Misi dan Ekumene
(belajar dari Peru dan Chile)*
Selama satu minggu (15-22 April 2001) berada di Lima-Peru dan satu minggu(23-29 April 2001) di Santiago dan Concepcion, kedua kota ini berada di Chile, saya belajar banyak hal tentang topik kita ini. Perjalanan ke dan di kedua negara (yang berada di Amerika Latin) ini dilakukan dalam rangka mengikuti suatu sidang raya dari gereja-gereja se Amerika Latin yang bermitra dengan Basel Mission (BM). Basel Mission adalah suatu badan misi yang berpusat di kota Basel-Swiss yang mempunyai mitra kerja (counterparts) di benua Afrika, Asia dan Amerika Latin. Sejak Januari 2001 BM merger dengan empat badan misi lain yang ada di Swiss dengan nama Mission 21. Karena itu, sidang raya ini adalah suatu sidang misi dan ekumene. Sebagaimana biasa menjelang pelaksanaan sidang raya, diadakan dulu pertemuan/konferensi kaum perempuan gereja-gereja di tempat yang sama. Selanjutnya bersama dengan Kepala Biro Perempuan dan Gender dari Basel Mission/Mission 21 saya mengadakan perkunjungan di dua kota di Chile yaitu di Santiago dan Concepsion.
Kehadiran saya dalam pertemuan dan kunjungan ini sebagai representasi dari mitra Basel Mission/Mission 21 di Asia dengan tugas untuk share (tertulis dan lisan) tentang apa yang dikerjakan 13 gereja-gereja mitra BM di Asia (Taiwan, Hong Kong, Malaysia, India dan Indonesia).
Mitra BM yang ada di Amerika Latin (Bolivia, Chile, Peru, Equador, Costa Rica, Argentina dan Panama) berjumlah 26 institusi. Ke 26 institusi ini tidak hanya oleh gereja-gereja seperti Metodis, Pentakosta, Lutheran, Presbiterian, Bala Keselamatan , Sidang Jemaat Allah dan gereja-gereja yang memakai nama suku asli yang sulit untuk dikelompokan dalam salah satu tradisi gereja yang mendunia , ada juga oleh lembaga swadaya umat yang bersifat ekumenis. Ke 26 institusi ini dibagi dalam empat kelompok yaitu Chile,Peru,Bolivia dan Continentales. Continentales maksudnya ialah institusi-institusi yang bersifat ekumenis dan melampaui batas-batas negara (tentu di Amerika Latin) seperti Red AMEN, SERPAJ, SEPADA, SEDEC, UBL dan CLAI.
Program gereja-gereja dan lembaga-lembaga swadaya umat ini lebih banyak ditujukan untuk bidang pertanian, pendidikan/pembinaan/ketrampilan, kesehatan, lingkungan hidup, pemberdayaan perempuan, anak dan keluarga, hak azasi manusia bagi penduduk pribumi dan penanggulangan masalah-masalah sosial lainnya serta penerbitan brosur/ buku/majalah/kaset/video. Dengan kata lain, program mereka ini adalah berhubungan langsung dengan persoalan kemanusiaan sehari-hari baik itu berhubungan dengan dirinya sendiri maupun dengan sesama bahkan dengan alam lingkungan hidupnya. Program yang betul-betul nyata dan aktual. Semua program ini dikerjakan oleh orang-orang yang profesional di bidangnya dan mereka bekerja penuh waktu.
Gereja-gereja melaksanakan program ini dalam dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Tidak langsung seperti mendirikan lembaga swadaya umat yang dikelola secara mandiri oleh gereja Metodis di Concepsion dengan nama SEDEC (Pelayanan untuk Pembangunan dan Pendidikan). Mereka ini punya kelompok-kelompok binaan seperti kelompok keluarga yang tidak punya pekerjaan tetap dan mempunyai anak cacat, kelompok kerajinan tangan bagi kaum perempuan dan kelompok musik bagi kaum perempuan dan lansia yang bertempat tinggal di pinggiran kota yang mereka sebut “daerah publik”. Kelompok-kelompok ini langsung dibina oleh salah seorang staf dari SEDEC sedangkan pengelolaan administrasi dan keuangan oleh beberapa orang dari antara anggota kelompok.
Ada pula lembaga swadaya umat yang bukan didirikan atau milik gereja, melainkan oleh sekelompok warga gereja yang berasal dari berbagai denominasi, seperti Con-Spirando (yang bergerak di bidang pelayanan pengobatan alternatif, kursus-kursus teologi dan penerbitan buku) dan SERPAJ (Pelayanan untuk Keadilan dan Kasih) di Santiago. Bahkan satu lembaga yang sebagian besar pengelola dan stafnya adalah umat Katolik seperti ADEP (yang antara lain memproduksi leaflet/kartu, kaset dan video) di Lima.
Dalam hal pendidikan teologi seperti di Universitas Biblika Latin Amerika (UBL)di Costa Rica dan Sekolah Teologi di Santiago dan Concepsion didirikan bersama oleh berbagai denominasi. Para dosen, staf dan mahasiswa berasal dari berbagai denominasi seperti yang telah disebutkan di atas. Bahkan di UBL melibatkan juga umat Katolik. Kurikulumnya ditekankan pada teologi praksis/pastoral dan teologi kontekstual (pembebasan dan feminis).
Dari gambaran umum di atas, maka saya menarik beberapa kesimpulan reflektif tentang misi dan ekumene untuk menjadi bahan pelajaran/pembanding bagi gereja-gereja khususnya GMIM yang akan merayakan HUT ke 170 Pekabaran Injil dan Pendidikan Krsiten di tanah Minahasa.
Pertama, misi Allah di dalam dunia ini adalah supaya keselamatan dari-Nya diberitakan kepada semua orang dan segenap ciptaan. Keselamatan dari Tuhan Allah ini adalah berhubungan dengan seluruh aspek hidup manusia yaitu jasmani dan rohani. Adalah keliru bila ada orang/kelompok/lembaga gerejawi yang masih berpemahaman bahwa keselamatan dari Tuhan Allah pertama-tama atau terutama adalah soal rohani. Hal ini kelihatan dalam penyusunan dan pelaksanaan program yang hanya bergelut dan “berkaok-kaok” di sekitar dirinya sendiri seperti terus membongkar-bangun gedung-gedung gereja yang masih kuat dan bagus sementara itu gedung sekolah Taman Kanak-Kanak dan SD terabaikan kondisi bangunannya. Ini baru soal bangunan, belum lagi soal kualitas guru dan biaya sekolah anak-anak. Khotbah dan renungan bahkan refleksi banyak kali belum menyentuh aspek keseharian umat yang bingung/resah/susah/konflik yang sangat mempengaruhi hidup beriman sesungguhnya. Khotbah-khotbah terlalu banyak bersifat akademis atau hanya sekedar memberi kepuasan/ ketenangan/kedamaian semu.
Kedua, tugas pekabaran injil adalah tugas setiap orang kristen baik perorangan maupun kelompok dan gereja. Gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya bisa melakukan misi tanpa selalu/harus terikat dengan suatu ketentuan institusi gereja. Adanya kelompok/lembaga kristiani (artinya yang didirikan dan dikerjakan oleh orang Kristen dengan melibatkan orang-orang berkepercayaan berbeda) untuk melaksanakan misi kemanusiaan tanpa pandang perbedaan “sara” dan keutuhan ciptaan hendaknya diberdayakan. Misi Allah di dalam dunia sering telah jauh diinstitusionalisasikan yang menyebabkan terkotak-kotak bahkan terkoyak-koyaknya Tubuh Kristus di dunia.
Ketiga, tugas pekabaran Injil sangatlah erat berhubungan dengan tugas pendidikan. Sebab itu, pekabaran Injil harus lebih menyentuh kebutuhan untuk pemberdayaan manusia yang menjadi korban diskriminasi “sara” dan gender bahkan sesama ciptaan yang menjadi korban eksploitasi alam untuk “kepuasan/kerakusan”manusia. Pekabaran Injil harus konkrit dan memampukan manusia untuk dapat keluar dari berbagai kesulitan hidup. Bukankah kata syalom yang sudah semakin biasa dipakai sebagai kata pembuka dan kata penutup pidato/sambutan kita berintikan adanya/teralaminya kehidupan yang baik rohani dan jasmani ? Pendidikan dalam hal ini pemberdayaan umat/masyarakat ekonomi lemah, pendidikan kurang dan yang punya masalah sosial seperti antara lain : pengangguran, korban narkoba, pencandu miras, pekerja seks komersial, anak-anak yang tinggal di panti asuhan harus menjadi prioritas program gereja-gereja dibandingkan dengan antara lain pembangunan gedung gereja yang masih berdiri “megah”.
Keempat, pekabaran Injil adalah tugas bersama semua gereja yang ada di dunia ini tanpa dibatasi/dikurung/dipenjara dalam dan oleh satu denominasi saja. Sudah saatnya gereja-gereja yang berbeda latar belakang tradisi/ajaran/dogma tidak lagi memperdebatkan kebenarannya masing-masing lalu mempersalahkan orang lain melainkan bergandeng tangan dalam melaksanakan misi kemanusiaan ini. Seorang teolog Asia, C.S.Song mengatakan bahwa misi Kristen harus menjadi misi kasih, bukan misi kebenaran. Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) atau Kebaktian Penyegaran Iman(KPI) atau Kebaktian Penyegaran Rohani (KPR) atau apapun namanya, hendaknya bertujuan agar umat yang mengikutinya atau yang hanya mendengar dari kejauhan dapat mengalami sukacita abadi dari Tuhan dan bukan sebaliknya mendengar berbagai adu argumentasi/adu mulut yang mengakibatkan kehidupan syalom di bumi makin jauh dari kenyataan. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin berbicara tentang “dialog antar umat beragama” sedangkan antar denominasi saja sulit ( kalaupun ada dialog, itu belum tulus dan mulus; baru sebatas acara seremonial pada hari-hari raya tertentu).
Baiklah kita ingat antara lain pengajaran Tuhan Yesus tentang Kasih melalui cerita tentang orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37).
Diterbitkan dalam Manado Pos,
Sabtu,16 Juni 2001 dalam kolom
OPINI Renungan Minggu.
.
Selasa, 05 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar