Rabu, 08 Juli 2015

LAPORAN DEKAN 2011-2015



LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN
 DEKAN
PERIODE PELAYANAN TAHUN 2011-2015*

DASAR
  1. SK Rektor UKIT No.016/SK-91005/V/2011 tentang Pengangkatan dan Penetapan Dekan Fakultas Teologi UKIT Periode 2011-2015, tertanggal 6 Mei 2011.
2.      Pelantikan dan Serah Terima pada 11 Mei 2011.
  1. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran seperti tercantum dalam Buku Panduan Studi 2006/2008, dan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran dalam Kurikulum Baru (2014).
  2. Statuta UKIT.
  3. Program Kerja Periode 2011-2015.

PENDAHULUAN

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (I Korintus 15:58).

Bagian Alkitab ini telah mendasari, memotivasi, menguatkan dan memampukan saya dalam kebersamaan dengan para Pembantu Dekan dan Pimpinan Program Studi dalam melaksanakan  dan menyelesaikan tugas/tanggungjawab kepemimpinan/kepelayanan periode 2011-2015 (11 Mei 2011 - sampai sekarang). Penggalan kata-kata ‘Jerih Payahmu Tidak Sia-Sia’ telah menjadi judul buku kenangan Dies Natalis ke-50, Oktober 2012.

Sebagai lembaga pendidikan tinggi teologi, dalam kebersamaan dengan semua Fakultas di lingkungan Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), kita terus melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat. Dalam periode ini, periode yang masih serba sulit  karena permasalahan internal UKIT dan Gereja Pendirinya (GMIM),  kita berhasil mempertahankan kualitas Tri Darma Perguruan Tinggi sesuai dengan Visi, Misi, Tujuan dan Sasarannya berdasarkan Program Kerja dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Tahun 2011-2015. Kitapun berhasil mempertahankan kualitas hubungan dengan lembaga-lembaga pendidikan tinggi teologi di Indonesia dalam wadah Perhimpunan Sekolah-Sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA)[1], juga dengan  pendidikan tinggi  teologi di Asia Tenggara dalam wadah The Association for Theological Education in South East Asia (ATESEA), dan lembaga donor yaitu Foundation for Theological Education in South East Asia (FTESEA)[2], serta forum pustaka dan pustawakawan dalam wadah Forum Pustakawan dan Perpustakaan Teologi Indonesia (ForPPTI), Forum of Asian Theological Librabrian (ForATL).  Demikianpun dengan lembaga ekumenis gereja yaitu Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI)[3] dan bahkan dengan lembaga ekumenis internasional yaitu Ekumindo[4] yang mencarikan dana untuk bantuan studi (penelitian dan persiapan ujian) kepada dua dosen yang sedang studi lanjut penuh waktu.[5]

Kita bersyukur atas keberhasilan kita  memasukkan Borang Akreditasi ke BAN-PT pada bulan Agustus 2013 sehingga kita boleh memakai nilai akreditasi C.[6] Kita bersyukur atas keberhasilan kita diakreditasi ulang (re-accreditation status) oleh ATESEA untuk November 2013- November 2017.[7] Dua status akreditasi ini adalah bukti dari kesungguhan kita bersama untuk mempertahankan dan mengembangkan lembaga pendidikan yang kita cintai ini di tengah banyak kesulitan kelembagaan. Juga perpustakaan kita mendapat sertifikat sebagai Anggota dari Forum of Asian Theological Librarian (ForATL) 2015-2018.

Untuk itu, sepatutnya saya menyampaikan penghargaan  kepada seluruh sivitas :
-  Kepada semua rekan dosen yang dengan setia telah berjuang bersama terutama dalam hal melaksanakan  pembelajaran yang berkualitas di tengah kemelut ini.[8]
 -  Kepada para mahasiswa dalam koordinasi pimpinan Lembaga Kemahasiswaan. Saya bangga dengan kalian, kita menjadi lebih kuat dalam bersama-sama ‘mempertahankan’ jati diri  lembaga ini. Tanpa mahasiswa yang setia dan teguh berjuang selama ini, maka pasti lembaga kita ini tidak mungkin sampai berada di sini.
-  Kepada para staf pegawai sesuai dengan bidang kerjanya telah  mengabdikan diri sepenuhnya, sehingga utamanya pelayanan kepada mahasiswa berjalan dengan baik dan komunikasi antar sivitas berjalan lancar. Kita bersyukur karena pemberian dan pengabdian diri kalian yang tulus dalam bekerja, meski tidak sebanding dengan penghargaan yang diberikan oleh  lembaga dalam hal pemberian honorarium yaitu di bawah upah minimum provinsi. Bahkan ada yang dengan sukarela bekerja di luar jam kantor. Itu tak ternilai.

Atas semua keberhasilan ini, saya mengajak kita bersama-sama  bersyukur kepada TUHAN Allah : Bapa, Anak dan Roh Kudus yang telah menyertai kita sekalian.
Secara rinci keberhasilan kita ini tertuang dalam Laporan Dekan yang disampaikan dalam pertemuan-pertemuan dosen,wakil pimpinan lembaga kemahasiswaan, wakil staf pegawai, pada setiap akhir semester dan pada perayaan Dies Natalis.

Bagi saya, menjadi Dekan selama periode pelayanan  ini merupakan suatu kesempatan unik, berarti dan berharga.[9]Unik karena berkarya di masa sulit.Berarti dan berharga karena ‘kepemimpinan’ saya ditempa dalam situasi kampus yang tidak kondusif, penuh tantangan[10] dengan segala konsekuensinya.Tuhan mengaruniakan kesempatan khusus (kairos) bagi saya untuk sambil belajar sambil berbagi potensi diri anugerah-Nya.  Kepemimpinan saya dalam kebersamaan dengan para Pembantu Dekan diuji dalam proses aksi-refleksi dengan dan  terutama oleh semua sivitas, dan dengan semua orang, baik secara pribadi maupun lembaga, yang bersentuhan langsung dengan Fakultas Teologi UKIT.
Dalam periode ini, sebagai representasi  Fakultas Teologi saya menghadiri Sidang Umum ATESEA (The Association for Theological Education in South East Asia), di Manila tahun 2013. Dalam Sidang Umum ini saya terpilih[11]menjadi  Anggota  Board of Trustees[12] untuk tahun 2013-2017. Demikian pula saat menghadiri Rapat Umum Anggota PERSETIA (Perhimpunan Sekolah-Sekolah Teologi di Indonesia), di Malang tahun 2014, saya terpilih menjadi Wakil Ketua 2 Pengurus untuk tahun 2014-2018.[13]Dan  sebagai representasi ATESEA, saya menjadi salah satu Anggota dalam Kelompok Kerja Teologi Kontekstual M21[14] untuk regio Indonesia-Malaysia sejak tahun 2013. Bagi saya, keberadaan saya dalam kepengurusan  dua Asosiasi Pendidikan dan Badan Misi Internasional ini membuktikan bahwa eksistensi lembaga kita diperhitungkan secara nasional dan internasional.

Untuk semua itu,   saya menyampaikan banyak terima kasih kepada:
-  Rektor UKIT  dan Para Pembantu Rektor atas dukungan dan koordinasi kerja selama ini.
- Rekan-rekan pimpinan yaitu Para Pembantu Dekan[15] dan Pimpinan (Ketua) Program Studi yang telah  bekerja  bersama dalam dinamika yang positif dan progresif.
- Para Anggota Senat yang selalu siap mengambil keputusan bersama dalam memperkuat komitmen kepemimpinan yang melayani bagi pengembangan lembaga ini.
-  Para dosen yang telah berjuang bersama di tengah badai, dan dalam segala keterbatasan dana serta tantangan psikologis dan sosiologis, kita dapat melaksanakan kewajiban dengan berhasil.
- Pimpinan Lembaga Kemahasiswaan (DEM dan DPM) yang setiap tahun berganti pengurusnya,  yang telah dan terus berjuang bersama di tengah badai pergumulan yang panjang ini. Juga telah menjadi komunikator yang baik antara mahasiswa dengan Dekanat.

Berikut ini adalah pertanggungjawaban Dekan secara umum. Sedangkan pertanggungjawaban secara rinci dapat dibaca dalam  Laporan dan Evaluasi  menurut bidang kerja para Pembantu Dekan  yang tersedia dalam Lampiran Laporan Umum ini. Dalam Lampiran Laporan ini terdapat buku/folder/map[16] :
  1. Program Kerja periode 2011-2015.
  2. Kurikulum 2014.
  3. Daftar Mahasiswa sejak tahun 2011-2015
  4. Laporan Kerja dan Evaluasi setiap akhir semester yang dibacakan dalam Pertemuan Dosen, Perwakilan Mahasiswa dan Perwakilan Pegawai.
  5. Laporan Kerja Tahunan yang dibacakan dalam Acara  Dies Natalis 2011, 2012, 2013,2014.
  6. Buku Notulen Pertemuan/Rapat 2011-2015.
  7. Laporan Perpustakaan.
  8. Dokumen BorangAkreditasi (Evaluasi Diri, Buku IIIA, Buku IIIB, Lampiran).
  9. Surat-Surat Tanah.
  10. Daftar Inventaris.
  11. Buku-Buku Notulen dan Daftar Hadir Rapat/Pertemuan.
  12. Buku Alumni.

I.    Program/kegiatan antar bidang yang berhasil dikerjakan/diikuti.
  1. Menyusun dan menerbitkan Buku Kurikulum 2014 (efektif berlaku mulai Agustus 2014)[17]
  2. Mengirim kembali Borang Akreditasi BAN pada Agustus 2013.[18]
  3. Mendapatkan “Re-accreditation Status” dari ATESEA (November 2013 – November  2017).
  4. Laporan EPSBED/PDPT  setiap semester melalui UKIT.[19]
  5. Kesejahteraan Dosen dan Pegawai. Dua kali kenaikan honorarium bagi para pegawai dan tunjangan bagi para dosen.[20]
  6. Pengembangan kapasitas dosen bidang penelitian melalui pelatihan yang dilakukan oleh Jaringan Pendidikan Teologi Indonesia Timur[21]
  7. Keikutsertaan dosen, pegawai dan mahasiswa dalam kegiatan studi institut/seminar/lokakarya/sidang raya/rapat kerja berskala nasional dan internasional.[22]
  8. Perpustakaan :
-    Kita telah memiliki Pustawakan yaitu Farly R. Rondonuwu, STeol.
-   Berhasil mengikuti Lomba Pustakawan Teladan tingkat Provinsi dengan predikat Juara Pertama.
-    Mengikuti  Lomba Tingkat Nasional Pustakawan Tingkat Nasional utusan Provinsi Sulawesi Utara.
- Pelatihan tenaga Pustakawan untuk Pengembangan instalasi perpustakaan menggunakan i-SPEKTRA.
 - Telah dapat diakses OPAC (online public access):  http://libfteolukit.ddns.net
 - Menjadi Anggota Forum Pustakawan dan Perpustakaan Teologi di Indonesia (ForPPTI), dan bekerja sama dengan Forum Komunikasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Kristen Indonesia (ForKomPPTKI).
-  Menjadi Anggota Forum of Asian Theological Librarian (ForATL) 2015-2018.
  1. Penerbitan Buku:
-          50 Tahun Fakultas Teologi UKIT 1962-2012 dengan judul ‘Jerih Payahmu Tidak Sia-Sia’ (Oktober 2012).[23]
-          75 Tahun Pdt.Prof. Dr. Jan Arie Bastiaan Jongeneel,SH dengan  jusul : ‘Ziarah Dalam Misi’ (Mei 2014).[24]
10.  Penataan berkelanjutan arsip/dokumen akademik.
  1. Melaksanakan (sebagai  nyonya dan tuan rumah penyelenggaraan) Studi Institut Metodologi Riset Ilmu Teologi, 27-30 November 2012.[25] Penanggungjawab kegiatan adalah Pengurus PERSETIA.
  2. Penggalangan dana dari para alumni, jemaat dan donatur lainnya terutama untuk biaya perjalanan  mengikuti kegiatan studi institute, seminar, lokakarya, konsultasi di luar daerah dan luar negeri, dilakukan oleh dosen/pegawai/mahasiswa dan Tim Penggalangan Dana.[26]
  3. Pertanggungjawaban keuangan yang dapat dipercaya dilakukan oleh Tim Verifikasi internal.
  4. Mendata semua alumni dari angkatan pertama, dan dibukukan. Peluncuran buku alumni untuk pertama kali dilaksanakan bersamaan dengan HUT ke-50 Fakultas Teologi UKIT tahun 2012.

II.   Program/kegiatan yang tidak berjalan lancar dan maksimal
1.                   Penerbitan Buletin Inspirator
2.                   Seminar Hasil Penelitian Dosen.
3.                   Konvokasi Perwalian dan Konvokasi Umum.
4.                   Laporan Keuangan per triwulan.
5.                   Unit usaha kantin dan pemberdayaan telaga, eks asrama, tanah/kebun.
6.                   Pengurusan Jabatan Fungsional Dosen hanya sampai di UKIT.[27]


III.   Program yang tidak dapat dilaksanakan.
Bidang Akademik
1.      Penyegaran berbahasa Inggris bagi para dosen
2.      Rekrutmen dosen tetap sesuai bidang yang dibutuhkan[28]
3.      Pertukaran dosen dengan sekolah-sekolah lain.
4.      SIAKAD ke WAN
5.      Jurnal Exodus[29]
Bidang Administrasi Umum dan Keuangan
1.      Audit eksternal.[30]
2.      Pembelian 1 unit kendaraan roda empat.[31]
Bidang Kemahasiswaan dan Hubungan Masyarakat
1.      Retreat Mahasiswa[32]
2.      Mengikuti Lomba Internasional
3.      Penerbitan News Letter[33]
4.      Penerbitan Buku Kabar Baik[34]
5.      Forum Orangtua Mahasiswa (FOM)[35]
6.      Pertemuan dengan Orangtua Mahasiswa[36]
7.      Laporan DEM/DPM

IV.   Usulan
  1. Dalam koordinasi Rektor UKIT dan bersama-sama seluruh sivitas UKIT mewujudkan UKIT Satu pada tahun ajaran baru 2015/2016.[37]
  2. Melanjutkan dan meningkatkan pengurusan jabatan tenaga pengajar dosen di KOPERTIS/DIKTI.
  3. Merekrut dosen-dosen muda.
  4. Melanjutkan program studi lanjut bagi dosen[38]
  5. Meningkatkan Penelitian dan Penulisan  a.l. melalui Jaringan Sekolah-Sekolah Teologi Indonesia Timur, Asia Journal Theology (AJT) [39] dan dituangkan dalam Buku.
  6. Mengembangkan Program Pengabdian pada Masyarakat.
  7. Melanjutkan dan mengembangkan penerbitan Jurnal Exodus  untuk mendapatkan  Akreditasi.[40]
  8. Menuntaskan materi  Praktek Lapangan dan Penulisan Tugas Akhir dalam Kurikulum 2014.
  9. Menyusun kembali Peraturan Kelembagaan sesuai kebutuhan dan tantangan masa kini dan nanti dalam koordinasi dengan UKIT.
  10. Pemberdayaan lembaga kemahasiswaan
  11. Mengkaji ulang honorarium seperti a.l. transportasi, rumah untuk dosen.
  12. Melengkapi Sistem Informasi Akademik sampai dapat diakses melalui internet (WAN).
  13. Mengembangkan web www.fteologi.uki-t.ac.id  dan  http://libfteolukit.ddns.net
  14. Merekrut tenaga operator untuk SIAKAD dan web fakultas.
  15. Merenovasi semua gedung yang tidak layak (tempat kuliah, terung kalutay, gedung serba guna, asrama-asrama).
  16. Memberdayakan tanah/telaga dan eks asrama Educatio Christi.
  17. Penambahan media pembelajaran elektronik.
  18. Penambahan dan pemutahiran alat-alat elektronik untuk kantor.[41]
  19. Penataan kembali perumahan dosen.[42]
  20. Mengangkat pengurus asrama

REFLEKSI/PENUTUP
Periode ini adalah periode kedua plus[43] dalam kondisi UKIT yang masih ‘serba sulit’.[44]Dalam rentang waktu 4 tahun terakhir ini, kita berhasil melewatinya seperti periode sebelumnya (2006-2010/2011).Sangat jelas tercatat rinci dalam laporan-laporan semesteran dan tahunan, terutama hasil pembelajaran mahasiswa yang setiap semester dan hasil akhir berada di atas rata-rata nilai 3.Demikian juga para lulusan kita sebagian besar telah bekerja baik di dalam gereja (sebagai pendeta)[45] maupun dalam masyarakat (pegawai negeri sipil, pegawai swasta/bank, aktivis dalam lembaga swadaya masyarakat, bahkan yang mencipta lapangan kerja).Perpustakaan sebagai wahana pembelajaran, dokumentasi dan rekreasi terus dikembangkan.[46] Ketiga hal ini yaitu hasil studi mahasiswa, serapan para lulusan di dunia kerja, dan perpustakaan,  adalah tolok ukur utama dari keberlanjutan kualitas pendidikan tinggi. 

Kitapun berhasil dalam :
1.           Menguji komitmen seluruh sivitas dalam mengawal kebenaran berkaitan dengan permasalahan kelembagaan yang ditimpakan kepada UKIT YPTK GMIM sejak Maret 2006.[47]
2.           Mengembangkan hubungan antar sivitas sebagai keluarga, menjadi dekat satu dengan yang lain, merasa senasib sepenanggungan.
3.           Menempa kepemimpinan dosen dan mahasiswa di tengah permasalahan eksternal dan pergumulan internal.
Bahwa ada dinamika dalam kebersamaan selama ini, itu adalah ruang-ruang yang dengan sengaja atau tidak sengaja telah membuat kita saling mengenal lebih dekat, siapa saya dan siapa kita dalam kepedulian perjuangan yang sama. Bahwa ada yang mengambil jalan sedikit berbeda, itu adalah konsekuensi logis dari betapa majemuknya perbedaan di antara kita apalagi saat kehendak orang per orang  atau ‘kelompok’ bertindih tepat dengan kehendak bersama dalam koridor ketentuan institusi. Bahwa ada yang memilih sedikit menjauh, itu adalah salah satu cara  untuk ‘cari aman’ di saat-saat tersulit mengambil keputusan. Bahwa ada yang akhirnya memilih untuk meninggalkan kebersamaan di kampus, itu adalah pilihan terbaiknya, yang tak dapat ditolaknya.

        Kita bersyukur kepada Tuhan Yesus, Kepala Gereja, yang berkenan memakai Ketua BPMS GMIM, didampingi oleh Sekretaris BPMS GMIM periode 2014-2018, yang membuka kembali pintu komunikasi antara UKIT YPTK GMIM dan Sinode GMIM (yang tertutup sejak tahun 2011) sebagaimana itu menjadi keputusan Sidang Majelis Sinode, Maret 2014.[48]Wacana rekonsiliasi terbuka kembali dan sedang berproses.[49] Semoga jalan yang sedang kita tapaki dari UKIT yang terbelah menuju UKIT yang utuh, yang damai dan adil, akan segera menjadi kenyataan di tahun ajaran yang baru 2015/2016.[50]

Kiranya kita tetap kuat dan setia dalam kebersamaan menuju UKIT yang utuh. Semoga Tuhan Allah  terus menolong kita.

Demikianlah laporan pertanggungjawaban
saya selaku Dekan.

Akhirnya, saya pribadi memohon maaf bila ada kata-kata/ucapan dan prilaku saya yang tidak berkenan di hati rekan-rekan pimpinan, para anggota senat, para dosen, para pegawai dan para mahasiswa. Mohon maaf pula bila saya tidak dapat  memenuhi segala harapan.

Tomohon, 06 Mei 2015

Dekan,

Dr. Karolina Augustien Kaunang
NIDN 09100857



*Naskah awal  laporan ini disampaikan dalam Pertemuan  para dosen, pimpinan lembaga kemahasiswaan, wakil pegawai, pada tanggal 15 April 2015. Kemudian disampaikan dalam  Rapat Senat Fakultas pada 17 April 2015. Pasca Rapat Senat,  masih ada revisi sampai batas pengakhiran masa tugas seuai dengan SK Rektor  sampai 06 Mei 2015.
                      





[1]Melalui PERSETIA, kami mendapat surat dari Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat DIKTI nomor :0404/E3.2/2015 tanggal 2 Februari  2015 tentang Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Serta Gelar Lulusan Perguruan Tinggi, maka kami menyampaikan surat tentang perubahan nama program studi sesuai dengan nomenklatur baru bahwa kami tetap bernaung di DIKTI menjadi Program Studi S-1 Filsafat Keilahian, dengan gelar Sarjana Filsafat, berlaku 1 Agustus 2017. Lihat surat kami no.26/91005/810/II/2015 tanggal 24 Februari 2015.
[2]FTESEA  mengirim ‘grant’ setiap tahun melalui ATESEA. Mulai tahun 2016, pemberian grant berdasarkan proposal.Prosposal ini sudah harus dikirim ke ATESEA pada selambat-lambatnya akhir Juni 2015.
[3] PGI berkirim surat ke fakultas berkaitan dengan undangan menghadiri seminar/simposium/konsultasi.
[4]Melalui Bendahara Ekumindo, bapak Drs. Huub Lems, SH. Bantuan ini berdasarkan  percakapan kami dengan bapak Lems pada tanggal  6 Februari 2015, dan  diikuti dengan surat permohonan  ( Proposal). Berita gembira dari bapak Lems  pada tanggal 12 Maret 2015 melalui surel bahwa permohonan kami mendapat tanggapan positif  melalui Dana Puti’a (dana almarhum Duyverman yang pernah melayani di  Bolaang Mongondow). Dana  dikirim melalui fakultas, dan telah diteruskan kepada yang berhak menerimanya.
[5]Marhaeni Luciana Mawuntu, STh.MSi (studi di FTeol UKSW) dan Vera Loupatty, MTeol (studi di STT Jakarta).
[6]Sebelumnya kita telah mengajukan permohonan akreditasi dengan membawa Borang Akreditasi ke BAN-PT tahun 2010, dan telah dikunjungi oleh Tim Asesor BAN-PT yaitu Dr.Daniel Nuhamara dan Dr. Samuel Hakh, pada tanggal 15-16 Desember 2010 (dokumen borang dan berita acara kunjungan tim asesor tersimpan dalam arsip fakultas).  Namun sampai sekarang hasilnya belum kami terima.Berdasarkan surat edaran dari Dikti Nomor 1897/E2.3/T/2013 tanggal 20 Maret 2013  perihal Ijin Penyelenggaraan dan Akreditasi Program Studi, butir 2 “Bagi program studi yang belum terakreditasi untuk segera mengajukan permohnan akreditasi ke BAN-PT, apabila dalam kurun waktu 6 (enam) bulan sejak surat edaran Nomor 160/E/AK/2013 terbit belum mengajukan akrediasi maka izin prodi akan dicabut dan dinyatakan tidak sah” , dan  mengacu pada Surat Edaran Nomor 160/E/AK/2013 titik  1 dan 2, maka operasional pembelajaran kita terus berjalan dengan status akreditasi C.
[7]Setelah sebelumnya dikunjungi oleh Tim Akreditor ATESEA pada 13-16  November 2013. Tim Akreditor : Dr.Liew Yoo King (Trinity Theological College, Singapore), Dr. Armando Canoy (Philippine Baptis Theological Seminary), Dr.Samuel Hakh (STT Jakarta).
[8]Lihat Lampiran Bidang Akademik.
[9]Periode ini adalah  periode kedua plus. Periode pertama tahun 2006-2010. Kemudian diperpanjang  untuk tahun 2010-2011.
[10]Permasalahan eksternal dan pergumulan internal.
[11]Dipilih oleh peserta yang mewakili sekolah-sekolah teologi dari Indonesia. Untuk Indonesia mendapat  jatah 2 orang. Saya bersama Ketua STT Jakarta Pdt. Dr. Joas Adiprasetya terpilih untuk itu.Sekolah Angota ATESEA dari Indonesia berjumlah 17 sekolah.
[12]Dewan Kurator/Penyantun.
[13]Representasi Fakultas Teologi UKIT yang pernah menjadi Pengurus PERSETIA ialah W.Langi, MTh (Anggota, 1973-1975), Dr. W.A.Roeroe  (Wakil Ketua, tahun  1975-1978, 1990-1994), Maria Assa, M.Min (Anggota, tahun  1998-2002),  Richard .A.D.Siwu, PhD (Wakil Ketua II, tahun 2002-2006) dan Karolina A. Kapahang-Kaunang, MTh (Wakil Ketua II, tahun 2006-2010). Lihat Yusak Soleiman, Hendrik Ongirwalu, Epifania L.M.Raintung (penyunting), Vivat Crescat Floreat.Belajar dan Bertumbuh Bersama, Refleksi atas Setengah Abad PERSETIA.Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2014, hlm. 252-255.
[14]Mission 21 (M21) adalah Badan Misi Internasional yang berpusat di Basel-Switzerland. Kita patut berbangga bahwa yang menjadi Koordinator Program Mission 21 untuk Regio Indonesia-Malaysia adalah para tamatan S1 FTeol UKIT, yaitu Pdt. Joyce Manarisip,STh, MSi. Sebelumnya dijabat oleh Pdt. Welman Boba,MTh
[15]Terjadi pergantian Pembantu Dekan Bidang Administrasi Umum dan Keuangan (PD2) pada bulan Juli 2012.  Pdt. Telly Djenni Momongan, ThM mengundurkan diri dan diganti oleh Pdt. Johanna P. Setlight, MTh.
[16]Data-data lainnya dapat dililihat dalam web fakultas : www.fteologi.uki-t.ac.id dan web
   perpustakaan : http://libfeolukit.ddns.net
[17]Disusun mulai tahun 2011.
[18]Dibawa langsung ke Jakarta oleh Ketua Program Studi, Helena J.Tandiapa, MTeol.
[19]Belum dapat dikirim secara online ke Dikti.
[20]Dalam keadaan keuangan yang minim, karena hanya mengandalkan dana dari mahasiswa, kami dapat menaikkan  sebesar :  pertama 15%, kedua 10%.
[21]Diikuti oleh Denni H.R.Pinontoan, MTeol dan Kemelien Ondang, STh.MSi, MTh. Juga para dosen mengikuti
Studi Institut tentang Metodologi Riset Ilmu Teologi pada bulan November 2012, lihat titik 11.
[22] Lihat Lampiran Khusus.
[23]Diedit oleh Karolina Augustien Kaunang dan Denni H.R.Pinontoan.
[24]Diedit oleh Karolina Augustien Kaunang.
[25] Nyonya dan tuan rumah menyediakan konsumsi, akomodasi, transportasi lokal, perlengkapan.
[26] Kami berterima kasih kepada semua donatur. Hal ini kami nyatakan dengan memberikan surat ucapan terima kasih.
[27]Belum dapat diteruskan ke Kopertis/Dikti karena permasalahan institusional yang belum selesai tuntas. Jabatan Fungsional kepada 17 dosen terakhir kami dapatkan pada Agustus 2006 dengan rician  8 orang sebagai Lektor, dan 9 sebagai  Asisten.
[28]Pada dasarnya semua bidang studi sudah perlu merekrut dosen-dosen muda. Namun sesuai dengan Program tahun 2011-2015, dicatat bahwa yang akan direkrut adalah dosen untuk bidang studi  Praktika, Biblika dan Sistematika.  Tetapi periode ini  kami merekrut dosen muda untuk bidang Sejarah Gereja, yaitu Dr.Max Edward Tontey.
[29]Padahal Dekan telah mengeluarkan SK tentang Penanggung Jawab Penerbitan/Tim Editor  yang dilengkapi dengan  Mitra Bestari yaitu Dr. Mery Kolimon, Prof.Dr. James Haire, Prof.Dr. Olaf Schumman, Prof.Dr.Yohanes Ohoitimur, Prof.Dr.J.A.B.Jongeneel,SH.
[30] Hanya ada audit internal yaitu oleh Tim Verifikasi.
[31]  Yang dapat dilakukan ialah mengecat dan mempberbaiki tempat duduk/bagian dalam mobil Kijang pada bulan November 2014.
[32] Sivitas (dosen, mahasiswa dan pegawai) pernah mengadakan retreat dalam rangka bergumul bersama dengan GMIM yang akan melaksanakan Sidang Majelis Sinode Maret 2014, Februari 2014. Tempat pelaksanaan di rumah/ perkebunan keluarga Pdt. Politton-Assa.
[33]Periode sebelumnya News Letter diterbitkan setiap semester.
[34]Periode sebelumnya dimulai oleh Pdt. Dr.A.F.Parengkuan, dan menerbitkan 2 buku.
[35]Periode sebelumnya Forum ini dimulai.
[36]Periode sebelumnya beberapa kali diadakan pertemuan ini.
[37]Yang sedang difasilitasi oleh Ketua dan Sekretaris BPMS GMIM.
[38]Sekarang ini, yang sedang studi lanjut full time adalah Marhaeni L. Mawuntu, STh,MSi  di UKSW dan Vera Loupatty,M.Teol di STT Jakarta. Ada pula dosen yang sedang studi lanjut sambil mengajar  yaitu Ruth Ketsia Wangkai, MTh;  Kemerlien Ondang, STh..MSi,MTh; Dra. Magdalena H. Tangkudung,MSi;  Johanna P Setlight, MTh;  Helena J. Tandiapa, MTeol; Vera E.Burhan, MTeol; Leonard Masalamate, MTeol; Denni H.R.Pinontoan, MTeol;  Meiva Lintang, STh.
[39]AJT ini dikelola oleh ATESEA.Salah seorang koordinator kotributor penulisan dari Fakultas Teologi UKIT ialah Dr.R.A.D.Siwu, MA, PhD.
[40]Kiranya para dosen dapat membagi pengetahuannya melalui tulisan/artikel. Bukankah ini salah satu tugas penting dari seorang dosen, dan dalam rangka pengurusan dan kenaikan  jabatan fungsional ?
[41] Kami berterima kasih kepada para lulusan yang saat mengakhiri studi memberi hadiah kepada alma maternya  a.l. berupa printer/scanner, CPU, layar monitor, LCD, laptob.
[42] Antara lain ada rumah dosen yang digunakan oleh yang bukan dosen, ada asrama menjadi rumah dosen.
[43]Periode pertama tahun 2006-2010, kemudian diperpanjang sampai tahun 2011.
[44]Dalam buku yang baru terbit,  yang diedit oleh Denni H.R.Pinontoan, berjudul Semangat yang tak pernah pudar. Peringatan 50 Tahun (20 Februari 1965 – 20 Februari 2015) Universitas Kristen Indonesia Tomohon.Tomohon : UKIT Press, 2015, Bagian Kedua diberi judul “UKIT dalam Penzaliman”. Penzaliman ini adalah fakta sejarah yang  dialami bukan hanya secara lembaga, tetapi orang per orang seperti a.l. para lulusan warga GMIM yang berniat untuk melamar calon vikaris, dan oleh sebagian besar dosen yang sangat sering menelan ‘pil pahit’ disebut pembangkang, penyesat, tidak sadar institusi. Lihat tulisanku dalam buku ini, hlm. 53-73 yang berjudul “Awal Konflik : Dari Kepentingan Pribadi menjadi Keputusan Gerejawi”.
[45]Kecuali di lingkungan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Memang ada para tamatan kita yang menjadi pendeta GMIM, tetapi mereka harus mengganti ijazah  atau mengikuti ujian ulang di UKIT Wenas.
[46]  Ke depan semua hasil penelitian skripsi mahasiswa dalam bentuk soft copy/pdf juga. Demikian juga dengan hasil-hasil penelitian pascasarjana teologi UKIT.
[47]   Kebenaran telah dinyatakan dengan terbitnya Keputusan Mahkamah Agung RI No. 134 PK/PDT/2011 Tanggal 10 Mei 2011 yang menolak Permohonan Peninjauan Kembali  Yayasan Ds. A.Z.R.Wenas, dan terbitnya Akte Penyesuaian Yayasan Perguruan Tinggi Kristen GMIM tanggal 20 Februari 2013. Hanya saja pelaporan EPSBED/PDPT serta pengurusan Jabatan Fungsional Akademik di KOPERTIS/DIKTI masih mengalami kendala.
[48]  Melalui sms dari Sekretaris Umum BPMS GMIM pada bulan Juli 2011  menyatakan bahwa berdasarkan hasil rapat BPMS  tidak ada ada lagi komunikasi dengan UKIT YPTK GMIM, karena UKIT YPTK GMIM adalah illegal di mata GMIM. Sms ini adalah jawaban beliau atas surat permohonan kami untuk kiranya boleh bertemu dengan BPMS.
[49]Setelah hampir 10 tahun (Maret 2006 – kini), akhirnya Ketua BPMS GMIM periode 2014-2018, Pdt. Dr, H.W.B.Sumakul berani mengakui bahwa persoalan di UKIT ini  terjadi  karena kesalahan BPS GMIM periode sebelumnya (2005-2010). Pernyataan ini disampaikannya, didampingi oleh Sekretaris Pdt. H.C.M.Runtuwene, STh,MSi,  pada tanggal 26 Januari 2015 dalam pertemuan dengan para dosen UKIT YPTK GMIM, bertempat di Aula UKIT.  Peryataan atas kesalahan, dan memohon maaf atas kesalahan lembaga gereja di masa lampau, sungguh mulia.Inilah substansi rekonsiliasi itu sendiri.Ada pengakuan, dan ada pengampunan. Kami menunggu pernyataan tertulis dan disebarkan untuk  diketahui oleh semua anggota jemaat GMIM. Pengakuan ini berproses sejak  percakapan  Ketua, Pdt. Henny W.B.Sumakul, PhD dan Sekretaris, Pdt. Hendry  C.M.  Runtuwene, STh,MSi dengan para dosen fakultas di kampus ini pada 26 Mei 2014.
[50]   Hal ini terungkap dalam  pertemuan  pada tanggal 29 Januari 2015, bertempat di Aula UKIT YPTK GMIM, yang difasilitasi/dipimpin oleh BPMS GMIM, dengan  Pengurus Yayasan, Rektorat, Dekanat, Pimpinan Program Studi  kedua belah pihak.  Setelah pertemuan itu, kami (Dekan dan PD1) telah berinisiatif berkomunikasi dengan  Dekan dan PD1 di FTeol UKIT Wenas melalui telpon dan sms, bahwa kami siap untuk ‘bakudapa’ dan ‘bacirita’ tentang kurikulum,  namun sampai sekarang tidak ada berita lanjut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar