Selasa, 05 Mei 2009

Belajar dari Persekutuan Perempuan Gereja India

1. Pada tanggal 9-23 Februari 1998 di Bangalore-India Selatan diadakan Konsultasi Perempuan Asia yang disponsori oleh Biro Wanita EMS (Evangelisches Missionwerk in Sudwestdeutchland). Peserta dari Indonesia berjumlah 9 orang dari 9 gereja mitra EMS, yaitu : GKPB, GMIH, GEPSULTRA, GKSS, GT, GTM, GPID dan GMIM. Konsultasi ini dapat dibagi dalam tiga kegiatan utama :
- 9 –14 Februari : Penelaahan Alkitab, ceramah, diskusi, sharing tentang kedudukan dan peran perempuan dalam gereja dan masyarakat pada penghujung Dasawarsa Ekumenis Gereja-gereja dalam Solidaritas dengan Perempuan (1988-1998).
- 16-21 Februari : Perkunjungan ke jemaat-jemaat untuk melihat dari dekat dan bersama-sama dalam kegiatan Persekutuan Perempuan (PP) gereja.
- 22-23 Februari : Evaluasi hasil perkunjungan dan keseluruhan konsultasi.
Tentu saja ada acara sight seeing yang dilaksanakan pada tanggal 24 sepanjang siang sampai malam.

2. Dari pengalaman perkunjungan selama satu minggu di dua dioses/keuskupan yaitu di Tirunelveli dan Kanyakumari (12-14 jam dengan bus malam dari Bangalore) dan sharing para peserta India selama konsultasi, maka berikut ini digambarkan tentang keadaan organisasi dan kegiatan PP dari CSI (Church of South India/Gereja India Selatan), sebagai berikut :
- Pengorganisasian PP gereja ini diatur sendiri oleh Pimpinan mereka. Bagi CSI masalah perempuan adalah urusan perempuan saja, bukan oleh gereja secara keseluruhan yang dipimpin oleh laki-laki. Di sini kaum perempuan mandiri dan kreatif dan sangat peka terhadap berbagai permasalahan hidupnya di satu pihak, tetapi di lain pihak mereka sulit untuk menerobos posisi penting dalam keseluruhan pelayanan gereja yang mengantar mereka sulit bekerjasama dalam satu program untuk persekutuan yang lebih luas (gereja : terdiri dari laki-laki dan perempuan). Keadaan ini memperkukuh pandangan bahwa perempuan hanya dapat memimpin dirinya sendiri, dan laki-laki saja yang harus mengurus keseluruhan pelayanan gereja.
- Kepemimpinan PP ini berada di tangan isteri Bishop (Bishop amma). Dialah ketua PP dari dioses tertentu dalam lingkungan CSI. Jabatan ini tidak melalui pemilihan (seperti layaknya kita di Indonesia di mana Ketua PKK/Dharma Wanita) dan berlangsung selama kurang lebih 15 tahun (sejalan dengan masa pelayanan Bishop yaitu sejak terpilih sampai pensiun). Pimpinan lainnya seperti wakil ketua, sekretaris dan bendahara ditunjuk oleh ketua. Keuntungan dari isteri bishop yang menjadi ketua PP ini a.l. ia dapat mengkomunikasikan segala kegiatan PP kepada suaminya. Kerugiannya a.l. ialah demokrasi tidak jalan dan regenerasi terhambat. Belum lagi bila dikaitkan dengan soal kualitas pemimpin dan memimpin. Namun secara kebetulan ada isteri bishop yang adalah pendeta atau awam yang sangat pandai memimpin lalu dibantu oleh teman-teman pilihannya (pendeta dan awam) yang trampil dan penuh pengabdian. Rupanya pemilihan bishop juga turut ditentukan oleh siapa isterinya. Masalah ini sangat berkaitan dengan latar belakang teologi dan tradisi dari gereja-gereja yang bergabung dalam CSI pada 27 September 1947.
- Program PP CSI tingkat dioses dibagi dalam dua bentuk pelayanan yaitu pelayanan spiritual dan sosial. Yang termasuk pelayanan spiritual ialah : ibadah minggu, retret, kelompok doa, retret isteri pendeta, PA, doa puasa dan pengucapan syukur. Sedangkan pelayanan sosial seperti : pelayanan di rumah-rumah sakit, menolong orang cacat, menunjang kesejahteraan para janda, sekolah malam (untuk yang masih buta huruf dan angka), kursus menjahit dan mengetik, mengasuh dan membiayai taman kanak-kanak, pengembangan ketrampilan perempuan pedesaan dan perkotaan, membiayai misionaris di perbukitan yang jauh terpencil dan lain-lain. Pada dasarnya kedua bentuk pelayanan ini saling terkait erat, sebab pelayanan sosial berdampak dan berlanjut pada pelayanan spiritual dan sebaliknya.
Yang menarik dari program ini ialah khalayak sasarannya adalah masyarakat umum yang sebagian besar beragama Hindu. Malahan ada satu program tingkat jemaat (kota) yaitu memberi makan dan minum (siang hari) yang didahului dengan doa bersama dan diakhiri dengan bercerita alkitab kepada para fakir miskin yang sudah tua dan memberi mereka bantuan perawatan. Kegiatan ini bertempat di gedung gereja seminggu sekali. Kebetulan, gereja ini berada di pusat kegiatan kota/bisnis/pasar/terminal.
- Hari Doa Sedunia (HDS) setiap tahun dirayakan dengan penuh kreatifitas. Contoh : HDS tahun 1997 dengan liturgi dari Korea dirayakan bukan hanya di jemaat-jemaat lokal tetapi juga di tingkat dioses (Tirunelveli) dalam mana seluruh suasana seperti layaknya di Korea. Tanda-tanda ini kami temui dengan melihat poster, peta, tema dan simbol, foto, gedung gereja dalam bentuk kardus yang di dalamnya berisi orang-orangan Korea dan pakaian liturgisnya.. Sementara itu, PP Bangalore dan sekitarnya (dioses Karnataka Pusat) melakukannya dengan merancang/mempersiapkan bersama dengan pimpinan PP dari gereja-gereja lain seperti Roma Katolik, Mar Thoma, Lutheran, Bala Keselamatan dan teolog perempuan/isteri teolog dari sekolah teologi.
Baik kegiatan HDS maupun pertemuan bulanan antar perempuan berbagai denominasi menunjukkan visi dan misi ekumenis perempuan gereja-gereja India yang bukan hanya teori tetapi benar-benar dipraktekkan. Demikian pula dengan program lainnya yang menunjukkan bahwa syaloom Allah di bumi adalah untuk semua orang, terutama bagi mereka yang papa dan menderita secara ekonomis, psikologis dan budaya.
3.Gambaran di atas sengaja dikemukakan sebagai “cermin” bagi kita untuk melihat diri sendiri, kemudian membandingkan dengan keadaan PP kita di Indonesia yang telah diorganisasikan seperti a.l. :
a. Komisi/Persekutuan Wanita Gereja (jemaat, klasis/wilayah/resort, sinode),
b. Persekutuan Wanita Berpendidikan Teologi di Indonesia (daerah dan Pusat)
c. Wadah Kerukunan Pendeta Perempuan (WKPP) di Minahasa (GMIM).

Tentu saja, konteks India dan kita di Indonesia/ di daerah/ di gereja masing-masing berbeda. Namun kita bersama perlu selalu bertanya :
- Apakah yang telah kita buat untuk perempuan-perempuan yang miskin, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, pramuniaga, penjual/pegadang kecildi pasar (di Minahasa dikenal dengan sebutan ‘tibo-tibo’), ibu-ibu rumah tangga di pedesaan, pegawai golongan I dan II, tenaga kerja, petani penggarap, dll ?
- Apakah misi ekumenis kita hanya dilakukan pada saat-saat tertentu dan untuk orang-orang tertentu ?
- Apakah dan bagaimanakah kita dapat saling membagi dan memberi kuasa di antara kita ?

Semoga dengan “studi perbandingan” ini dapat menolong kita kaum perempuan gereja (sebagai pemimpin, pengurus, aktivis) agar lebih jeli memperhatikan dan berbuat untuk sesama kaum yang justru dari segi kuantitas dan kualitas lebih banyak bermasalah. Ingatlah : Dekade Ekumenis (1988-1998) akan segera berakhir. Akankah ada tahap kedua (1998-2008) atau sejenisnya ? Memberdayakan harus dimulai bukan hanya dari atas tetapi juga serentak dari dan di antara yang terbawah.

* Tulisan ini dimuat dalam “Berita Untuk Wanita” yang diterbitkan oleh Biro
Wanita PGI Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar