LAPORAN PERJALANAN KE PERU DAN CHILE
12 April sampai dengan 3 Mei 2001
Berdasarkan penugasan dari Koordinator Basel Mission Asia, Pdt. Deetje Tiwa-Rotinsulu,M.Div. untuk menggantikannya menghadiri Sidang ke-3 mitra Basel Mission (BM) se Amerika Latin (AL), maka saya melakukan perjalanan ini. Penugasan ini diberikan kepada saya karena selama 10 tahun (1990-2000) saya menjadi anggota Executive Committee BM Asian Fellowship mewakili GMIM.
Kepada saya ditugaskan untuk mempersiapkan secara tertulis dua materi untuk dipresentasikan dalam Konferensi ke-3 Perempuan mitra BM se AL dan Sidang Raya ke-3 mitra BM se AL. Dua materi ini berupa sharing dan informasi tentang keadaan BM Asian Fellowship.
BM Asian Fellowship berjumlah 13 gereja/badan misi yaitu dari Taiwan, Hong Kong, Malaysia, India dan Indonesia. Juga mempersiapkan diri untuk berkhotbah dalam ibadah pembukaan konferensi dimaksud. Dua acara ini berlangsung di kota Lima-Peru pada tanggal 15-21 April 2001. Selain mengikuti dua kegiatan tersebut, saya diminta untuk bersama-sama dengan Ketua Komisi Perempuan dan Gender BM untuk melakukan kunjungan ke sejumlah mitra BM di Chile pada tanggal 23-29 April 2001.
Mitra BM di AL berjumlah 26 institusi yang berada di 7 negara yaitu Bolivia, Chile, Peru, Argentina, Equador, Costa Rica dan Panama. Ke 26 institusi ini tidak hanya oleh gereja-gereja seperti Metodis, Lutheran, Pentakosta, Presbiterian, Sidang Jumat Allah, Bala Keselamatan, tetapi juga oleh lembaga swadaya umat yang bersifat ekumenis untuk program kemanusiaan (pendidikan/pembinaan/pelatihan; pemberdayaan perempuan, anak dan keluarga; pembangunan/pengembangan pertanian; hak azasi manusia; lingkungan hidup dan sekolah teologi). Mereka membagi diri dalam 4 kelompok besar yaitu Chile, Bolivia, Peru dan Continentales. Continentales maksudnya ialah institusi-institusi yang bersifat ekumenis dan melampaui batas-batas negara seperti Red AMEN, SERPAJ, SEPADA, SEDEC, UBL,CLAI.
Bahasa yang dipakai selama acara dan kunjungan adalah bahasa Spanyol. Saya selalu didampingi oleh beberapa orang penerjemah (secara bergantian) dalam bahasa Inggris. Begitu pula, waktu saya mempresentasikan atau menyampaikan sesuatu diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol baik lisan maupun tertulis.
Kegiatan/Program
12 April : berangkat dari Manado ke Jakarta
13 April : berangkat ke Lima-Peru melalui Osaka, Dallas. Transit di airport
Kansai-Osaka/Jepang selama 12 jam dan di Dallas/USA selama 2
jam.
14 April jam 23.40 waktu setempat : tiba di Lima-Peru.
15-18 April : Konferensi ke-3 Perempuan mitra BM se AL.
Dalam ibadah pembukaan pada Minggu, 15 petang saya berkhotbah berdasarkan pembacaan Alkitab Yohanes 20:1-18 tentang Perempuan dalam Paskah.
Tema Konferensi ialah : Constructores de Esperanza (Membangun Pengharapan).
Materi-materi :
- Persentasi dari Bolivia, Chile, Peru dan Continentales.
- Presentasi dari Asia oleh Pdt.K.A.Kapahang-Kaunang.
- Presentasi dari Ketua Komisi perempuan dan Gender BM oleh Johanna Eggimann.
- Ceramah tentang Demokrasi dan Kesetaraan
- Ceramah tentang Kekerasan dan Penanganannya.
- Introduksi dan Motivasi tentang Kesehatan Tubuh dan Mental
- Diskusi Kelompok per negara dan continentales.
- Pleno.
18-21 April : Sidang Saya ke-3 mitra BM se AL
Dalam ibadah pembukaan pada unsur Berkat dibawakan oleh 4 orang dalam bahasanya sendiri yaitu : Spanyol, Suku asli Peru, Jerman dan Indonesia (mewakili peserta yang hadir).
Tema Sidang : Actuando con Esperanza (Mengaktualisasikan Pengharapan).
Materi-materi Sidang :
- Ceramah tentang Globalisasi
- Pandangan dari Bolivia, Peru, Chile dan Continentales tentang Konstitusi Sidang.
- Ceramah tentang Kerjasama Internasional.
- Studi kasus dari masing-masing negara dan continentales melalui pemutaran video.
- Presentasi tentang Struktur Baru Misision 21 oleh Presiden BM/Mission 21 yaitu Pdt. Madeleine Strub-Jacoub.
- Presentasi tentang mitra BM di Asia oleh Pdt.K.A.Kapahang-Kaunang.
- Persentasi tentang hubungan bilateral BM dan AL oleh Sekretaris BM untuk AL.
- Presentasi dari Ketua Komisi Perempuan dan Gender BM/Mission 21 oleh Johanna Eggimann.
- Pembacaan Hasil Konferensi ke-3 Perempuan.
- Ceramah tentang Mempertahankan Hidup
- Panel Diskusi : - etika dan korupsi
- etika dan hak azasi manusia
- etika dan administrasi sumber daya manusia
- Evalusai tentang Peran Joint Planning Council (JPC BM)
- Diskusi kelompok untuk menyusun agreement dan resolusi
- Pemilihan JPC.
22 pagi : memberi salam/kesan dalam ibadah sekolah minggu (anak-anak
sampai orang dewasa) di jemaat Gereja Sidang Jemaat Allah.
22 sore : berangkat ke Santiago-Chile bersama Johanna Eggimann (dengan
pesawat selama 3 jam).
23-25 : kunjungan dan percapakan/sharing dengan berbagai institusi dan
perorangan yang bernmitra dengan BM langsung dan tidak langsung
di kota Santiago (ibukota Negara Chile), a.l. :
- Percakapan dengan Direktur Hubungan Internasional dan Pelayanan Perempuan Nasional (SERNAM) di kantor pemerintah metropolitan.
- Menghadiri reuni dari jaringan kerjasama perempuan (Red AMEN) dan mengadakan percakapan/sharing.
- Percakapan dengan Rektor CTE (Sekolah Tinggi Teologi) di kampusnya.
- Percakapan/sharing dengan Pelaksana Institusi Con-Spirando (yang bergerak di bidang kesehatan tubuh dan mental perempuan, penerbitan dan kursus-kursus teologi) di kantor pusatnya.
- Meninjau salah satu pusat kegiatan dari Jaringan Kerja Perempuan untuk pemberdayaan dan pembangunan masyarakat.
- Percakapan dengan Pengurus/Pelaksana Pelayanan untuk Keadilan dan Kasih (SERPAJ) di kantor pusat.
- Percakapan dengan seorang Pendeta Senior dari Gereja Metodis dan Aktivis untuk Pemberdayaan Pembangunan Masyarakat yakni Pastora/Pendeta perempuan Juana Albornoz ( saya sudah pernah bertemu dengannya di Basel).
- Percakapan dengan Mary Palma dan Cecilia Quilodran dari SEPADE (Pelayanan Gereja untuk Pembangunan yang menerbitkan banyak buku).
25 April malam : bersama Johanna berangkat dengan kereta api (9 jam) ke arah
Selatan Santiago yaitu ke kota Concepcion.
26-27 April : kunjungan dan percakapan/sharing dengan beberapa institusi :
- kunjungan/percakapan dengan staf dosen CTE di kampus.
- percakapan/sharing dengan ibu-ibu dari Red AMEN dan SEPADE.
- sight seeing di kota Concepsion
- percakapan dengan Pengurus/Pelaksana/Staf dari Pelayanan untuk pembangunan dan pendidikan gereja Metodis (SEDEC) di kantor.
- meninjau 3 proyek SEDEC (rumah keluarga yang punya anak cacat, kelompok kerajinan tangan, kelompok musik)
27 April malam : kembali ke Santiago dengan pesawat (45 menit).
28 April : - mengikuti ibadah dan menyampaikan salam di kampus CTE.
- percakapan dengan direktur komunikasi CTE.
- sight seeing di kota Santiago.
29 April : - mengikuti ibadah di Gereja Metodis Pentakosta (Iglesia Metodista
Pentakosta de Chile). Suatu gereja Evangelical terbesar di kota
Santiago yang dihadiri oleh kira-kira 2000-an orang).
- meninjau salah satu gereja Katolik yang megah dan antik.
- ke Bukit Perawan Maria yang letaknya berada di tengah kota Santiago.
29 April malam : berangkat pulang melalui Dallas AS dan Narita Tokyo,
Jakarta. Transit di Dallas 5 jam dan di Tokyo 20 jam.
2 Mei jam 16.40 : tiba di Jakarta.
3 Mei : tiba kembali di Tomohon.
Catatan Reflektif :
Misi Allah melalui Basel Mission yang sekarang menjadi Mission 21 (terhitung sejak Januari 2001 sebagai hasil merger 5 badan misi di Swiss termasuk SOAM), tidak hanya melalui gereja tetapi juga melalui lembaga swadaya masyarakat yang dikelola oleh warga gereja. Ke-26 institusi yang menjadi mitra BM/Mission 21 ini, sebagian besar adalah untuk program kemanusiaan seperti pendidikan, pelatihan, pembinaan, pemberdayaan perempuan dan anak, penguatan dan pembangunan ekonomi, keadilan, lingkungan hidup dan HAM pada umumnya.
Mitra BM di AL sebagian besar bersifat ekumenis di mana lembaga-lembaga yang langsung berhubungan dengan masalah kemasyarakatan baik yang berada di bawah naungan gereja tertentu maupun yang dikelola oleh warga gereja secara perorangan, melibatkan atau mempekerjakan orang-orang dari berbagai golongan gereja bahkan termasuk dari gereja Katolik seperti ADEP di Lima. Karena program kemanusiaan, maka para pekerjanya berasal dari berbagai bidang keahlian seperti hukum, dokter, ahli lingkungan, pertanian, ekonom, pendidik, pekerja sosial, psikolog, dll,
Semua kegiatan didokumentasikan melalui video, kaset, buletin, pamplet dan buku. Baik pengurus maupun pekerja lapangan dan staf administrasi bekerja bersama sesuai dengan keahliannya sehingga sulit membedakan mana yang “bos” dan mana yang bawahan. Sebab semua pelaksana bekerja fulltime. Bahkan ada yang bekerja fulltime tetapi tidak mendapat upah seperti kelompok perempuan yang bekerja di kompleks perumahan publik di Santiago.
Dari Konferenasi ke-3 Perempuan di Lima dan kunjungan/percakapan/sharing di Santiago dan Concepsion, ditemui bahwa perempuan masih berada dalam status dan peran yang memprihatinkan, yang berdampak pada kehidupan anak-anak dalam keluarga. Seperti masalah kekerasan, pemahaman teologi yang fundamentalis, perempuan dalam gereja, kesehatan reproduksi dan hak asazi perempuan pada umumnya. Nyatalah bahwa di mana-mana termasuk di Asia/Indonesia (seperti Laporan/materi pertemuan perempuan mitra BM se Asia di Hong Kong pada Juli 2000 lalu), perempuan masih harus berjuang untuk mendapatkan kembali harkat dan martabatnya selaku Manusia Gambar Allah di bumi. Perjuangan ini tidak hanya menjadi program kaum perempuan tetapi harus menjadi program bersama dengan kaum laki-laki dalam keluarga, gereja dan masyarakat. Dalam konteks demikian, maka program Dewan Gereja-Gereja sedunia (WCC) yang dicanangkan pada 4 Februari 2001 yaitu Decade to Overcome Violence (Dasawarsa Mengatasi Kekerasan) harus menjadi program gereja-gereja secara sungguh-sungguh. Dengan demikian, gereja-gereja dapat mengaktualisasikan perannya sebagai pelopor untuk teralaminya hak asazi manusia sebagai Imago Dei.
Sekolah Teologi (CTE) yang ada di Santiago dan Concepsion bahkan Universitas Biblica Amerika Latin (UBL) di San Jose Costa Rica, bersifat ekumenis di mana berbagai denominasi Evangelical/Protestan (kecuali gereja Baptis di Santiago yang punya Sekolah Teologinya sendiri) terlibat di dalamnya. Bahkan di UBL ada mahasiswa Katolik. Pendidikan Teologi di sini lebih menekankan teologi praksis/pastoral dan teologi kontekstual/pembebasan.
Perkunjungan di Chile (Santiago dan Concepsion) dipersiapkan dengan sangat baik terutama dengan jadual kunjungan. Sehingga seminggu berada di sana tidak terasa. Setiap saat ada program yang bervariasi dan karenanya tidak melelahkan apalagi membosankan. Kami selalu didampingi oleh orang yang benar-benar menguasai lapangan yang dituju.
Dalam acara konferensi dan sidang raya di Lima-Peru, saya sering merasa lelah karena harus berkomunikasi (mendengar dan bercakap) dalam dua bahasa asing sekaligus yaitu Spanyol dan Inggris, bahkan kadang-kadang bahasa Jerman. Apalagi acara di tempat ini sangat padat, sampai-sampai tidak ada sihgt seeing. Untung pada malam hari selesai makan malam kira-kira jam 9, ada kesempatan untuk jalan kaki di sekitar hotel tempat konferensi/sidang yang memang tidak jauh dari tepi laut menghadap Lautan Pasifik.
Penutup
Suatu perjalanan yang panjang sekali (33 jam terbang sekali jalan minus transit) yang mengesankan dalam mana saya dapat mempraktekkan kemampuan berbahasa Inggris (tulisan dan lisan), juga saya banyak tahu tentang perubahan dari Basel Mission menjadi Mission 21, bertemu dengan banyak orang dalam bahasa, budaya, makan, minum (apalagi yang satu ini – minuman di Chile sebagai the land of good wine), iklim musim gugur – khususnya di Concepsion yang sampai mencapai 5 derajat Celcius (dalam rumah) dan di luar rumah sampai 0 derajat.
Ada juga sedikit masalah dengan perjalanan ini khususnya pada waktu transit di Dallas USA. Saya bersama para penumpang lainnya tidak memiliki visa Amerika Serikat. Jadi harus masuk jalur THROW (Transit Without Visa) dan menunggu di ruang tunggu yang khusus dan tidak boleh keluar ruangan itu. Selama transit, passport ditahan oleh petugas bandara/penerbangan. Sedangkan di Osaka dan di Tokyo yang harus transit lama dan menginap di hotel yang berada di luar airport, mengharuskan saya mengurus visa masuk Jepang di bandara (visa on arrival). Sesuai dengan pengaturan biro perjalanan, maka di hotel hanya mendapat fasilitas ruang tidur, sedangkan makan harus cari/bayar sendiri.
Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus yang empunya misi ini atas kesempatan yang diberikan langsung melalui Pdt.Deetje Tiwa-Rotinsulu selaku Koordinator Basel Mission Asian Fellowship. Untuknya, saya menyampaikan banyak terima kasih. Demikian juga kepada Basel Misision/Mission 21 yang membiayai seluruh perjalanan ini.
Tomohon, medio Mei 2001
Laporan ini diberikan kepada yang terhormat :
Pdt.Deetje Tiwa-Rotinsulu.M.Div.
Badan Pekerja Sinode GMIM (tembusan)
Dekan Fakultas Teologi UKIT (tembusan).
Selasa, 05 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar