Selasa, 16 Juni 2009

Kunjungan ATESEA ke Cina, 2007

Fakultas Teologi UKIT sebagai salah satu sekolah anggota dalam lingkungan Asosiasi Pendidikan Teologi di Asia Tenggara (The Association for Theological Education in South East Asia) yang dikenal dengan singkatan ATESEA, baru-baru ini ( 2 -12 September 2007) turut serta dalam salah satu program ATESEA yaitu kunjungan (belajar dan sharing) dari para perempuan teolog ATESEA ke sekolah-sekolah teologi dan lembaga gerejawi/gereja-gereja serta lembaga swadaya masyarakat di negeri Cina. Program ini didanai oleh World Council of Churches, The Foundation for Theological Education dan ATESEA. Selaku Dekan Fakultas Teologi UKIT saya mengikuti program ini bersama dengan 10 orang peserta lainnya yang berasal dari Filipina, Myanmar, India, Singapur, Thailand dan Hong Kong. Rombongan ini mewakili para perempuan teolog dari 104 sekolah anggota ATESEA di 16 negara yang ada di Asia Tenggara termasuk Australia dan Selandia Baru. Rombongan ini dipimpin oleh mantan Dekan Fakultas Teologi UKIT (1980-1983) yang bertugas sebagai Direktur Eksekutif ATESEA yang berkedudukan di Manila yaitu Pdt. Sientje E.Merentek-Abram, D.Th. dengan koordinator program yaitu Dr. Theresa Carino dari Amity Foundation yang berkedudukan di Hong Kong. Rombongan ini kemudian bergabung dengan peserta yang mewakili Sekolah-Sekolah Teologi di Cina.

Selama 11 hari berada di negeri Cina, delegasi ini mengunjungi empat kota besar yaitu Shanghai, Nanjing, Beijing (Peking) dan Xian (Xianmen).
- Di Shanghai (3-4 September): kami mengunjungi dan bertemu serta sharing dengan pimpinan serta staff China Christian Council dan National Committee of Three-Self Patriotic Movement of the Protestant Churches in China (CCC/TSPM), Local Women’s Fellowship (pendeta perempuan muda mayoritas melayani di jemaat lokal : 60%), East China Theological Seminary, YMCA/YWCA.
- Di Nanjing (5-6): kami mengunjungi dan bertemu serta sharing dengan pimpinan dan staff Jiangsu Bible School, Nanjing Theological Seminary (sekolah teologi yang sangat terkenal dan mendunia, sedang membangun kampus yang luar biasa besar, megah dan komplit dengan dukungan dana yang besar dari pemerintah pusat), Amity Foundation (yang banyak membantu pemberdayaan masyarakat terbelakang dan sekolah-sekolah teologi), Amity Printing Foundation (terutama mencetak Alkitab dalam bahasa Cina dalam berbagai dialeknya serta berbagai bahasa di dunia seperti Rusia dan India).
- Di Beijing(7-8): kami mengunjungi, bertemu dan sharing dengan State Administration for Religious Affairs, Beijing Christian Council, Yanjing Theological Seminary (lokasi kampus berbatasan dengan stadion yang yang sedang dibangun untuk Olimpiade Beijing tahun 2008). Kami berkesempatan ke tempat bersejarah yaitu The Residence of Soong Ching Ling (madam Sun Yat-Sen, 1863-1981, dia seorang yang beragama Kristen, dia dicatat sebagai Perempuan Pertama Cina yang modern), Forbiden City (didirikan tahun 1420, direstore tahun 1700-an, terdapat gambar/foto Sun Yat Sen/dinasti Ming) berhadapan dengan Tugu Tiananmen, ke pusat penjualan keramik terkenal, ke Great Wall (karena waktu terbatas hanya sempat naik sampai pada tahap kedua puncak) dan ke The Qin Shihuang’s Terra-Cotta Warriors and Horses.
- Di Xian (9-11) : mengunjungi, bercakap dan sharing dengan pimpinan dan staff Xian Bible School : presidennya berumur 80 tahun sedangkan staff semuanya berusia muda. Pada hari Minggu, 9 September 2007 mengunjungi Panti Asuhan: sharing dengan pimpinan dan membagi kasih dengan anak-anak. Sesudah itu beribadah di gereja Protestan dengan latar belakang tradisi Baptis Amerika ( 90% jemaat yang hadir adalah kaum perempuan : tua dan muda). Selesai makan siang (yang dijamu oleh Pendeta jemaat yang berumur 84 tahun), kami mengunjungi rural area (yang sangat terbelakang/miskin) : melihat rumah-rumah dalam gua/di bawah tanah, berdinding tanah, proyek air bersih untuk 1200-an penduduk, perkebunan apel, 50% penduduk beragama Kristen yang beribadah di rumah masing-masing/tidak ada gedung gereja, kepala kampung beragama Kristen)
- Kembali ke Shanghai (11 sore) : evaluasi dan persiapan kembali ke negara-masing-masing pada tanggal 12.

Seluruh hari terisi dengan berbagai program dengan rute perjalanan yang panjang baik dengan mobil (Shanghai ke Nanjing) maupun dengan penerbangan domestik (Nanjing ke Beijing dan Xian kembali ke Shanghai) . Kekayaan spiritual yang dinafasi oleh filsafat hidup Cina yaitu harmoni merupakan pengalaman kami yang paling berharga. Beberapa hal sebagai ‘ole-ole’ dari program ini ialah a.l.
- di dalam suatu negara komunis yang mayoritas rakyatnya tidak beragama (unbeliefers), ternyata agama-agama mendapatkan kebebasan berekspresi terutama sejak 20 tahun terakhir ini atau pasca revolusi kebudayaan (tahun 1970-an) . Pemerintah memberi kebebasan kepada rakyatnya untuk tidak beragama atau beragama. Hal ini terungkap dalam pertemuan kami dengan petinggi Cina yang membidangi Agama-Agama. Perhatian pemerintah pusat dan lokal terhadap pembangunan kampus Sekolah Teologi sangat luar biasa.
- Setiap minggu, ada ratusan orang meminta dibaptis dan setiap hari ada 6 gedung gereja baru dibuka. Karena itu, pertumbuhan gereja sangatlah cepat. Pada tahun 2003 dilaporkan ada 18 juta orang Kristen. Pada tahun 2007 terdapat kira-kira 30 juta orang Kristen. Orang Cina menjadi Kristen secara pribadi. Kebanyakan yang menjadi Kristen adalah kaum perempuan (80%). Sebab itu, sangatlah tidak relevan menanyakan berapa keluarga Kristen.
- Gereja Protestan hanya memakai satu nama yaitu Gereja Protestan Cina. Memang ada berbagai latar belakang tradisi gereja yang masuk ke Cina tetapi semuanya melebur diri hanya dengan satu nama saja. Beragamnya latar belakang tradisi gereja tetap dipelihara dan dihargai atau diberi tempat dalam gereja lokal. Sebagai contoh, salah satunya adalah gereja lokal di Xian (1915) yang berlatar belakang tradisi Baptis Amerika. Pelayanan Baptisan dilakukan dengan cara selam. Demikian pula penuturan dari salah seorang pimpinan CCC, Rev.Meylin (di Shanghai) bahwa masing-masing orang diberi ruang untuk beribadah sesuai stylenya. Tidak ada yang saling mengeritik dan saling menyalahkan. Mereka saling menghormati dan saling menerima. Kenyataan ini mengingatkan saya pada kunjungan ke India pada tahun 1998 dimana gereja-gereja Protestan di India Selatan dengan 5 latar belakang tradisi gereja hanya memiliki satu nama saja yaitu Church of South India (CSI).
- Program utama Gereja Protestan dan Sekolah Teologi ialah rekonstruksi pemikiran teologi, regulasi gereja, membuka mata pada teologi baru – membuka wawasan. Untuk itu a.l. melalui Amity Printing Press, Alkitab disebarkan dan diberikan dengan cuma-cuma kepada penduduk sampai pedesaan. Kebanyakan warga menjadi Krsiten karena membaca Alkitab. Mereka ini yang kemudian beribadah di rumah masing-masing atau dalam kelompok-kelompok rumah terutama bagi mereka yang ada di pedasaan.
- Antara dosen senior dan dosen junior berbeda umur 30-40 tahun. Latar belakangnya ialah pada waktu komunis sangat berkuasa banyak pendeta dipenjara, gereja-gereja ditutup dan dibakar. Baru pada tahun 1970-an (sesudah revolusi kebudayaan), gereja-gereja dan sekolah-sekolah teologi dibuka kembali. Paling banyak yang menjadi mahasiswa adalah kaum perempuan. Mereka inilah yang sekarang melayani jemaat-jemaat lokal dan ada yang menjadi dosen. Bahkan di Sekolah Alkitab di Xian terdapat 80% dosen perempuan.
- Umumnya para pendeta berkhotbah sekitar 1 sampai 2 jam. Seorang dosen muda dari Nanjing Theological Seminary yang menjadi anggota rombongan kami, Rev. Meggi berkhotbah di gereja lokal Xian selama 1 jam 50 menit. Menarik pula, ia berkhotbah tanpa teks dan dengan memakai baju seadanya, tanpa pakai toga. Pendeta yang memimpin liturgi adalah pendeta jemaat memakai pakaian jas. Sementara itu, paduan suara yang merdu memakai jubah/semi toga dengan warna dominan putih dengan bis merah dengan iringan musik organ dan musik tradisional. Rombongan kami diberi kesempatan membawakan puji-pujian dan sambutan yang dibawakan oleh Bendahara ATESEA Dr. Zenaida Lumba dari Filipina.
- Kemanapun kami berkunjung selalu disuguhi teh cina dan buah-buahan. Tidak ada kue. Untung ada makan siang dan malam di restoran dengan 17-20 jenis makanan. Makan sedikit demi sedikit dan memakan waktu yang lama, agar dapat menikmati semua jenis makanan yang diselingi dengan teh cina dan minuman lainnya. Di Beijing dan Xian, kami berkesempatan jalan-jalan ke tempat-tempat souvenir yang khas Cina. Kebetulan ketemu dengan seoang pedagang yang dapat berbahasa Indonesia. Kemiripan wajah membuat acara jalan-jalan ini terasa akrab saat berinteraksi dengan pedagang meski dengan bahasa yang terbatas. Tempat menginap di hotel. Tempat makan di restauran, tidak pernah makan di rumah pribadi atau rumah jabatan.

Kunjungan ini adalah kunjungan yang lengkap: gereja dan kelompok perempuan gereja, sekolah teologi, badan ekumenis, lembaga swadaya masyarakat dengan latar belakang kristen, daerah pedusunan/pedesaan, pemerintah, tempat-tempat bersejarah/pariwisata, tempat souvenir, hotel dan restauran. Dengan kata lain, tujuan kunjungan kami tercapai. Belajar tentang Cina langsung di lokasi. Sayang sekali tidak sempat bertemu dengan Bishop H.K.Ting yang sangat terkenal itu yang sekarang berumur 90-an tahun.

Puji Tuhan, saya beroleh kesempatan menyaksikan dan mengalami kehidupan kekristenan dan kemasyarakatan yang sangat kaya dengan tradisi dan filsafat harmoninya. Xie Xie (Terima Kasih) kepada ATESEA. Kapan lagi ke sana ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar