UBL ada mahasiswa Katolik. Pendidikan Teologi di sini lebih menekankan teologi praksis/pastoral dan teologi kontekstual/pembebasan.
Perkunjungan di Chile (Santiago dan Concepsion) dipersiapkan dengan sangat baik terutama dengan jadual kunjungan. Sehingga seminggu berada di sana tidak terasa. Setiap saat ada program yang bervariasi dan karenanya tidak melelahkan apalagi membosankan. Kami selalu didampingi oleh orang yang benar-benar menguasai lapangan yang dituju.
Dalam acara konferensi dan sidang raya di Lima-Peru, saya sering merasa lelah karena harus berkomunikasi (mendengar dan bercakap) dalam dua bahasa asing sekaligus yaitu Spanyol dan Inggris, bahkan kadang-kadang bahasa Jerman. Apalagi acara di tempat ini sangat padat, sampai-sampai tidak ada sihgt seeing. Untung pada malam hari selesai makan malam kira-kira jam 9, ada kesempatan untuk jalan kaki di sekitar hotel tempat konferensi/sidang yang memang tidak jauh dari tepi laut menghadap Lautan Pasifik.
Penutup
Suatu perjalanan yang panjang sekali (33 jam terbang sekali jalan minus transit) yang mengesankan dalam mana saya dapat mempraktekkan kemampuan berbahasa Inggris (tulisan dan lisan), juga saya banyak tahu tentang perubahan dari Basel Mission menjadi Mission 21, bertemu dengan banyak orang dalam bahasa, budaya, makan, minum (apalagi yang satu ini – minuman di Chile sebagai the land of good wine), iklim musim gugur – khususnya di Concepsion yang sampai mencapai 5 derajat Celcius (dalam rumah) dan di luar rumah sampai 0 derajat.
Ada juga sedikit masalah dengan perjalanan ini khususnya pada waktu transit di Dallas USA. Saya bersama para penumpang lainnya tidak memiliki visa Amerika Serikat. Jadi harus masuk jalur THROW (Transit Without Visa) dan menunggu di ruang tunggu yang khusus dan tidak boleh keluar ruangan itu. Selama transit, passport ditahan oleh petugas bandara/penerbangan. Sedangkan di Osaka dan di Tokyo yang harus transit lama dan menginap di hotel yang berada di luar airport, mengharuskan saya mengurus visa masuk Jepang di bandara (visa on arrival). Sesuai dengan pengaturan biro perjalanan, maka di hotel hanya mendapat fasilitas ruang tidur, sedangkan makan harus cari/bayar sendiri.
Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus yang empunya misi ini atas kesempatan yang diberikan langsung melalui Pdt.Deetje Tiwa-Rotinsulu selaku Koordinator Basel Mission Asian Fellowship. Untuknya, saya menyampaikan banyak terima kasih. Demikian juga kepada Basel Misision/Mission 21 yang membiayai seluruh perjalanan ini.
Tomohon, medio Mei 2001
Laporan ini diberikan kepada yang terhormat :
Pdt.Deetje Tiwa-Rotinsulu.M.Div.
Badan Pekerja Sinode GMIM (tembusan)
Dekan Fakultas Teologi UKIT (tembusan).
Belajar dari Persekutuan Perempuan Gereja India
1. Pada tanggal 9-23 Februari 1998 di Bangalore-India Selatan diadakan Konsultasi Perempuan Asia yang disponsori oleh Biro Wanita EMS (Evangelisches Missionwerk in Sudwestdeutchland). Peserta dari Indonesia berjumlah 9 orang dari 9 gereja mitra EMS, yaitu : GKPB, GMIH, GEPSULTRA, GKSS, GT, GTM, GPID dan GMIM. Konsultasi ini dapat dibagi dalam tiga kegiatan utama :
- 9 –14 Februari : Penelaahan Alkitab, ceramah, diskusi, sharing tentang kedudukan dan peran perempuan dalam gereja dan masyarakat pada penghujung Dasawarsa Ekumenis Gereja-gereja dalam Solidaritas dengan Perempuan (1988-1998).
- 16-21 Februari : Perkunjungan ke jemaat-jemaat untuk melihat dari dekat dan bersama-sama dalam kegiatan Persekutuan Perempuan (PP) gereja.
- 22-23 Februari : Evaluasi hasil perkunjungan dan keseluruhan konsultasi.
Tentu saja ada acara sight seeing yang dilaksanakan pada tanggal 24 sepanjang siang sampai malam.
2. Dari pengalaman perkunjungan selama satu minggu di dua dioses/keuskupan yaitu di Tirunelveli dan Kanyakumari (12-14 jam dengan bus malam dari Bangalore) dan sharing para peserta India selama konsultasi, maka berikut ini digambarkan tentang keadaan organisasi dan kegiatan PP dari CSI (Church of South India/Gereja India Selatan), sebagai berikut :
- Pengorganisasian PP gereja ini diatur sendiri oleh Pimpinan mereka. Bagi CSI masalah perempuan adalah urusan perempuan saja, bukan oleh gereja secara keseluruhan yang dipimpin oleh laki-laki. Di sini kaum perempuan mandiri dan kreatif dan sangat peka terhadap berbagai permasalahan hidupnya di satu pihak, tetapi di lain pihak mereka sulit untuk menerobos posisi penting dalam keseluruhan pelayanan gereja yang mengantar mereka sulit bekerjasama dalam satu program untuk persekutuan yang lebih luas (gereja : terdiri dari laki-laki dan perempuan). Keadaan ini memperkukuh pandangan bahwa perempuan hanya dapat memimpin dirinya sendiri, dan laki-laki saja yang harus mengurus keseluruhan pelayanan gereja.
- Kepemimpinan PP ini berada di tangan isteri Bishop (Bishop amma). Dialah ketua PP dari dioses tertentu dalam lingkungan CSI. Jabatan ini tidak melalui pemilihan (seperti layaknya kita di Indonesia di mana Ketua PKK/Dharma Wanita) dan berlangsung selama kurang lebih 15 tahun (sejalan dengan masa pelayanan Bishop yaitu sejak terpilih sampai pensiun). Pimpinan lainnya seperti wakil ketua, sekretaris dan bendahara ditunjuk oleh ketua. Keuntungan dari isteri bishop yang menjadi ketua PP ini a.l. ia dapat mengkomunikasikan segala kegiatan PP kepada suaminya. Kerugiannya a.l. ialah demokrasi tidak jalan dan regenerasi terhambat. Belum lagi bila dikaitkan dengan soal kualitas pemimpin dan memimpin. Namun secara kebetulan ada isteri bishop yang adalah pendeta atau awam yang sangat pandai memimpin lalu dibantu oleh teman-teman pilihannya (pendeta dan awam) yang trampil dan penuh pengabdian. Rupanya pemilihan bishop juga turut ditentukan oleh siapa isterinya. Masalah ini sangat berkaitan dengan latar belakang teologi dan tradisi dari gereja-gereja yang bergabung dalam CSI pada 27 September 1947.
- Program PP CSI tingkat dioses dibagi dalam dua bentuk pelayanan yaitu pelayanan spiritual dan sosial. Yang termasuk pelayanan spiritual ialah : ibadah minggu, retret, kelompok doa, retret isteri pendeta, PA, doa puasa dan pengucapan syukur. Sedangkan pelayanan sosial seperti : pelayanan di rumah-rumah sakit, menolong orang cacat, menunjang kesejahteraan para janda, sekolah malam (untuk yang masih buta huruf dan angka), kursus menjahit dan mengetik, mengasuh dan membiayai taman kanak-kanak, pengembangan ketrampilan perempuan pedesaan dan perkotaan, membiayai misionaris di perbukitan yang jauh terpencil dan lain-lain. Pada dasarnya kedua bentuk pelayanan ini saling terkait erat, sebab pelayanan sosial berdampak dan berlanjut pada pelayanan spiritual dan sebaliknya.
Yang menarik dari program ini ialah khalayak sasarannya adalah masyarakat umum yang sebagian besar beragama Hindu. Malahan ada satu program tingkat jemaat (kota) yaitu memberi makan dan minum (siang hari) yang didahului dengan doa bersama dan diakhiri dengan bercerita alkitab kepada para fakir miskin yang sudah tua dan memberi mereka bantuan perawatan. Kegiatan ini bertempat di gedung gereja seminggu sekali. Kebetulan, gereja ini berada di pusat kegiatan kota/bisnis/pasar/terminal.
- Hari Doa Sedunia (HDS) setiap tahun dirayakan dengan penuh kreatifitas. Contoh : HDS tahun 1997 dengan liturgi dari Korea dirayakan bukan hanya di jemaat-jemaat lokal tetapi juga di tingkat dioses (Tirunelveli) dalam mana seluruh suasana seperti layaknya di Korea. Tanda-tanda ini kami temui dengan melihat poster, peta, tema dan simbol, foto, gedung gereja dalam bentuk kardus yang di dalamnya berisi orang-orangan Korea dan pakaian liturgisnya.. Sementara itu, PP Bangalore dan sekitarnya (dioses Karnataka Pusat) melakukannya dengan merancang/mempersiapkan bersama dengan pimpinan PP dari gereja-gereja lain seperti Roma Katolik, Mar Thoma, Lutheran, Bala Keselamatan dan teolog perempuan/isteri teolog dari sekolah teologi.
Baik kegiatan HDS maupun pertemuan bulanan antar perempuan berbagai denominasi menunjukkan visi dan misi ekumenis perempuan gereja-gereja India yang bukan hanya teori tetapi benar-benar dipraktekkan. Demikian pula dengan program lainnya yang menunjukkan bahwa syaloom Allah di bumi adalah untuk semua orang, terutama bagi mereka yang papa dan menderita secara ekonomis, psikologis dan budaya.
3.Gambaran di atas sengaja dikemukakan sebagai “cermin” bagi kita untuk melihat diri sendiri, kemudian membandingkan dengan keadaan PP kita di Indonesia yang telah diorganisasikan seperti a.l. :
a. Komisi/Persekutuan Wanita Gereja (jemaat, klasis/wilayah/resort, sinode),
b. Persekutuan Wanita Berpendidikan Teologi di Indonesia (daerah dan Pusat)
c. Wadah Kerukunan Pendeta Perempuan (WKPP) di Minahasa (GMIM).
Tentu saja, konteks India dan kita di Indonesia/ di daerah/ di gereja masing-masing berbeda. Namun kita bersama perlu selalu bertanya :
- Apakah yang telah kita buat untuk perempuan-perempuan yang miskin, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, pramuniaga, penjual/pegadang kecildi pasar (di Minahasa dikenal dengan sebutan ‘tibo-tibo’), ibu-ibu rumah tangga di pedesaan, pegawai golongan I dan II, tenaga kerja, petani penggarap, dll ?
- Apakah misi ekumenis kita hanya dilakukan pada saat-saat tertentu dan untuk orang-orang tertentu ?
- Apakah dan bagaimanakah kita dapat saling membagi dan memberi kuasa di antara kita ?
Semoga dengan “studi perbandingan” ini dapat menolong kita kaum perempuan gereja (sebagai pemimpin, pengurus, aktivis) agar lebih jeli memperhatikan dan berbuat untuk sesama kaum yang justru dari segi kuantitas dan kualitas lebih banyak bermasalah. Ingatlah : Dekade Ekumenis (1988-1998) akan segera berakhir. Akankah ada tahap kedua (1998-2008) atau sejenisnya ? Memberdayakan harus dimulai bukan hanya dari atas tetapi juga serentak dari dan di antara yang terbawah.
* Tulisan ini dimuat dalam “Berita Untuk Wanita” yang diterbitkan oleh Biro
Wanita PGI Jakarta.
- 9 –14 Februari : Penelaahan Alkitab, ceramah, diskusi, sharing tentang kedudukan dan peran perempuan dalam gereja dan masyarakat pada penghujung Dasawarsa Ekumenis Gereja-gereja dalam Solidaritas dengan Perempuan (1988-1998).
- 16-21 Februari : Perkunjungan ke jemaat-jemaat untuk melihat dari dekat dan bersama-sama dalam kegiatan Persekutuan Perempuan (PP) gereja.
- 22-23 Februari : Evaluasi hasil perkunjungan dan keseluruhan konsultasi.
Tentu saja ada acara sight seeing yang dilaksanakan pada tanggal 24 sepanjang siang sampai malam.
2. Dari pengalaman perkunjungan selama satu minggu di dua dioses/keuskupan yaitu di Tirunelveli dan Kanyakumari (12-14 jam dengan bus malam dari Bangalore) dan sharing para peserta India selama konsultasi, maka berikut ini digambarkan tentang keadaan organisasi dan kegiatan PP dari CSI (Church of South India/Gereja India Selatan), sebagai berikut :
- Pengorganisasian PP gereja ini diatur sendiri oleh Pimpinan mereka. Bagi CSI masalah perempuan adalah urusan perempuan saja, bukan oleh gereja secara keseluruhan yang dipimpin oleh laki-laki. Di sini kaum perempuan mandiri dan kreatif dan sangat peka terhadap berbagai permasalahan hidupnya di satu pihak, tetapi di lain pihak mereka sulit untuk menerobos posisi penting dalam keseluruhan pelayanan gereja yang mengantar mereka sulit bekerjasama dalam satu program untuk persekutuan yang lebih luas (gereja : terdiri dari laki-laki dan perempuan). Keadaan ini memperkukuh pandangan bahwa perempuan hanya dapat memimpin dirinya sendiri, dan laki-laki saja yang harus mengurus keseluruhan pelayanan gereja.
- Kepemimpinan PP ini berada di tangan isteri Bishop (Bishop amma). Dialah ketua PP dari dioses tertentu dalam lingkungan CSI. Jabatan ini tidak melalui pemilihan (seperti layaknya kita di Indonesia di mana Ketua PKK/Dharma Wanita) dan berlangsung selama kurang lebih 15 tahun (sejalan dengan masa pelayanan Bishop yaitu sejak terpilih sampai pensiun). Pimpinan lainnya seperti wakil ketua, sekretaris dan bendahara ditunjuk oleh ketua. Keuntungan dari isteri bishop yang menjadi ketua PP ini a.l. ia dapat mengkomunikasikan segala kegiatan PP kepada suaminya. Kerugiannya a.l. ialah demokrasi tidak jalan dan regenerasi terhambat. Belum lagi bila dikaitkan dengan soal kualitas pemimpin dan memimpin. Namun secara kebetulan ada isteri bishop yang adalah pendeta atau awam yang sangat pandai memimpin lalu dibantu oleh teman-teman pilihannya (pendeta dan awam) yang trampil dan penuh pengabdian. Rupanya pemilihan bishop juga turut ditentukan oleh siapa isterinya. Masalah ini sangat berkaitan dengan latar belakang teologi dan tradisi dari gereja-gereja yang bergabung dalam CSI pada 27 September 1947.
- Program PP CSI tingkat dioses dibagi dalam dua bentuk pelayanan yaitu pelayanan spiritual dan sosial. Yang termasuk pelayanan spiritual ialah : ibadah minggu, retret, kelompok doa, retret isteri pendeta, PA, doa puasa dan pengucapan syukur. Sedangkan pelayanan sosial seperti : pelayanan di rumah-rumah sakit, menolong orang cacat, menunjang kesejahteraan para janda, sekolah malam (untuk yang masih buta huruf dan angka), kursus menjahit dan mengetik, mengasuh dan membiayai taman kanak-kanak, pengembangan ketrampilan perempuan pedesaan dan perkotaan, membiayai misionaris di perbukitan yang jauh terpencil dan lain-lain. Pada dasarnya kedua bentuk pelayanan ini saling terkait erat, sebab pelayanan sosial berdampak dan berlanjut pada pelayanan spiritual dan sebaliknya.
Yang menarik dari program ini ialah khalayak sasarannya adalah masyarakat umum yang sebagian besar beragama Hindu. Malahan ada satu program tingkat jemaat (kota) yaitu memberi makan dan minum (siang hari) yang didahului dengan doa bersama dan diakhiri dengan bercerita alkitab kepada para fakir miskin yang sudah tua dan memberi mereka bantuan perawatan. Kegiatan ini bertempat di gedung gereja seminggu sekali. Kebetulan, gereja ini berada di pusat kegiatan kota/bisnis/pasar/terminal.
- Hari Doa Sedunia (HDS) setiap tahun dirayakan dengan penuh kreatifitas. Contoh : HDS tahun 1997 dengan liturgi dari Korea dirayakan bukan hanya di jemaat-jemaat lokal tetapi juga di tingkat dioses (Tirunelveli) dalam mana seluruh suasana seperti layaknya di Korea. Tanda-tanda ini kami temui dengan melihat poster, peta, tema dan simbol, foto, gedung gereja dalam bentuk kardus yang di dalamnya berisi orang-orangan Korea dan pakaian liturgisnya.. Sementara itu, PP Bangalore dan sekitarnya (dioses Karnataka Pusat) melakukannya dengan merancang/mempersiapkan bersama dengan pimpinan PP dari gereja-gereja lain seperti Roma Katolik, Mar Thoma, Lutheran, Bala Keselamatan dan teolog perempuan/isteri teolog dari sekolah teologi.
Baik kegiatan HDS maupun pertemuan bulanan antar perempuan berbagai denominasi menunjukkan visi dan misi ekumenis perempuan gereja-gereja India yang bukan hanya teori tetapi benar-benar dipraktekkan. Demikian pula dengan program lainnya yang menunjukkan bahwa syaloom Allah di bumi adalah untuk semua orang, terutama bagi mereka yang papa dan menderita secara ekonomis, psikologis dan budaya.
3.Gambaran di atas sengaja dikemukakan sebagai “cermin” bagi kita untuk melihat diri sendiri, kemudian membandingkan dengan keadaan PP kita di Indonesia yang telah diorganisasikan seperti a.l. :
a. Komisi/Persekutuan Wanita Gereja (jemaat, klasis/wilayah/resort, sinode),
b. Persekutuan Wanita Berpendidikan Teologi di Indonesia (daerah dan Pusat)
c. Wadah Kerukunan Pendeta Perempuan (WKPP) di Minahasa (GMIM).
Tentu saja, konteks India dan kita di Indonesia/ di daerah/ di gereja masing-masing berbeda. Namun kita bersama perlu selalu bertanya :
- Apakah yang telah kita buat untuk perempuan-perempuan yang miskin, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, pramuniaga, penjual/pegadang kecildi pasar (di Minahasa dikenal dengan sebutan ‘tibo-tibo’), ibu-ibu rumah tangga di pedesaan, pegawai golongan I dan II, tenaga kerja, petani penggarap, dll ?
- Apakah misi ekumenis kita hanya dilakukan pada saat-saat tertentu dan untuk orang-orang tertentu ?
- Apakah dan bagaimanakah kita dapat saling membagi dan memberi kuasa di antara kita ?
Semoga dengan “studi perbandingan” ini dapat menolong kita kaum perempuan gereja (sebagai pemimpin, pengurus, aktivis) agar lebih jeli memperhatikan dan berbuat untuk sesama kaum yang justru dari segi kuantitas dan kualitas lebih banyak bermasalah. Ingatlah : Dekade Ekumenis (1988-1998) akan segera berakhir. Akankah ada tahap kedua (1998-2008) atau sejenisnya ? Memberdayakan harus dimulai bukan hanya dari atas tetapi juga serentak dari dan di antara yang terbawah.
* Tulisan ini dimuat dalam “Berita Untuk Wanita” yang diterbitkan oleh Biro
Wanita PGI Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)