Selasa, 05 Mei 2009

KUNJUNGAN PASCA SARJANA TEOLOGI UKIT KE USA, 2004

MULTI-CULTURAL SOCIETY MINISTRY SEMINAR
UKIT GRADUATE SCHOOL OF THEOLOGY
29 JUNI – 2 AGUSTUS 2004
DI EAST COAST UNITED STATES OF AMERICA

Pendahuluan
Berdasarkan penugasan dari Direktur Program Pascasarjana Teologi UKIT Tomohon, Pdt.Prof.Dr.W.A.Roeroe seperti yang tertera dalam surat undangan dari Ellen M.Whitt (Indonesian Ministry dari First Presbyterian Church) dan Rev. Joyce Antila Phipps (Old First Church) di New Jersey, maka saya bersama dengan beberapa rekan mahasiswa PPSTi UKIT stratum 3 plus seorang dosen, ibu Tilly Roeroe-Tompodung dan tentu saja dengan Pdt. Roeroe berkesempatan mengikuti “Seminar” tentang Pelayanan Kepada Masyarakat Multi-Cultural di Amerika Serikat, yaitu di beberapa negara bagian yang ada di Pantai Bagian Timur. Tempat-tempat itu ialah : New Jersey/NJ dan New York/NY( 29 Juni – 6 Juli, 28 Juli-2 Agustus), New Hampshire/NH dan Massachusetts ( 7-16 Juli) , Maryland/MD, Washington/District of Columbia (DC), Virginia (16-28 Juli).
Adapun pelaksanaan seminar ini telah kami ikuti, alami dan nikmati sebaik-baiknya. Dengan segala kemampuan yang ada termasuk atas ketersediaan dana perjalanan, ketrampilan, kesehatan dan kesiapan meninggalkan keluarga dan pekerjaan di kampus serta jemaat telah turut berpengaruh positif dalam seminar dimaksud.

“Seminar” ini dapat dikelompokkan dalam jenis-jenis kegiatan, yaitu :
Bible study dan mengikuti rapat majelis jemaat
Bertemu dan bercakap/sharing
Melayani/memimpin ibadah jemaat
Mengunjungi tempat-tempat bersejarah/pariwisata
Mengunjungi Sekolah Teologi/Universitas dengan perspustakaannya.
Percakapan dengan para pendeta asal Indonesia
Shopping

1. Bible Study dan Rapat Majelis Jemaat
Bertempat di kantor Jemaat First Presbyterian Church of Metuchen NJ dilaksanakan Penelaahan Alkitab (PA) bersama dengan pimpinan gereja dan pegawai gereja pada 2 Juli. PA ini diberi tema Paul Mission berdasarkan bahan Alkitab Kisah Para Rasul 25,26,27 dan 28. Percakapan dalam PA ini lebih terfokus pada Paulus yang berlayar ke Roma. Tantangan angin ribut/badai (storm) tidak menyurutkan niat Paulus untuk terus berlayar menuju ke Roma. Ia ditemui oleh malaikat Allah yang menyapanya : “jangan takut …” (27:23). Sebagai pendeta dan petugas gereja di masa kini apalagi dengan sarana transportasi yang sangat canggih (apalagi konteks Amerika Serikat), kita mencoba membayangkan ketakutan para penumpang kapal itu. Percakapanpun menjadi lebih hidup manakala Pdt. Leo Masalamate menceritakan pengalamannya sebagai seorang yang berasal dari Sanger Talaud, yang pernah melayani jemaat-jemaat di kepulauan Sangihe dan Talaud. Kapal dan ombak bahkan badai telah menjadi “teman perjalanan” orang-orang yang hidup di daerahnya. Selanjutnya, kami teringat juga dengan cerita Yunus dalam Perjanjian Lama. Misi Paulus sudah dimulai di kapal itu : kesaksiannya bertemu dengan malaikat, iapun memberi mereka makan, ia memberi ketenangan bahwa akan ada keselamatan dari Tuhan.
Pada tanggal 6 Juli, kami mengikuti sebagai observer rapat para pelayan jemaat. Di jemaat ini, anggota jemaat asal Indonesia/berbahasa Indonesia menjadi bagian integral dalam keseluruhan aktivitas jemaat. Karena itu, peserta rapat majelis jemaat terdiri dari orang Amerika dan orang Indonesia. Bahkan seorang alumnus Fakultas Teologi UKIT yang ditahbiskan sebagai Pendeta GMIM yaitu Pdt. Olga Mercy Rumengan (Ny.Assa), diterima sebagai pendeta di jemaat ini yang melayani semua jemaat (berbahasa Inggris dan Indonesia).
Sistem pelayanan gereja ini adalah presbyterial. Pendeta jemaat (secara bergantian) berfungsi sebagai moderator dalam rapat-rapat majelis jemaat. Para penatualah yang berperan utama menentukan apa yang akan dilakukan dalam berjemaat. Para penatua ini telah dibagi dalam beberapa komisi kerja. Misalnya, seksi diakonia, seksi pembinaan, seksi untuk pemuda dan anak-anak. Dalam rapat ini setiap seksi melaporkan apa yang sudah dikerjakannya. Peserta rapat memberi evaluasi/tanggapan. Evaluasi/tanggapan ini sangat singkat/tidak bertele-tele- langsung pada intinya. Lalu moderator mengarahkan percakapan : apakah evaluasi dan usul-usul diterima atau masih harus dipercakapkan lagi. Bila ada dukungan dua orang untuk suatu usulan baru, maka usulan itu dibahas. Menarik sekali, bahwa rapat ini tidak berlangsung lama, tak banyak komentar sekalipun masih ada satu seksi yang tidak membuat laporan tertulis. Cukup dengan berkata : “maaf, kami belum membuat laporan tertulis, dan nanti akan disusulkan”. Peserta yang lainpun, maklum dan rapat berjalan lancar. Tidak ada yang ngotot atau menyalahkan yang lain.
Pada 21 Juli, ibadah dan percakapan dengan Majelis Jemaat Indonesian Christian Fellowship Church di Washington. Anggota jemaat ini bertempat tinggal di Maryland, Virginia dan DC. Kemudian PA di sektor Virginia di
rumah keluarga Pnt. Julio Manik (24 Juli). Di jemaat ini seorang alumnus Fakultas Teologi UKIT/Pendeta GMIM yakni Pdt. Azer Roeroe melayani setelah sebelumnya diterima sebagai Pendeta Prebyterian Church USA. Percakapan di sini lebih pada sharing pengalaman pelayanan dari Indonesia dan pengalaman hidup dan bergereja di dalam masyarakat yang berbudaya majemuk di negara super power. Percakapan begitu hidup, apalagi dengan nuansa budaya Batak, Minahasa, Ambon dan Jawa. Majelis jemaat ini berlatar belakang yang beragam dari segi pendidikan dan pekerjaannya. Ada yang sudah tamat S3 dan atau mendapat pekerjaan di pemerintahan dan swasta. Inilah ciri khas dari jemaat Indonesia yang berada di “pusat dunia” yaitu di Washington DC.
Di wilayah pelayanan jemaat Indonesian Christian Fellowship ini, kami melayani ibadah PA dalam kelompok-kelompok (semacam kolom di GMIM) baik yang dilaksanakan di rumah-rumah maupun di tepi pantai.

2. Bertemu, bercakap/sharing dengan anggota jemaat Indonesia.
Sejak tiba di John F. Kennedy (JFK) airport pada tanggal 29 Juni 2004, sudah dijemput oleh Ibu Jetty Moningka-Mailangkay (dari New Hampshire) dan Pdt. Rita Tangel-Dalos (yang sudah lebih dulu tiba), Pdt. Dolfi Rondo (dari New Jersey) dan beberapa orang lagi dari New Jersey. Kami diantar ke New Jersey sebagai pangkalan pertama dan utama, sebab undangan datang dari First Presbyterian Church dan Old Presbyterian Church di New Jersey. Kami diantar langsung ke rumah keluarga Pdt.Assa-Rumengan. Rumah ini menjadi pangkalan utama. Dari sini kemudian disebar ke lima rumah tempat penginapan. Di tempat penginapan inilah perkenalan pertama dan percakapan teralami. Saya mendapat tempat penginapan di rumah keluarga Assa-Rumengan (NJ), Ibu Catty Assa-Ohy (NH), keluarga Tandayu (di DC/MD). Selanjutnya, sesuai dengan pengaturan Pdt. Olga Mercy Assa Rumengan dan saudara-saudara di New Jersey dan New York, kami bisa bertemu dengan banyak orang Indonesia khususnya dari Minahasa. Pertemuan informal di rumah beberapa keluarga berlangsung dengan penuh keakraban, berbagi informasi dan tantangan/pergumulan terutama dari mereka yang sedang berjuang di tanah perantauan. Pertemuan ini kemudian dilanjutkan di New Hampshire, Maryland, Washington dan Virginia. Pertemuan kekeluargaan dan pecakapan ini berlangsung di rumah-rumah: Kel. Pdt.Assa-Rumengan (NJ), Kel. Kolinug-Rantung (NJ), Kel. Sumilat-Sumual (NJ), Kel. Ruhukay-Anes (NJ), Kel. Runtu-Kairupan (NJ), Kel. Luntungan-Rondo (NJ), Kel. Rantung-Lumangkun (NJ), Ibu Catty Assa-Ohy/Pdt Robby Waworuntu (NH), Kel. Benu-Warouw (NH), Kel. Pakasi-Mowilos (NH), Kel. Golioth-Pitoy (NH), Kel. Mingkid (NH), Kel.Pontoh (NH), Kel.Pdt.Moningka-Mailangkay (NH), Kel.Pdt.Lapian-Kapojos (NH), Kel. Tandayu-Reppi (DC), Kel.Pdt.Roeroe-Pomantow (DC), Kel. Manik (MD), Kel.Pdt.Lewier (MD), Kel. Massie-Kotambunan (DC), Kel.Lapian (MD), Kel.Rarumangkay-Rompas (MD), Kel. Mamahit (DC), Kel.Pdt.Helny Rumagit-Poluan (NJ), Kel. Grace Rory (NJ). Sudah pasti, dalam setiap pertemuan selalu ada menyanyi dan berdoa disertai dengan ramah tamah khas Minahasa/Manado.

Beberapa pokok percakapan yang selalu terungkap ialah :
- kerinduan mereka untuk bertemu dengan keluarga di tanah air. Ada suami/isteri/ anak/orang tua yang terpisah sekian tahun. Memang komunikasi lewat telpon dan email tetap jalan. Kiriman uang (dari Amerika) dan makanan bahkan pakaian (dari Indonesia) lancar.
- Bahasa Inggris sebagai alat komunikasi dengan “bos” di tempat pekerjaan tidak menjadi penghalang berarti. Sebab yang penting mereka dapat bekerja dengan baik dan bahasa dapat dipelajari dari pengalaman berinteraksi.
- Kesehatan tubuh, ketegaran hati dan disiplin sangat penting sebagai modal untuk bekerja dengan baik.
- Pola hidup sederhana mulai dari tempat tinggal, gaya hidup, pola/jenis makanan.
- Mendapatkan uang yang banyak telah mengantar sebagian besar dari mereka untuk bekerja dan bekerja, terus bekerja sampai-sampai ada yang bekerja dalam tiga tempat kerja yang berbeda ( to work in shifts) dalam sehari.
- Berbagai jenis pekerjaan telah menjadi sumber nafkah yang sangat berarti bagi mereka sampai bisa menabung dan mengirim uang ke kampung halamannya untuk keluarganya bahkan untuk membeli tanah dan membangun rumah tinggal. Sebagian besar bekerja di pabrik/industri: pakaian, kosmetik, mobil, komputer, kaca mata; pembantu rumah tangga, baby-sitter, pegawai gereja, kostor, pelayan/tukang cuci di rumah makan, bekerja di laundry/binatu, distributor koran/pelempar koran, petugas kebersihan di kantor/gedung. Ada pula yang membuka usaha sendiri seperti catering bahkan mempunyai usaha rumah makan. Hanya sebagian kecil yang bekerja sebagai pegawai pemerintah dan ada yang berstatus mahasiswa (studi lanjut).

3. Beribadah dan melayani.
Selama 5 minggu, berkesempatan melayani ibadah, yakni:
- Pada hari Minggu, 4 Juli (sore) di jemaat Gereja Protestan Indonesia “Paulus” NJ yang bertempat di The Reformed Churches of Highland Park. Pendeta di jemaat ini adalah Pdt. Helni Rumagit-Poluan,STh (alumnus Fakultas Teologi UKIT).
- Pada hari Sabtu, 10 Juli (sore), memimpin diskusi tentang Perempuan dan Pelayanan Gereja dalam ibadah Kaum Ibu dan Majelis Gereja Maranatha Indonesian Fellowship NH di rumah ibu Mingkid.
- Pada hari Minggu, 11 Juli (pagi) di Maranatha Indonesian Fellowship NH yang bertempat di United Church of Christ Union Congregational Church. Pendeta di jemaat ini adalah Pdt.Sandra Pontoh- Longdong, M.Th (alumnus FTeol UKIT)
- Pada hari Minggu, 18 Juli (siang), sebagai pelayan Firman dalam ibadah Syukur HUT ke 65 dari Ibu Helly Gerungan di Washington.
- Pada hari Minggu, 1 Agustus (sore) di jemaat Gereja Protestan Indonesia New York. Di sini saya melayani Perjamuan Kudus. Seorang anggota sidi jemaat yang terlambat datang, dilayani sesudah ibadah selesai.
- Pada hari Sabtu, 31 Juli, bersama Altje memimpin Ibadah Padang Jemaat GPI Paulus NJ. Ibadah ini sekaligus sebagai acara perpisahan (farewell).

Selain mempimpin/melayani ibadah, juga mengikuti ibadah Minggu dan ramah tamah :
- Pada hari Minggu, 4 Juli (pagi) di jemaat First Presbyterian Church of Metuchen NJ. Sesudah ibadah, berkesempatan mengikuti service for wholeness bertempat di kapel kecil. Ibadah ini lebih bersifat meditasi dan bertemu secara pribadi dengan sang Pendeta untuk mendoakan pergumulan pribadi. Di jemaat ini, Pdt.Olga Mercy Assa-Rumengan, STh menjadi salah seorang Pendeta. Orang-orang Indonesia menjadi bagian integral dalam jemaat ini yang beribadah dalam bahasa Inggris (pagi) dan sore dalam bahasa Indonesia
- Pada hari Minggu, 11 Juli (selesai ibadah di Maranatha) berkesempatan mengikuti acara ramah tamah di jemaat Gereja Protestan Indonesia “Immanuel” di Holy Trinity Lutheran Church Newington NH. Pendeta di sini adalah Pdt. Robby Waworuntu, MA.
- Pada hari Minggu, 18 (pagi), di Indonesian Christian Fellowship Church di Washington. Pendeta Azer Roeroe adalah salah seorang pendeta di jemaat ini.
- Pada hari Minggu, 25 Juli (pagi), di The Warner Memorial Presbyterian Church Washington. Ibadah ini dipimpin bersama oleh Rev. Dr. Chris Looker dan Rev..Dr. W.A.Roeroe. Di sini, saya diundang untuk menyampaikan Salam dari GMIM dan menyampaikan informasi singkat tentang GMIM.
- Pada hari Minggu, 1 Agustus (pagi), di Old First Church New Jersey. Ibadah ini dipimpin oleh Rev. Joyce Antila Phipps dan Rev.Dr.W.A.Roeroe. Rev Joyce Antila Phipps adalah salah seorang dari dua orang pengundang program kami.

Beberapa hal yang dialami dan diamati dalam ibadah-ibadah ini :
- Ibadah di jemaat-jemaat berbahasa Indonesia menggunakan tata ibadah yang hampir sama dengan GMIM dan GPIB. Para pelayan khusus memakai stola seperti GPIB. Di Jemaat Maranatha NJ, nyanyian dalam dua bahasa : Indonesia dan Inggris ; pemimpin ibadah dapat memakai stola dari United Church of Christ.
- Anak-anak bergabung dengan orang tua sampai pada unsur pembacaan Alkitab. Kemudian, mereka pergi ke ruang-ruang yang telah disiapkan untuk pelayanan firman dari guru-guru sekolah minggu dan di situ mereka berkreasi dan berekreasi. Ada anak-anak yang tidak mengerti bahasa Indonesia.
- Ibadah dalam jemaat berbahasa Inggris, menggunakan tata ibadah yang hampir sama dengan gereja-gereja Protestan di Indonesia. Yang paling banyak hadir adalah orang-orang tua. Namun begitu, ibadah sangat hidup: menyanyi dengan menjiwai lagunya apalagi dengan iringan organ; bila ada yang menarik dalam khotbah, jemaat memberi respon bahkan dengan tertawa bila ada yang sedikit lucu.
- Setiap kali selesai ibadah di gedung gereja, dilanjutkan dengan ramah tamah ringan, dan khususnya bagi jemaat Indonesia ada makan dan minum bersama. Perkenalan, percakapan/sharing, syukur hari ulang tahun anggota dilaksanakan dalam acara ini.



4. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah/pariwisata (sight seeing)
- Bersama Pdt.Olga Assa-Rumengan (30 Juni), mengunjungi tempat-tempat bersejarah di New York city. Tempat-tempat yang dikunjungi ialah United Nation, Grand Central Station dan Madison Square Garden. Dalam perjalanan ini, kami melihat dari dekat lokasi gedung kembar yang runtuh pada 11 November 2003. Perjalanan ini menggunakan train dan bus, serta jalan kaki.
- Bersama dengan jemaat GPI Paulus NJ, ke pusat casino yaitu Atlantic City dengan jarak tempuh hampir 3 jam dari tempat ibadah jemaat. Dengan tiupan angin kencang pada malam hari, kami mengelilingi lokasi ini yang berada di tepi pantai. Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (Minggu, 4 Juli), lokasi ini begitu ramai apalagi baru saja selesai dengan acara kembang api. Sayang sekali, kami tidak sempat melihatnya secara langsung, sebab baru tiba di lokasi pada hampir jam 11 malam. Di tempat ini orang yang ingin mendapat duit dengan cara yang gampang berdatangan. Bahkan ada seorang kakek yang duduk di kursi roda karena ketuaannya didampingi oleh seorang yang membawa koper besar berisi uang dan dikawal oleh polisi memasuki casino pada tengah malam. Bermacam-macam jenis permainan judi tersedia. Ada anggota jemaat yang ikut main : sekedar, siapa tahu menang katanya. Kami tiba kembali di rumah pada jam 05.15 (subuh).
- Masih bersama dengan beberapa anggota jemaat Paulus dan jemaat Metuchen, kami ke tempat Patung Liberty (Statue of Liberty) setelah melewati Ellis Island pada pagi hari sampai sore ( 5 Juli). Dengan kendaraan roda empat, kemudian dengan kapal ferry menuju ke pulau tempat patung ini. Masih di pulau ini, hujan lebat turun, kami semua basah kuyup. Beginilah cuaca di sini, tiba-tiba saja hujan turun, padahal panas matahari sangat terik.
- Dengan diantar (driver) Bapak Ronny Assa (suami Pdt.Olga) dan Roy (7 Juli), dari New Jersey ke New Hampshire dengan jarak tempuh 6 jam. Langsung ke rumah Ibu Catty Assa-Ohy (ibu Ronny Assa) sekaligus pastori dari Pdt. Robby Waworuntu.
- Bersama dengan para pendeta dan keluarganya yang berdomisili dan melayani di New Hampshire (9 Juli) mengadakan percakapan/sharing sekitar pelayanan di jemaat: bentuk dan pola, serta pergumulan/tantangan, kemudian makan malam di salah satu buffet di Maine, kemudian menuju ke Maine Beach/Tower Light.
- Bersama dengan kel.Bororing-Roeroe dan Saartje Potu menuju ke Plymouth, Massachusetts (10 Juli), suatu kota di tepi pantai yang kaya akan sejarah. Di tempat inilah para pengembara dengan kapalnya Mayflower dari Inggris menemukan tempat ini. Kapal ini diabadikan di tepi pelabuhan Plymouth sampai sekarang.
- Bersama dengan Ibu Jetty Moningka-Mailangkay dan Ibu Maartje ( 12 Juli), dari New Hampshire menuju ke Boston : University of Massachusetts (hanya keliling kampus sebab perpustakaan sudah tutup); menyusuri China Town. Di China Town ini, sebagian besar pedagang bukan asli Amerika. Di mana-mana sama saja gaya/cara para pedagang dalam menawarkan dagangannya.
- Bersama dengan Pdt.Michael Lapian (pendeta jemaat Indonesian Reformed Church, NH yang sebagian besar anggota jemaatnya berlatar belakang etnis Cina) pada pagi hari (14 Juli), ke Christian Book Store. Banyak buku dan souvenir Kristen yang lumajan mahal harganya apalagi bila dibandingkan dengan rupiah kita.
- Bersama dengan beberapa orang Majelis Gereja Maranatha (14 Juli) makan siang dan tentu saja percakapan di Old American Buffet di Maine, kemudian dilanjutkan jalan-jalan di Best Buy-Mayces (masih di Maine).
- Bersama dengan beberapa anggota jemaat Marturia Presbyterian Church. Rochester NH yaitu Bapak Johny Pangemanan (anak bersaudara), Bapak Max Makal dan kel. Berty Pontoh (14 Juli), kel. Pdt.Herby Moningka-Mailangkay, makan malam di Uno Restaurant. Percakapan dan senda gurau mewarnai makan malam.
- Bersama dengan kel.Pdt. Waworuntu-Rambing (15 Juli), mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Boston dan Massachusetts Institute Technology.
- Atas usaha Pdt.Roeroe pada 16 Juli kami: Pdt.Roeroe, Ibu Roeroe, Altje, Ike dan saya dengan driver Matindas Roeroe ke Mancester airport dan selanjutnya terbang ke Washington/Maryland dengan South West Airways. Dalam perjalanan ini, kami mendapat pemeriksaan ketat di pintu masuk ruang tunggu. Orang Indonesia masuk jalur merah untuk diperiksa dengan teliti : passport, cepatu/alas kaki, telapak kaki, jas/baju panas, tas bawaan, bahkan seluruh tubuh diperiksa dengan alat yang sudah disiapkan. Keadaan seperti ini sempat membuat kami tegang. Koper bagasi tidak dikunci dan aman sampai kami mengambilnya di Washington. Kami dijemput oleh Pdt.Azer Roeroe dan langsung menuju ke rumah penginapan (kel. Tandayu).
- Bersama dengan Pdt.Theo Sitaniapessy dan Pdt. Azer (16 Juli malam), melihat dari dekat Gedung Putih dan Gedung Kongres.
- Bersama dengan kel.Pdt. Azer (17 Juli), ke Colonial Beach Virginia (kira-kira 5 jam perjalanan) untuk Ibadah Penelaahan Alkitab dengan Jemaat sektor Virginia. Dalam perjalanan pulang, kami mengunjungi George Washington Birthplace National Monument.
- Bersama dengan Pdt. Azer (18 Juli sore), mengunjungi National Presbyterian Church of USA – National Centre. Di tempat ini Pdt.Azer diacarakan penerimaannya sebagai Pendeta PC USA. Kemudian ke Gedung Gereja terbesar di DC. Gereja ini didirikan selama 100 tahun (1890-1990). Siapa saja dapat datang beribadah di sini, namun yang mengelolanya adalah Episkopal Church.
- Bersama dengan Azer dan Fintje (19 Juli subuh), ikut melempar koran di depan rumah/pekarangan pelanggan The Washington Post. Banyak mahasiswa Indonesia yang bekerja sebagai “pelempar koran” di waktu subuh. Bahkan ada mahasiswa yang bisa selesai studi S3 sekaligus dapat membeli 3-4 buah rumah dari penghasilannya melempar koran.
- Bersama dengan ibu Jane Ingkiriwang, isteri Pdt.Theo (19 Juli siang-malam), jalan-jalan di downtown dan mengunjungi National Museum of American History. Di sini dipamerkan berbagai alat transportasi dan komunikasi sejak dulu sampai sekarang, sejarah demokrasi, dsb. Kemudian dilanjutkan lagi ke National Museum of Nature History and National Museum of Man. Di sini ada hope diamond yang sangat terkenal, kerangka dinosaurus, dll.
- Mengunjungi Washington National Catedral. Di sini kami masuk ke dalam dan berdoa masing-masing. Kemudian sekali lagi melihat Capitol Building pada siang hari dan mengambil gambar di depannya.
- Dengan bus dan kemudian kereta api bawah tanah (22 Juli), kami mengunjungi gedung World Bank. Di sini kami telah ditunggu oleh Ibu Joyce Rarumangkay-Rompas (staf penting di World Bank/Penatua di jemaat di mana Pdt.Azer melayani). Sebelum masuk ke gedung ini, kami disidik dulu, difoto lalu mendapatkan kartu pengunjung. Kami dijamu oleh Ibu Joyce di restaurant World Bank. Ibu Joyce mengemukakan beberapa hal menurutnya, yaitu :
1. Orang Indonesia di Amerika masih seperti orang Indonesia : waktu molor,
suka rame-rame, makan minum ala Indonesia.
2. Anak-anak sedang berada di antara dua kebudayaan : Indonesia dan
Amerika.
3. Kebanyakan hanya bergaul dengan sesama Indonesia.
4. Terbanyak anak Indonesia tidak lagi berbahasa Indonesia melainkan bahasa
Inggris. Ada kesulitan bagi guru-guru Sekolah Minggu yang hanya dapat
berbahasa Indonesia.
5. Banyak orang yang sulit untuk mengerem keinginan bekerja karena uang.
Uang menjadi prioritas dan keluarga sering terabaikan.
6. Sukuisme sangat terasa dalam jemaat.
7. Khotbah orang Amerika dengan teknik/caranya yang berbeda dari satu
minggu ke minggu yang lain, dan mengantar pendengar untuk berpikir dan
menentukan sendiri apa yang harus ia lakukan sebagai orang beriman.
8. Banyak anak muda yang memilih bergereja di pentakostal kharismatik.
- Menjemput Wailan Roeroe, anak kel. Pdt. Roeroe- Ponamon (27 Juli) di Lucy Brunsley Elementary School. Selanjutnya mengunjungi National Capital Presbitery PC USA. Di sini kami bertemua dengan Rev. Carla Gorell (Stated Clerk atau semacam Sekretaris Umum dari Presbitery ini ). Pokok penting yang kami bicarakan di sini ialah kemungkinan hubungan bilateral dengan GMIM dalam hal teologi, pengalaman misi, dll. Rev. Carla mengatakan bahwa jemaat Indonesia lebih mudah menyesuaikan diri dengan PC USA dibandingkan dengan jemaat etnis lainnya. Mereka bangga bisa menerima Pdt.Azer sebagai pendeta PC USA.
- Dengan driver Pdt. Theo dan Pdt Azer (28 Juli) dalam waktu 7 jam 30 menit tiba di New Jersey. Dalam perjalanan ini, kami transit di Philadephia : mengunjungi Liberty Bell Center/ National Freedom Bell, Information Centre of Freedom Bell, Indonesian Market.
- Berkunjung ke rumah Pnt.Sylvia Lalamentik di New York (29 Juli), kemudian bersama mengunjungi West Point, sekolah militer yang terkenal. Dari sini kami ke Stony Point Centre, pusat pembinaan warga gereja PC di NY. Di sinilah dilaksanakan pertemuan-pertemuan para pendeta atau pemuda atau sekolah minggu atau kaum perempuan. Di tempat ini fasilitasnya lengkap seperti perpustakaan, ruang ibadah, ruang pertemuan, ruang makan, tempat olahraga di tengah-tengah tanah yang luas.

5. Mengunjungi Sekolah Teologi/Universitas dengan Perpustakaannya.
- Bersama dengan Rev.Joyce Phipps dan Ellen Whitt serta Pdt.Olga Rumengan (1 Juli), mengunjungi New Brunswick Theological Seminary NJ. Bercakap dengan dua orang pimpinan. Kemudian ke perpustakaan. Di tempat ini, kami bertemu dengan kepala perpustakaan, seorang ibu yang bergelar Doktor di bidangnya. Ia menjelaskan tentang berbagai Alkitab, mulai dari yang masih berbentuk gulungan (scroll) kitab dari kulit kambing sampai dalam bentuk kitab dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Jepang yang terbit pada September 1881. Kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi Rutgers University.
Kedua sekolah ini adalah milik dari Gereja Presbyterian.
- Bersama dengan Pdt.Olga (2 Juli), mengunjungi Princeton Theological Seminary dan Princeton University. Karena mahasiswa sedang libur, sekolah cepat ditutup, sehinga kami tidak bisa masuk perpustakaan. Kami sempat masuk kapel mengikuti rehearsal/repetisi/latihan paduan suara para mahasiswa yang kebanyakan berasal dari luar Amerika, seperti nampak ada orang Jepang dan Korea.
- Bersama dengan Kel.Pdt.Waworuntu-Rambing (15 Juli), menuju Boston yakni Harvard University dan Harvard Divinity School. Keliling kampus, ambil foto di tugu Harvard sebagai pendiri Universitas yang sangat terkenal itu. Di Harvard Divinity School, kami masuk ke perpustakaan yang sangat modern : ada deretan buku di rak, ada ruang khusus untuk microfilm books, ada ruang khusus untuk buku-buku yang sudah sangat tua, mengecek buku via kompoter (kami mencobanya), dapat buku gratis. Di perpustakaan ini kami menemukan buku/dissertasi dalam bahasa Jerman dari Pdt.Dr.W.A.Roeroe.
- Dengan driver Bapak Albert Warong dan Pdt.Azer (26 Juli), mengunjungi Union Theological Seminary and Presbyterian Christian Education (UTSPCE) di Richmond Virginia. Dengan diantar oleh Mrs. Rhee (asal Korea) dan President UTSPCE, kami mengelilingi kampus : perpustakaan, ruang-ruang kelas dan asrama. Di tempat ini ada program studi untuk para pendeta jemaat yang ingin melanjutkan studi tanpa meninggalkan pekerjaannya sebagai pendeta jemaat. Kunjungan ini diakhiri dengan makan siang dengan Mrs.Rhee di restaurant china.
- Bersama dengan Pdt.Azer Roeroe ( 27 Juli), kami mengunjungi Wesley Theological Seminary di Washington DC. Bertempat di kapel dalam kampus ini, kami mendapat penjelasan tentang keadaan seminary ini oleh salah seorang editor dari buku The New Intrepreters Bible yang diterbitkan di tempat ini yakni Abingdon Press. Ia mengantar kami ke ruang kerjanya dan menghadiahkan dua buku karangannya untuk Perpustakaan Fakultas Teologi UKIT.
- Hanya berlima (karena rekan yang lain punya acara sendiri ): Pdt.Roeroe, Ibu Roeroe, Pdt.Anie Lala, Ibu Ike Kumaat Tangkudung, dan saya (29 Juli), mengunjungi Union Theological Seminary yang berdekatan dengan Jewish Theological Seminary di kota New York. Karena sudah sore baru tiba dan mahasiswa seminary sedang libur, maka kami hanya dapat keliling kampus dan mengambil beberapa informasi penting di bagian resepsionis. Kedua seminary ini berdekatan dengan The Interchurch Centre di The Riverside Church sebagai pusat segala aktivitas gereja USA dan juga kantor Church World Service(CWS).

6. Percakapan dengan para pendeta asal Indonesia
Mereka yang kami temui adalah:
- Pdt. Olga Mercy Assa Rumengan, STh: pendeta di jemaat First Presbyreian Church of Metuchen, NJ , alumnus FTh UKIT
- Pdt. Helny Rumagit Poluan,STh : pendeta di jemaat Gereja Protestan Indonesia (GPI) Paulus, NJ, alumnus FTh UKIT
- Pdt. Dolfi Rondo, STh : mantan pendeta jemaat GPI Paulus, NJ, alumnus STT Jakarta
- Pdt. Johny Mandey : pendeta di jemaat GPI Immanuel, NY, alumnus FTh UKIT
- Pdt. Robby Waworuntu,STh, MA: pendeta GPI Immanuel, Newington NH, alumnus STT Jakarta dan mantan Dosen FTh UKIT
- Pdt. Sandra Pontoh Longdong,MTh: pendeta Maranatha Indonesian Fellowship, Madbury NH, alumnus FTh UKIT
- Pdt. Fera Waworuntu Rambing,STh : mahasiswa S2 perpustakaan yang sedang meneliti/menulis, berkumpul dengan keluarga Pdt.Waworuntu Rambing di NH, staaf Perpustakaan FTh UKIT yang sedang tugas belajar bidang perpustakaan di Jakarta.
- Pdt. Herby Moningka,STh : pendeta Marturia Presbyterian Church, Rochester NH, alumnus FTh UKIT dan mantan dosen FTh UKIT
- Pdt. Michael Lapian, STh : pendeta jemaat Indonesian Reformed Church, Dover NH, alumnus STT di Bandung
- Pdt. Cyntia Kekung, STh : pendeta pelayanan di Marturia Presbyterian Church, Rochester NH, alumnus FTh UKIT
- Pdt. Azer Roeroe, STh : pendeta Indonesian Christian Fellowship Church, Rockville ,MD dan DC, alumnus FTh UKIT, telah diterima secara resmi dan tercatat sebagai pendeta Presyterian Church USA
- Pdt. Theo Sitaniapessy, STh (asal Ambon menikah dengan orang Minahasa/Tonsea); melayani beberapa persekutuan Kristen di beberapa kota, alumnus FTh UKDW
- Pdt. Nico Lewier (asal Ambon menikah dengan orang Sawangan Airmadidi/Minahasa), pendeta pensiun Indonesian Christian Fellowship Church, Rockville, MD dan DC, alumnus Kursus Teologi STT Jakarta.
- Pdt. Ny. Hermanus Rampengan : pendeta senior di Indonesian Presbyterian Church NY, mantan dosen FTh UKIT.
Percakapan dengan para pendeta ini berlangsung dalam pertemuan yang disengaja seperti di New Hampshire khususnya. Kebanyakan percakapan terjadi dalam perjalanan di mana mereka menyetir kendaraan dan dalam ibadah keluarga, dengan majelis gereja dan sesudah ibadah jemaat. Isu yang selalu dikemukakan ialah :
- Pola pelayanan harus diciptakan sendiri agar dapat menjawab pergumulan jemaat yang sebagian besar waktunya bekerja di luar rumah, seperti penggembalaan tradisonal kunjungan ke rumah sulit. Pengembalaan bagi mereka bisa terjadi dimana saja dan kapan saja dapat bertemu, di gereja, di ibadah rumah tangga ataupun saat bertemu di pusat perbelanjaan.
- Berbahasa Inggris (aktif) sangatlah penting untuk berkomunikasi dengan rekan pendeta atau majelis gereja yang berbahasa Inggris. Apalagi menjadi pendeta juga bagi jemaat berbahasa Inggris seperti Pdt.Olga.
- Teologi/khotbah (dari segi isi dan metode) tidak ada masalah, bahkan sama kualitasnya dengan pendeta “bule”. Hal ini mereka rasakan bila ada pertemuan atau sidang-sidang gerejawi.
- Pengorganisasian (laws), tata ibadah dan pakaian liturgis dirancang sendiri oleh masing-masing jemaat/gereja. Tentu saja dengan memperhatikan latar belakang atau payung organisasinya seperti Presbyterial ( Presbyterian Church/PC) , Congregational (United Church of Christ/UCC), dan ada yang dalam banyak hal mengikuti GPIB/GMIM di Indonesia. Kecuali jemaat yang dilayani oleh Pdt.Olga sudah jelas adalah bagian integral dari PC yaitu Presbyterial (bukan presbiterial sinodal).
- Biaya hidup para pendeta termasuk mendapat rumah tinggal/pastori sangat bervariasi, sebab mereka digaji oleh jemaat masing-masing. Ada jemaat yang tidak membolehkan pendeta dan isteri/suami bekerja, ada pula yang membolehkan suami/isteri pendeta bekerja.
- Seseorang pendeta dapat menjadi pendeta di jemaat-jemaat ini berdasarkan panggilan jemaat. Ada yang langsung ditemukan oleh jemaat, ada pula yang harus melamar setelah membaca pengumuman/iklan di surat kabar kemudian mengikuti “ujian”.
- Ada beberapa pendeta atau isteri pendeta, menjadi pendamping/penerjemah bagi anggota jemaat yang oleh karena masalah keimigrasian harus menghadap pengadilan.
- Otonomisasi jemaat-jemaat berbahasa Indonesia dalam memanggil/mencari pendeta sering membuat perpecahan dalam jemaat yang ujungnya mendirikan jemaat baru. Keadaan seperti telah membuat komunikasi di antara para pendeta tidak berjalan baik.
- Memasukkan dalam kurikulum Fakultas Teologi tentang bagaimana pola pelayanan dalam jemaat yang sangat majemuk dalam hal etnis, bahasa, budaya, pendidikan, sosial psikologis dan pekerjaan di perantauan. Sebagai misal : bagaimana penggembalaan, berkhotbah/PA, menata pelayanan.


7. Shopping dan Pemberian
Berbelanja mulai untuk keperluan pribadi selama 5 minggu sampai untuk ole-ole (tidak bisa tidak) menyertai perjalanan hampir setiap hari. Menyusuri pusat perbelanjaan, tempat pariwisata. Pada setiap hari Sabtu pagi ada sale di rumah-rumah pribadi (garace sale/yard sale) sungguh menyenangkan : lebih banyak untuk sekedar “cuci mata”. Yang menarik ialah ternyata para peminat/pembeli pada hari Sabtu pagi (garace/yard sale) berasal dari berbagai orang termasuk orang “bule” juga.
Dengan “modal dollar” pemberian jemaat dan beberapa pribadi/keluarga di sini, dapatlah membeli “ole-ole” untuk dibawa pulang. Bahkan ada beberapa pribadi/keluarga yang memberi kesempatan untuk belanja sendiri tetapi mereka yang membayar. Ada pula yang memberi ole-ole dari apa yang mereka siapkan di rumahnya, kata nya : “ ini memang telah disiapkan untuk para tamu yang akan berkunjung kemari”.

Evaluasi dan Refleksi
Seminar tentang Pelayanan Masyarakat Multi-Budaya di beberapa tempat di Pantai Bagian Timur Amerika Serikat selama lima minggu, telah menambah wawasan dan pengalaman serta pelayanan baik sebagai mahasiswa maupun sebagai dosen dan pendeta, yaitu :
1. Bunyi surat undangan dalam rangka pengurusan visa adalah untuk mengikuti Seminar. Mengacu pada undangan ini, maka segala persiapan kami lakukan untuk itu. Persiapan dimaksud a.l. menyangkut bahasa/komunikasi dan perlengkapan pribadi seperti pakaian, sepatu, dll. Ternyata, seminar ini lebih banyak berlangsung di dalam perjalanan dan dalam bentuk PA/Khotbah , mengikuti jalannya rapat majelis gereja, percakapan informal/sharing dan rekreasi di berbagai tempat : ruangan/kantor jemaat, gedung gereja, rumah-rumah keluarga, di tepi pantai, di tempat bersejarah/pariwisata, pusat-pusat perbelanjaan. Dari pengalaman ini jelaslah bahwa seminar tidak selalu hanya berlangsung di dalam suatu ruangan/gedung lalu mempercakapkan segala konsep/teori yang dipresentasikan oleh para nara sumber yang telah ditentukan. Seminar ini lebih bersifat studi tour. Seminar menjadi hidup, tidak membosankan, biarpun waktunya panjang. Peserta sekaligus sebagai nara sumber dituntut untuk sehat, disiplin waktu, setia mengikuti program bersama (ada juga beberapa peserta tidak mengikuti kebersamanaan dalam keseluruhan program). Nara sumber yang paling penting dalam seminar ini adalah saudara-saudara yang kami jumpai dan yang memfasilitasi program ini.
2. Gereja perlu mempersiapkan orang-orang yang dapat menjadi pendeta bagi jemaat Indonesia yang berada di luar negeri. Kebutuhan jemaat akan kehadiran seorang pendeta luar biasa. Mereka menginginkan seorang pendeta yang pertama-tama “pandai berkhotbah”. Mereka menilai seorang pendeta dari khotbahnya. Bila khotbah seorang pendeta tamu “cocok” , bisa menggoda jemaat untuk meminta agar sang pendeta tamu boleh melayani mereka (apalagi bila sang pendeta di jemaat itu mulai tidak disenangi). Keadaan ini telah membuat jemaat terpecah-pecah dan membentuk jemaat baru.
3. Menjadi pekerja di negeri orang dengan upah yang tinggi (dibandingkan dengan di Indonesia), telah menggoda orang untuk bekerja sampai dua tiga shift sehari. Setiap shift 8 jam, maka 3 shift berarti 24 jam sehari bekerja. Istirahat hanya di kala jam istirahat dan jam makan. Orang menjadi gila kerja. Untunglah bagi suami isteri yang masih punya anak kecil, mereka mengambil jam kerja yang berbeda supaya tetap ada yang mengurus anak.
4. Banyak di antara warga Indonesia yang sambil bekerja, mengurus surat-surat untuk bisa terus tinggal dan bekerja di sana dengan aman. Bagi keluarga muda, mereka sangat merindukan agar bersamaan dengan mereka bekerja/cari uang, anak mereka boleh terus bersekolah. Inilah salah satu keuntungan kata mereka, yakni anak-anaknya bisa sekolah baik dan gratis. Bagi isteri/suami pekerja dan anak-anaknya tidak ikut, maka sering ada pergumulan berat antara akan tinggal lama/cari uang banyak atau pulang kampung. Bila iman tidak kuat, norma moral berkeluarga dapat saja dilanggar. Inilah juga salah satu masalah yang memerlukan pengembalaan pendeta.
5. Anak-anak yang pernah sekolah di Indonesia/Minahasa, lalu melanjutkan studinya di Amerika, dapat mengikuti proses studi dengan baik bahkan ada yang meraih juara di sekolahnya. Bagi anak-anak ini, tingkat intelegensi mereka sama dengan penduduk asli, hanya pada awalnya ada kesulitan berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
6. Sistem Presbyterial di gereja-gereja Amerika betul-betul dipraktekkan seperti dalam rapat-rapat majelis gereja : di mana pendeta hanya bertindak sebagai moderator, mengarahkan percakapan. Juga dalam hal pemanggilan pendeta dan pembiayaan pendeta : ditentukan oleh rapat majelis. Segala sesuatu yang akan terjadi di jemaat, harus melalui rapat majelis, seperti a.l. pergantian pemimpin ibadah minggu harus dirapatkan dulu, tidak boleh hanya kehendak satu dua orang. Betul-betul demokratis. Kenyataan pemanggilan pendeta bermakna positif yaitu agar para pendeta betul-betul berkualifikasi sesuai dengan kebutuhan jemaat dan akan terus melayani dengan maksimal. Ada pula makna negatifnya, yaitu persaingan yang tidak sehat di antara pendeta dan di antara jemaat-jemaat. Jemaatisme dapat tumbuh subur bila aspek negatifnya dominan. Kasus ini terlihat jelas di jemaat-jemaat berbahasa Indonesia. Juga bisa membuat pendeta tidak kritis terhadap majelis gereja dan jemaat.
7. Ternyata ada banyak orang Minahasa dengan berbagai latar belakang denominasi gereja. Banyak anak muda beribadah di gereja pilihannya sendiri, tidak harus ikut orang tua di DC misalnya. Alasan mereka a.l. ialah di sana, dalam ibadah di gereja pilihannya mereka dapat berekspresi dan berkreasi.
8. Budaya Minahasa masih kental di kalangan orang dewasa seperti: “bakumpul, bacirita, makan-minum bersama”, bahkan persekutuan suku cukup berpengaruh dalam berjemaat.
9. Fakultas Teologi UKIT dapat berbangga, karena tamatannya (perempuan dan laki-laki) tidak kalah berkualitas dengan tamatan sekolah teologi lainnya di Indonesia, bahkan dengan mereka pendeta “bule”.
10. Penelaahan Alkitab pertama yang kami ikuti dengan tema Paul Mission telah mengantar Seminar tentang Pelayanan dalam Masyarakat Multi-Budaya dialami, diikuti dan dihayati sebagai kekayaan Kasih Karunia Tuhan Allah di dalam Yesus dan oleh kuat kuasa Roh Kudus. Berbagai aspek kehidupan masyarakat/jemaat Indonesia di Amerika Serikat dapat kami amati bahkan alami bersama. Bukan hanya teori/konsep tetapi praktek/pengalaman hidup. Pengalaman berseminar seperti ini diharapkan dapat melahirkan teori/konsep baru dalam pelayanan gereja di masa kini dan masa yang akan datang, di sini dan di sana dan di mana-mana. Seminar ini sungguh mahal biayanya. Setiap orang menggunakan dana untuk : biaya perjalanan Tomohon-Amerika (pp), biaya perjalanan hampir setiap hari (dengan mobil, train, kapal ferry/kapal pesiar, pesawat dalam negeri), penginapan/rumah jemaat, konsumsi,dll. Ini berkat yang tak terhingga yang Tuhan karuniakan melalui para donatur di Minahasa dan jemaat-jemaat di Amerika Serikat. Tentu saja peran Pdt.Roeroe sangat menentukan dalam mengorganisasikan segala program sehingga berjalan dengan lancar padahal sebagian besar program baru saja diatur di sana dengan segala konsekuensi dana. Ia telah menjadi direktur, guru, bapak, teman dan guide yang tak kenal lelah terutama pada saat harus jalan kaki menyusuri satu tempat ke tempat lain sambil menjelaskan dan mengambil gambar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar